Kamis, 05 Mei 2016

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dengar Curahan Hati Penyuluh Agama

Hari Rabu, 4 Mei 2016, ada acara teleconference Menag dgn penyuluh agama Islam. Pokok pikiran yang disampaikan penyuluh antara lain:

  1. Beasiswa Pendidikan S2, S3.
  2. Peningkatan honorarium penyuluh
  3. Bagi penyuluh teladan dapat menjadi petugas haji.
  4. diadakannya Rakornas penyuluh
  5. peningkatan kompetensi pelatihan dan diklat
  6. Perlu Tambahan penyuluh
Jawaban Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin:
  1. Beasiswa....pak menteri akan koordinasi dg Pendis dan menjadi prioritas
  2. Sampah bisa menjadi sarana dakwah bagi penyuluh
  3. ‎Pak Menteri Agama setuju adanya tambahan penyuluh
  4. tunjangan penyuluh akan ada perubahan sdg dalam pembahasan 
  5. Akan disampaikan ke Dirjen PHU terkait penyuluh teladan utk petugas haji....

Kurang lebih...mohon dimaklumišŸ‘Œ‎

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Karya Tulis Penyuluh Agama Katolik Videlia Pontoh Engelian tentang Doa Rosario



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Karya Tulis Penyuluh Agama Katolik: Perempuan dan Penanda Zaman



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Karya Tulis Penyuluh Vinsensius Udi Prasetyo: Internet Sahabat Bagi Anak-anak



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 29 April 2016

Eusabius Minta Penyuluh Katolik Aktif Jaga Kerukunan


 

Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi mengingatkan bahwa para penyuluh agama Katolik mempunyai kewajiban dalam menjaga dan meningkatkan kerukunan intern dan antarumat beragama. Menurutnya, penyuluh harus dapat membina umat dalam memantapkan dasar-dasar kerukunan intern dan antarumat beragama, yang dilandasi nilai-nilai luhur agama untuk mencapai keharmonisan sosial menuju persatuan dan kesatuan nasional.
Hal ini disampaikan Eusabius dalam sambutannya yang diwakili oleh Direktur Urusan Agama Katolik Sihar Petrus Simbolon pada acara Pembinaan Penyuluh Agama Katolik Pegawai Negeri Sipil Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali di Kupang, Rabu (27/04).  

Selain itu, lanjut Eusabius, penyuluh juga harus mampu mengembangkan upaya preventif terhadap munculnya paham sempalan keagamaan, radikalisme. “Penyuluh perlu koordinasi ketika bekerjasama dengan lembaga terkait dialog, pengembangan wawasan multikultural dan kearifan lokal,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Eusabius berharap kegiatan yang berlangsung dari 25 – 28 April 2016 merumuskan proses kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang efektif dan  sistematis sehingga dapat digunakan sebagai pedoman para penyuluh dalam melaksanakan tugas pengabdiannya di masyarakat dengan baik.

Ketua Panitia Kegiatan, Basuki Sigit Taruno menegaskan bahwa Penyuluh Agama merupakan ujung tombak Kementerian Agama dalam melaksanakan penerangan Agama di tengah dinamika masyarakat. Peran penyuluh sangat strategis dalam membangun mental, moral, dan nilai ketaqwaaan umat serta turut mendorong peningkatan kualitas kehidupan umat dalam berbagai bidang, baik di bidang keagamaan maupun pembangunan. 
“Penyuluh Agama Katolik perlu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan kecakapan serta menguasai berbagai strategi, pendekatan, dan teknik penyuluhan, sehingga mampu dan siap melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan professional,” tuturnya.

“Penyuluh Agama Katolik mempunyai tanggung jawab terhadap pelaksanaan penyuluhan,  dan harus berusaha agar ajaran Katolik  mudah diterima oleh masyarakat,” tambahnya. (joice/mkd/mkd)

Link:  http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=35882

Selasa, 26 April 2016

Penyuluh harus Menjelaskan Masalah Narkoba dan  Radikalisme

Bahaya Narkoba dan radikalisme merupakan masalah serius. Indonesia sudah dalam kedaan darurat narkoba dan radikalisme. Jadi tenaga pastoral, dalam hal ini Katekis atau penyuluh agama Katolik PNS maupun Non PNS perlu memberikan penyadaran dan pemahaman kepada umat atau kelompok binaan mereka. 

Demikian benang merah paparan yang sampaikan Romo Sugiyana,Pr, Direktur Pastoral Sanjaya Muntilan, ketika memberikan paparannya kepada 50 orang Penyuluh Agama Katolik PNS dan Non PNS yang berasal dari Regio Jawa dan Sumatera din Yogyakarta, Kamis(14/4/2016).

Narkoba
Berangkat dari informasi seperti yang dikutipnya dari media massa, Peredaran narkoba merasuk ke semua sektor kehidupan (usia, profesi, suku, agama, jenis kelamin). Kebanyakan lulusan SMU (20-30 th). Semula mereka diajak, merasakan dan akhirnya kecanduan. Rata-rata 50 orang meninggal tiap hari karena narkoba (sekitar 12.044 orang per tahun). 

Dampaknya, narkoba mengacaukan kehidupan, merusak kepribadian dan tanggung jawab sosial serta masa depan para penggunanya. Para pengguna mengalami rusak badan dan mentalnya serta hubungan-hubungan sosialnya dengan keluarga dan masyarakat. Hidup mereka makin buruk.

Menyadari bahaya narkoba tersebut, Gereja memiliki tanggung jawab sosial untuk mengambil bagian dalam usaha penanggulangan kejahatan narkoba. Gereja meneguhkan bahwa masih ada harapan untuk sembuh dan pulih bagi para korban dan Gereja siap untuk merawat, mendampingi dan menghidupkan kembali harapan akan masa depan yang lebih baik. 


