Kamis, 28 Januari 2016

Narkoba Makin Mengancam (Modus Penyelundupan Sangat Beragam dan Cepat Berubah) - Kompas


Jaringan narkoba yang melibatkan warga negara asing dan masuk ke Indonesia kian meluas. Hal itu terbukti dengan keterlibatan warga negara Pakistan yang menyelundupkan 100 kilogram sabu. Kondisi ini menjadi ancaman serius sehingga perlu pemberantasan tegas dan keras.
Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso beserta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menggelar barang bukti berupa 100 kilogram sabu dari Tiongkok yang disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jateng, Kamis (28/1). Sabu itu disimpan  dalam 194 genset.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAKepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso beserta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menggelar barang bukti berupa 100 kilogram sabu dari Tiongkok yang disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jateng, Kamis (28/1). Sabu itu disimpan dalam 194 genset.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso, Kamis (28/1), di Jepara, mengatakan, sindikat dari Pakistan sudah diintai sejak enam bulan lalu. Bahkan, jaringan Pakistan itu disinyalir beroperasi sejak 2013. Mereka beroperasi di Jakarta, Semarang, hingga Jawa Timur.

"Kami mengawali pengungkapan kasus ini di Jakarta beberapa waktu lalu. Dari situ kemudian didalami sehingga akhirnya terungkap penyelundupan sabu di sini (Jepara)," kata Budi.

Penyelundupan dilakukan dengan modus memasukkan sabu ke dalam mesin generator set yang didatangkan langsung dari Guangzhou, Tiongkok. Sabu di dalam mesin itu ditemukan di sebuah gudang mebel di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Rabu (27/1). Setiap genset berisi 1,5-2 kilogram sabu yang dibungkus plastik dan dilapisi karbon.

Hingga kini, BNN baru membongkar 94 mesin dengan total sabu sekitar 100 kilogram. Masih terdapat 100 mesin genset lain yang belum dibuka dan dihitung kandungan sabu di dalamnya. Petugas juga menyita sebuah timbangan dan uang Rp 700 juta.

Menurut Budi Waseso, bisnis narkoba ini sangat merusak generasi bangsa. Sekitar 1,0 gram sabu saja dapat digunakan lima orang. Narkoba masih bisa masuk dari mana saja dan dengan berbagai modus. Kali ini, modus yang digunakan adalah menyembunyikan dalam mesin dan dilapisi karbon agar tidak tembus sinar-X saat pemeriksaan. Karena itu, pemberantasan harus dilakukan menyeluruh, termasuk membongkar sindikat pengedar.

content

Seluruh tersangka yang terdiri dari empat warga negara Pakistan, yakni Faiq, Amran Malik, Mohammad Riaz, dan Toriq, serta empat warga negara Indonesia, yakni Yulian, Tommy, Kristiadi, dan Didi Triyono, telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka ditangkap di Jepara dan Semarang, serta terancam hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

Penyelundupan tersebut, menurut Budi Waseso, dikoordinasi Riaz yang sudah beberapa tahun tinggal di Semarang dan beristri warga negara Indonesia. Riaz diduga bekerja sama dengan Didi yang berdomisili di Jepara untuk menyelundupkan narkoba. Didi merupakan pemilik CV Jepara Raya Internasional yang menyewa gudang di Desa Pekalongan untuk menyimpan sabu itu. Sabu tersebut akan diedarkan ke seluruh Indonesia dengan menyembunyikannya dalam produk mebel.

Di Desa Pekalongan, gudang disewa Didi selama satu tahun terakhir. Aktivitas pengiriman narkoba diketahui telah berlangsung selama beberapa kali. Warga negara Pakistan itu, diketahui melalui paspornya, kerap bepergian ke Tiongkok dan Indonesia. Warga Indonesia yang ditangkap juga kerap mengunjungi Vietnam.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyebutkan, genset didatangkan langsung dari Tiongkok oleh importir CV BT di Semarang. "Petugas kami memeriksa barang yang kami curigai ini dengan sinar-X, tetapi tidak terdeteksi," kata Heru.

Para pelaku juga mencoba mengelabui dengan mengirim 84 unit penyaring udara bersamaan dengan 194 genset berisi sabu. Barang-barang itu tiba di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada 31 Desember 2015. Kemudian, dilakukan penelusuran dan analisis terhadap barang impor itu. Pada 20 Januari 2016, barang dibongkar dan melalui pemeriksaan sinar-X.

Badan Narkotika Nasional membongkar jaringan pengedar internasional dengan barang bukti sebanyak 100 kilogram sabu yang diselendupkan dari Tiongkok dan disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis (28/1). Dalam penggerebekan petugas Badan Narkotika Nasional menangkap satu warga negara asing yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran. Sabu tersebut disimpan ke dalam 194 genset.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Badan Narkotika Nasional membongkar jaringan pengedar internasional dengan barang bukti sebanyak 100 kilogram sabu yang diselendupkan dari Tiongkok dan disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis (28/1). Dalam penggerebekan petugas Badan Narkotika Nasional menangkap satu warga negara asing yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran. Sabu tersebut disimpan ke dalam 194 genset.
Polisi berjaga di sekitar genset yang digunakan untuk menyelundupkan 100 kilogram sabu dari Tiongkok yang disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis (28/1). Dalam penggerebekan petugas Badan Narkotika Nasional menangkap satu warga negara asing yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Polisi berjaga di sekitar genset yang digunakan untuk menyelundupkan 100 kilogram sabu dari Tiongkok yang disimpan dalam gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Bate Alit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis (28/1). Dalam penggerebekan petugas Badan Narkotika Nasional menangkap satu warga negara asing yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran.

Petugas menemukan kejanggalan berupa tidak berfungsinya kait penarik yang digunakan untuk menyalakan genset. Dari sana diketahui barang tersebut berisi narkoba. Pengiriman barang terus dipantau hingga akhirnya tiba di gudang mebel Desa Pekalongan pada Selasa (26/1), dan petugas menggerebek para pelaku pada Rabu.

Tangkap buronan

YT (38), bandar ganja dan sabu bersenjatakan pistol beroperasi di Kota Malang, Jawa Timur, yang selama ini menjadi buronan, akhirnya ditangkap pada Minggu (24/1). Saat ia ditangkap di rumah kontrakannya di Kendungkandang, Kota Malang, ditemukan barang bukti berupa ganja 1,26 kilogram dan sabu 158,3 gram. Polisi juga menemukan senjata api jenis pistol yang dibawa YT selama menjalankan bisnisnya tersebut.

"Ganja yang ditemukan adalah sisa kiriman dari Yogyakarta dan Aceh. Awalnya ganja tersebut seberat 30 kg, dan telah dijual hingga tersisa 1,26 kg. YT memang pengedar ganja dan sabu partai besar sehingga barangnya cepat habis," kata Kepala Kepolisian Resor Malang Kota Ajun Komisaris Besar Decky Hendarsono, Kamis.

YT sudah diincar tim Reserse Narkoba Kepolisian Resor Malang Kota saat YT masih menjadi tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Madiun tahun 2010. Hasil penelusuran tim Polres Malang Kota, salah satu kasus penyalahgunaan narkoba di Malang dikendalikan YT yang saat itu masih mendekam di Lapas Madiun. YT mengendalikan peredaran sabu melalui telepon genggam. Saat masih di lapas, YT membentuk jaringan pengedar sabu di Malang.

 
KOMPASTVKamis (28/1/16), puluhan petugas bersenjata lengkap masih berjaga di lokasi penggerebekan gudang sabu, di Desa Purworejo, Kecamatan Bate Alit, Jepara, Jawa Tengah. Petugas terlihat membawa dua tersangka masuk ke gudang, dan akan dilakukan gelar perkara yang dipimpin Kepala BNN Budi Waseso.

YT merupakan residivis kasus narkoba tiga kali. Ia menjalani masa hukuman pada 2003 akibat penyalahgunaan ganja (dipenjara di Lapas Lowokwaru, Malang), tahun 2006 (dipenjara di Lapas Madura), dan pada 2010 (dipenjara di Lapas Madiun).

"Sejak keluar Lapas Madiun itu, YT kembali mengedarkan sabu dan ganja. Jaringannya semakin luas karena ia berkenalan dengan bandar narkoba di dalam LP tersebut. YT ditangkap petugas Polres Malang Kota setelah dua kali menerima sabu dan ganja dari jaringan tersebut," ujar Decky.

Banyak modus

Di Kalimantan Barat, Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Arianto mengungkapkan, jaringan pengedar narkoba kerap menggunakan modus operandi berbeda-beda. Mereka tidak beraksi secara konvensional lagi. Beberapa bulan lalu, misalnya, pengedar dari Malaysia berkomunikasi dengan kurir di Indonesia melalui telepon.