Radikalisme
Dalam paparannya, Romo Sugiyana menjelaskan bahwa selain masalah bahaya Narkoba, juga makin maraknya fenomena  radikalisme dan kekerasan. Belakangan ini perkembangan pergerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia sangatlah pesat. 

Radikalisme itu nyata melalui alam pemikiran dan gerakan-gerakan untuk melawan yang berbeda keyakinan maupun menghancurkan bangsa melalui peristiwa peledakan bom di berbagai tempat publik.

Menurut Romo Sugiyana, fenomena teroris perlu disadari dan diwaspadai.  Pertama, teror adalah kegiatan orang sesat yang sudah berlangsung sejak awal zaman. Wacana terorisme sekarang diperkeras oleh liputan media, komunikasi internet dan reaksi primordial Amerika. 

Kedua, teror adalah kegiatan biadab, acak yang tidak perlu dibela atas alasan apapun. 

Ketiga, teroris dilakukan orang sedikit dengan dedikasi banyak. Perlawanan terorisme bisa dilakukan oleh orang sedikit juga (ahli kontraterorisme) tapi karena kontra-teroris tidak sebebas teroris, upaya mereka perlu ditambah dengan dukungan orang banyak.  

Keempat, saluran dan mekanisme pelaporan harus dibuat secara fleksibel dan terbuka oleh pemerintah dan lembaga internasional tanpa dibumbui diskriminasi terhadap agama apapun.

Dalam pandangan  Romo Sugiyana, Gereja menerima sikap radikal demi kebaikan umum dan menolak sikap radikal yang menjurus pada kekerasan terhadap pihak lain. 

Gereja menerima sikap radikal. Sikap radikal adalah sikap yang mengungkapkan kesungguhan sampai pada sikap berani mati demi sebuah kebenaran yang diyakini atau keselamatan yang diperjuangkannya. Sikap ini justru menjunjung kebaikan umum

Namun Gereja  menolak Radikalisme, apalagi kalau sudah menjurus pada kekerasan terhadap pihak lain. Radikalisme atas nama ideologi atau atas nama agama yang menjurus pada kekerasan bertentangan dengan ajaran agama manapun. Radikalisme adalah memaksakan keyakinan tunggal yang didasarkan pada kepentingan pribadi (golongan). Radikalisme cenderung mengorbankan orang lain yang tidak sejalan dengan dirinya.
Untuk itulah Gereja membutuhkan katekis atau penyuluh agama Katolik untuk memberikan penjelasan atas masalah-masalah serius yang dihadapi umat, seperti  bahaya Narkoba dan radikalisme, dalam terang Injili dan sikap Gereja. Ia menegaskan, "Gereja tidak mungkin tanpa Katekis atau penyuluh agama Katolik. ANDA adalah orang yang mengantar seseorang kepada Kristus melalui kesaksian, pengajaran dan pendampingan secara terencana dan terukur. Anda mampu menjumpai orang-orang yang tidak terjangkau oleh paroki atau pelayan Gereja pada umumnya". 
 
Tugas Penyuluh Agama Katolik
Senada dengan Romo Sugiyana, Direktur Jenderal Bimas Katolik Eusabius Binsasi menegaskan bahwa penyuluh agama Katolik baik berstatus PNS maupun Non PNS harus responsif dan mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi umat atau masyarakat seperti Narkoba, Radaikalisme, LGBT dan tindak intoleransi. Para Penyuluh agama harus kreatif dan inovatif dalam memberikan penyuluhan masyarakat sadar dan paham atas bahaya narkoba dan radikalisme. Hal ini ditegaskan Eusabius Binsasi  dalam sambutannya ketika membuka pertemuan pembinaan penyuluh agama Katolik PNS dan Non PNS Regio Jawa dan Sumatera yang berlangsung dari Selasa-Jumat (12-15/04/2016) di Yogyakarta.

Pembicara lain, Direktur Urusan Agama Katolik, Sihar Petrus Simbolon, menegaskan keberadaan penyuluh agama Katolik baik PNS maupun Non PNS adalah menghadirkan negara di tengah masyarakat dengan memberikan bimbingan dan  penyuluhan atas masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Katolik melalui bahasa agama. 

Acara yang diselenggarakan Direktorat Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama ini, juga mengundang pembicara, Asri Ispawati, Widyaiswara dari Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan dan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama. Asri Ispawati, lulusan doctoral tentang kompetensi penyuluh agama, memaparkan bahwa penyuluhan terkait masalah actual bisa dilaksanakan melalui karya tulis ilmiah baik berbasis penelitian lapangan maupun berbasis studi kepustakaan. 

Pembicara lain pada hari terakhir adalah Y.B. Margantoro, wartawan senior Harian Bernas Yogya. Para penyuluh agama Katolik, dan kita semua adalah wartawan. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta kebenaran, dan menjadi orang yang disiplin terhadap kebenaran. Penyuluh agama Katolik, yang juga sebagai "wartawan" harus belajar terus menerus dan berbagi kepada sesama.
Dalam laporannya, Ketua Panitia, Pormadi Simbolon, mengatakan bahwa kegiatan ini diadakan dengan maksud memberikan pembinaan dan peningkatan kompetensi 50 orang tenaga penyuluh agama Katolik PNS dan Non PNS Regio Jawa dan Sumatera di bidang karya tulis-menulis baik yang murni ilmiah maupun tulisan ilmiah populer di media massa, agar mereka  semakin profesional memberikan penyuluhan terkait masalah-masalah aktual dewasa ini (seperti bahaya Narkoba dan radikalisme) dalam terang kebenaran Injil dan ajaran Gereja Katolik. (Pormadi, dari Yogyakarta)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.