Kurir tidak mengenal siapa orang yang menitipkan sabu sehingga sulit ditelusuri jaringannya. Apalagi, terkadang kurir biasanya tidak mengetahui bahwa barang yang dititipkan orang yang meneleponnya adalah narkoba. Aparat hanya bisa menangkap kurir, tetapi tidak bisa mengungkap jaringannya secara utuh.

"Narkoba termasuk kejahatan lintas negara. Proses penyelidikan menjadi terbatas jika pelaku berada di negara lain. Perlu koordinasi lintas negara untuk mengetahui secara utuh sumber narkoba, proses peredaran ke Indonesia, hingga daerah sasaran penjualan," ujar Arianto. Koordinasi juga terkadang memakan waktu karena ada proses birokrasi yang harus dilewati sehingga jaringan pengedar bisa cepat mengubah modus.

Di Bali, petugas BNN Bali menangkap RR (22), perempuan yang diduga sebagai pengantar sekaligus pengedar sabu. RR ditangkap di kosnya di kawasan Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Selasa (26/1). Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen (Pol) Putu Gede Suastawa mengatakan, RR mengaku memperoleh sabu dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya.(UTI/DIA/ESA/COK)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Januari 2016, di halaman 1 dengan judul "Narkoba Makin Mengancam".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 18 Juni 2015

Penyuluh Katolik Antusias Ikuti Diklat Fungsional Berjenjang




Ciputat (Pinmas) —- “Diklat bersifat inklusif dan tidak diskriminatif’, itulah salah satu poin Paradigma Penjamian Mutu Diklat Teknis yang tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama Nomor BD/61/2012 tentang Sitem Penjaminan Mutu Diklat Teknis. Diklat merupakan hak bagi setiap aparatur sipil negara (ASN) tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Tidak hanya tertuang dalam dokumen, paradigma tersebut juga terejawantah dalam program kediklatan yang diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Diklat, baik di Pusdiklat Tenaga Administrasi, Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, maupun di 13 Balai Diklat Keagamaan seluruh Indonesia. Secara periodik, tenaga pendidik dan kependidikan serta tenaga keagamaan yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu berkesempatan mengikuti diklat.
Adalah Penyuluh Muda Katolik yang kali ini mendapat giliran mengikuti diklat di Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. Diklat yang memiliki nomenklatur lengkap Diklat Teknis Fungsional Peningkatan Kompetensi (DTFPK) Penyuluh Muda Katolik ini diselenggarakan selama 12 hari dari tanggal 15 s.d. 26 Juni 2015. Diklat diikuti oleh 40 orang Penyuluh Agama Katolik berasal dari 31 Provinsi di Indonesia. Penyelenggaraan diklat berbentuk pola kerjasama antara Ditjen Bimas Katolik dengan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.
Sesuai kurikulum, DTFPK Penyuluh Muda Katolik ditujukan untuk: (1) mengembangkan keprofesian berkelanjutan, yaitu mengembangkan kompetensi Penyuluh Agama Ahli Muda sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas penyuluh, dan (2) meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap mental Penyuluh Agama Muda untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan standar kompetensi masing-masing. Untuk mencapai tujuan, peserta akan dididik, dilatih, dibimbing, dan diarahkan melalui proses pembelajaran yang meliputi 125 jam pelajaran diklat.
Diklat yang bertempat di Kampus Diklat Kementerian Agama, Ciputat Tangerang Selatan ini dibuka pada tanggal 16 Juni 2015. Hadir dalam pembukaan, Direktur Jenderal Bimas Katolik, Kepala Badan Litbang dan Diklat, Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, dan para pejabat eselon III dan IV pada unit Ditjen Bimas Katolik dan Badan Litbang dan Diklat.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Litbang dan Diklat Abd. Rahman Mas’ud berpesan soal pentingnya mewujudkan harmoni hidup antar sesama umat manusia. Dengan menyitir puisi Mother Teresa berjudul “Any Way”, Mas’ud, sapaan akrab mantan Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan dan Kapuslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, menegaskan pesan mendalam bagi para Penyuluh Agama Katolik untuk selalu melayani ummat dengan baik, meskipun terkadang respons yang diterima malah menimbulkan derita bagi dirinya.
Sementara Direktur Jenderal Bimas Katolik, Eusabius Binsasi, dalam pengarahannya menggarisbawahi 4 hal, yaitu (1) pentingnya keselarasan pelaksanaan tugas dan fungsi Penyuluh Agama Katolik dengan visi dan misi Ditjen Bimas Katolik, (2) pentingnya peningkatan kompetensi berkelanjutan agar mampu melaksanakan tugas dan fungsi secara profesional, (3) pentingnya menyampaikan dakwah pembangunan dengan pendekatan bahasa agama, dan (4) pentingnya menjaga trilogi kerukunan, yaitu kerukunan antar umat beragama, kerukunan intern umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Khusus untuk Penyuluh Agama Katolik, Dirjen Bimas Katolik menambahkan pentingnya menjaga kerukunan dengan hirarki gereja. (efa/mkd/mkd)

Sumber Link:  http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=268600

Kamis, 12 Februari 2015

Jam Kerja Penyuluh Agama

Sehubungan dengan adanya pertanyaan jam kerja penyuluh agama, jabatan fungsional di bawah pembinaan Kementerian Agama RI, maka di bawah ini kami sampaikan beberapa hal:

  1. Penyuluh Agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melaksanakan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa agama.
  2.  Untuk itu jam kerja Penyuluh Agama Katolik sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian Agama RI berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA)  RI Nomor  28 Tahun 2013 tentang Disiplin Kehadiran Pegawai Negeri Sipil yakni diatur sebagai berikut:
  • Pasal 2: Hari kerja di Lingkungan Kementerian Agama ditetapkan 5 (lima) hari kerja per minggu, mulai hari Senin sampai dengan Jumat atau sesuai dengan ketentuan hari kerja pemerintah daerah.
  • Pasal 3: (1) Setiap PNS wajib memenuhi jam kerja 7,5 (tujuh koma lima) jam per hari; (2) Jam kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan ketentuan: a) Hari Senin s.d. Kamis hadir pukul 07.30 s.d. pukul 16.00 dengan waktu istirahat dari pukul 12.00 s.d. pukul 13.00; b)Hari Jumat hadir dari pukl 07.30 s.d. pukul 16.30 dengan waktu istirahat dari pukul 11.30 s.d. pukul 13.00.
  • Pasal 4: (1) PNS wajib mengisi daftar hadir pada setiap hari kerja dengan menggunakan sistem daftar hadir elektronik di satuan kerja masing-masing; (2) Pengisian daftar hadir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan satu kali pada saat masuk kerja dan satu kali pada saat pulang kerja.
  •  
3. Apabila melaksanakan bimbingan dan penyuluhan di luar ketentuan waktu yang telah diatur oleh PMA tersebut di atas  maka kegiatan tersebut tetap dilaporkan sebagai pelaksanaan tugas dibuktikan dengan tanda tangan penanggung jawab/pejabat yang berwenang setempat dan daftar hadir dari peserta bimbingan.

Demikian tanggapan kami semoga bermanfaat.

Jakarta, 28 Januari 2015
Kasubdit Penyuluhan

Sumber: http://bimaskatolik.kemenag.go.id/file/file/dokumen/hrqx1422602127.pdf
Dengan sedikit penyesuaian

Rabu, 26 November 2014

Pesan Natal Bersama KWI-PGI Tahun 2014: Berjumpa dengan Allah dalam Keuarga

BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA

“Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16)



Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir di dunia dan terlahir sebagai Yesus dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan saleh Maria dan Yusuf.

Melalui keluarga kudus tersebut, Allah mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Ia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16-17).



Natal: KelahiranPutera Allah dalamKeluarga

Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikannya sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palungan. Perjumpaan itu menyebabkan mereka pulang sebagai kawanan yang memuliakan Allah (Luk 2: 20). Orang-orang Majus dari Timur sampai pada Yesus dengan bimbingan bintang, tetapi pulang dengan jalan yang ditunjukkan Allah dalam mimpi (Mat 2: 12). Perjumpaan dengan Yesus menyebabkan orientasi hidup para gembala dan Majus berubah. Mereka kini memuji Allah dan mengikuti jalan-Nya.

Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib. Di situlah Allah yang selalu beserta kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan kepahitan akibat dosa walaupun ia tidak berdosa (bdk. Ibr. 4:15).

Keluarga sebagai Tanda Kehadiran Allah

Allah telah mempersatukan suami-istri dalam ikatan perkawinan untuk membangun keluarga kudus. Mereka dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi satu sama lain dalam ikatan setia dan bagi anak-anaknya dalam hubungan kasih. Keluarga merekapun menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesama. Berkat perkawinan Kristen, Yesus, yang dahulu hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf, kini hadir juga dalam keluarga kita masing-masing. Allah yang bertahta di surga tetap hadir dalam keluarga dan menyertai para orangtua dan anak-anak sepanjang hidup.

Dalam keluarga, sebaiknya Firman Tuhan dibacakan dan doa diajarkan. Sebagai tanggapan atas Firman-Nya, seluruh anggota keluarga bersama-sama menyampaikan doa kepada Allah, baik yang berupa pujian, ucapan syukur, tobat, maupun permohonan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi rumah pendidikan, tetapi juga sekolah doa dan iman bagi anak-anak.

Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah yang tinggal di surga hadir dalam dunia manusia. Kita juga mengetahui bahwa lokasi yang dipergunakan untuk beribadah disebut tempat kudus karena Allah pernah hadir dan menyatakan diri di tempat itu untuk menjumpai manusia. Karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluargapun menjadi tempat suci. Di situlah Allah hadir. Keluarga menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah.

Tantangan Keluarga Masa Kini

Perubahan cepat dan perkembangan dahsyat dalam berbagai bidang bukan hanya memberi manfaat, tetapi juga membawa akibat buruk pada kehidupan keluarga. Kita jumpai banyak masalah keluarga yang masih perlu diselesaikan, seperti kemiskinan, pendidikan anak, kesehatan, rumah yang layak, kekerasan dalam rumah tangga, ketagihan pada minuman dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan alat komunikasi yang tidak bijaksana. Apalagi ada produk hukum dan praktek bisnis yang tidak mendukung kehidupan seperti pengguguran, pelacuran, dan perdagangan manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut mudah menyebabkan konflik dalam keluarga. Sementara itu, banyak orang cenderung mencari selamat sendiri; makin mudah menjadi egois dan individualis.

Dalam keadaan tersebut, keluhuran dan kekudusan keluarga mendapat tantangan serius. Nilai-nilai luhur yang mengekspresikan hubungan cinta kasih, kesetiaan, dan tanggungjawab bisa luntur. Saat-saat kudus untuk beribadat dan merenungkan Sabda Allah mungkin pudar. Kehadiran Allah bisa jadi sulit dirasakan. Waktu-waktu bersama untuk makan, berbicara, dan berekreasipun menjadi langka. Pada saat itu, sukacita keluarga yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi, kehidupan menggereja, dan bermasyarakat tak mudah dialami lagi.

Natal: Undangan Berjumpa dengan Allah dalamKeluarga

Natal adalah saat yang mengingatkan kita akan kehadiran Allah melalui Yesus dalam keluarga. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilai- nya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.

Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga. Keluarga sepantasnya menjadi tempat di mana orang saling menguduskan dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan saling mengasihi dengan cara peduli satu sama lain. Para anggotanya hendaknya saling mengajar dengan cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyelamatkan. Mereka sepatutnya saling menggembalakan dengan memberi teladan yang baik, benar, dan santun.

Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga merekapun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir. Di situlah sepantasnya para anggota keluarga bertemu dengan Tuhan yang bersabda: ”Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 29) Dalam keluarga di mana Yesus hadir, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan.

Kami bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kami berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka.

Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia.


SELAMAT NATAL 2014 DAN TAHUN BARU 2015



Jakarta, 21 November 2014

Atas nama

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia,                         Konferensi Waligereja Indonesia,

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe                                       Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua Umum                                                                  K e t u a

Pdt. Gomar Gultom                                                         Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Umum                                                             Sekretaris Jenderal

Sumber:  http://www.mirifica.net/2014/11/26/pesan-natal-bersama-kwi-pgi-tahun-2014/

Sabtu, 15 November 2014

Pesan KWI Menyongsong Tahun Hidup Bakti 2015


“Betapa Indah Panggilan-Mu, Tuhan!”(bdk Mzm 84:2)

Saudara-saudari Umat Beriman, para Imam, Frater, Bruder dan Suster yang terkasih,

Dalam pertemuan dengan para Pemimpin Umum Tarekat Religius di Roma pada tanggal 27-29 November 2013, Paus Fransiskus mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti. Pada tahun yang sama Gereja memperingati 50 tahun dua dokumen penting Konsili Vatikan II, yaitu Perfectae Caritatis (Dekret Tentang Hidup Bakti) dan Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis Tentang Umat Allah). Kedua Dokumen ini secara khusus berbicara tentang hidup bakti. Kita juga mengenang dengan rasa syukur Dokumen Konsili Ad Gentes yang berbicara tentang peran khusus komunitas hidup bakti dalam perutusan Gereja. Tahun Hidup Bakti akan dibuka secara resmi pada tanggal 21 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 21 November 2015. Pada tanggal 21 November itu diperingati Santa Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah. Sepanjang tahun itu seluruh umat diajak untuk berdoa dan merenungkan makna hidup bakti bagi hidup dan tugas perutusan Gereja. Hidup Bakti dipahami sebagai hidup yang dipersembahkan kepada Allah dengan kesetiaan mengikuti dan melaksanakan nasihat-nasihat Injil dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan. Hidup Bakti merupakan tanda nyata dari cita-cita kesempurnaan hidup kristiani yang ditawarkan Allah kepada seluruh umat beriman.

Makna dan Tujuan Tahun Hidup Bakti

Pencanangan Tahun Hidup Bakti patutlah disyukuri sebagai ajakan kepada seluruh Gereja untuk semakin menyelami makna dan pentingnya pilihan hidup bakti sebagai salah satu bentuk panggilan khusus untuk hidup dan karya pelayanan Gereja. Lebih jauh pencanangan itu dimaksudkan untuk mengobarkan semangat dan cinta putra-putri Gereja agar semakin terbuka, lapang hati dan dengan keberanian iman menjawab panggilan Allah. Tahun Hidup Bakti patutlah dijadikan kesempatan untuk merenung dan membaharui komitmen kesetiaan kepada Tuhan, kepada pelayanan Gereja, kepada pemikiran dan cita-cita dasar pendiri tarekat masing-masing, dan kepada masyarakat pada zaman ini, meskipun ditemui banyak kesulitan dan tantangan. Kesempatan ini sungguh tepat untuk merenungkan kembali bagaimana seluruh umat beriman, khususnya kaum muda, dipanggil Allah untuk mempersembahkan seluruh hidup melalui penghayatan akan nasihat-nasihat Injil demi kemuliaan Allah dan keselamatan sesama serta keutuhan alam ciptaan. Tokoh iman yang patut dijadikan suri-teladan dalam kehidupan demikian adalah Bunda Maria, yang sungguh berserah-diri secara total kepada Allah dengan menyimpan segala perkara iman dalam hatinya dan merenungkannya.

Tujuan mulia dari pencanangan Tahun Hidup Bakti: Pertama, untuk “mengenang dengan penuh syukur masa lalu”. Kendatipun turut mengalami tantangan dari krisis yang melanda dunia dan Gereja, para pemeluk hidup bakti tetap berusaha hidup di dalam pengharapan. Gereja bersyukur karena hidup dan pelayanan tarekat-tarekat hidup bakti tidak didasarkan semata-mata atas kekuatan manusia, tetapi terlebih atas iman dan harapan kepada Allah. “Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami berani bertindak dengan penuh keberanian” (2Kor 3:12). Diteguhkan oleh sabda Kristus, para pemeluk hidup bakti memperoleh keyakinan untuk turut berucap: “Di dalam Dia, tidak ada yang dapat merampas harapan kita” (bdk. Yoh 16:22). Kedua, untuk “merangkul masa depan dengan harapan”. Pengharapan ini tidak dapat menjauhkan hidup umat beriman dari semangat untuk tetap menjalani hidup yang telah dianugerahkan Allah. Para pemeluk hidup bakti tetap berusaha mengarahkan pandangan kepada Kristus yang hidup mulia dalam kemuliaan surgawi. Ketiga, untuk mendorong para religius khususnya agar “menjalani hidup hari ini dengan penuh semangat.” Semangat hidup dengan penghayatan nilai Injili berhubungan dengan “hidup dalam kasih, persahabatan sejati, dan persatuan yang mendalam.” Tahun Hidup Bakti 2015 akan terpusat pada pewartaan Injil, dengan maksud membantu umat beriman makin memahami makna “indahnya mengikuti Kristus” yang terungkap melalui berbagai bentuk panggilan hidup membiara.

Pemeluk Hidup Bakti dan Peranannya dalam Gereja

Dalam setiap zaman ada pria dan wanita yang karena taat kepada panggilan Bapa dan dorongan Roh Kudus, berani mengikuti Kristus dan mengabdikan diri kepada Allah, dengan memusatkan perhatian pada perkara-perkara Tuhan (bdk. 1 Kor 7:34). Meneladani semangat hidup apostolik, mereka bercita-cita meninggalkan segala sesuatu, agar dengan bantuan Roh Kudus dan kebebasan pribadi melayani Allah dan umat beriman melalui penghayatan hidup bakti. Dengan cara hidup yang khusus, para pemeluk hidup bakti turut-serta menjadikan misteri Allah tetap bersinar dan misi Gereja terlaksana dengan cara yang khas. Itulah makna hidup mereka demi pelayanan umat dan pembaharuan masyarakat.

Hidup Bakti adalah suatu cara hidup khusus bagi mereka yang mengalami sapaan pribadi oleh Allah dan menanggapinya secara khas. Sapaan ini pada hakekatnya adalah sapaan kasih, yang menjadikan seorang religius menjadi teguh, bersemangat dan senantiasa gembira dalam menghayati hidup baktinya. Karena cinta yang diperoleh dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus itulah para pemeluk hidup bakti mengalami sentuhan rohani dan terdorong untuk menjadi nabi yang siap menjadi pendengar dan pelaku sabda (bdk. Luk 10: 25-37), dan akhirnya mendorong mereka menghayati panggilan hidup mistik, yang nyata dalam hidup doa yang mendalam, serta pada kepekaaan terhadap tanda-tanda zaman.

Harapan ke Depan

Konferensi Pimpinan Tinggi Antar Religius Indonesia (KOPTARI) sebagai lembaga yang menaungi tarekat-tarekat religius Indonesia telah merencanakan sejumlah hal untuk mengisi Tahun Hidup Bakti. Tema yang dipilih adalah “Mensyukuri dan Memberi Kesaksian tentang Keindahan Mengikuti Kristus sebagai Religius”. Ucapan yukur dan kesaksian itu diungkapkan dan diwujudkan dalam berbagai kegiatan.

Dalam kerjasama dengan Gereja setempat, Tahun Hidup Bakti dapat dilaksanakan dengan berbagai kegiatan untuk mengembangkan rasa syukur dan kesadaran iman atas keluhuran panggilan Allah dalam Gereja. Seluruh umat beriman, bukan hanya para pemeluk hidup bakti kami himbau dengan sangat agar berusaha menanamkan rasa syukur dan kagum atas panggilan suci dengan berpedomankan Sabda Tuhan: “Betapa indah panggilanMu, Tuhan!” Usahakan agar kesaksian hidup Injili dan sukacita sebagai orang-orang yang menjalani panggilan hidup bakti selalu terwujud dalam hidup dan pelayanan sebagai bentuk nyata kesaksian atas cinta kasih Allah.

Keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, dan terutama keluarga-keluarga Katolik diharapkan selalu membina kerjasama dengan sekolah-sekolah dan terus-menerus mendorong orang muda katolik dan putra-putri Gereja untuk turut berusaha menumbuh-kembangkan rasa cinta atas panggilan hidup bakti. Jadikanlah keluarga-keluarga sebagai lahan persemaian benih panggilan melalui doa, keteladanan iman dan kepekaan atas panggilan Allah.

Kiranya doa Bunda Allah yang termanis Perawan Maria, yang hidupnya merupakan suri teladan bagi semua orang, para pemeluk hidup bakti dari hari ke hari akan makin berkembang dan membuahkan hasil penyelamatan yang makin berlimpah.


Jakarta, 21 November 2014

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,


Mgr. Ignatius Suharyo Mgr. Johannes Pujasumarta

Ketua Sekretaris Sumber: http://www.mirifica.net/2014/11/15/pesan-kwi-menyongsong-perayaan-hidup-bakti-2015/

Pesan Sidang Tahunan 2014 KWI: Mewartakan Sukacita Injil

SAUDARI-saudara seiman yang terkasih,

Sukacita Injil, Seruan Apostolik Paus Fransiskus, 24 November 2013, ditujukan kepada para waligereja, imam dan diakon, kaum religius serta umat beriman. Dengan penuh sukacita kami, para waligereja Indonesia menyambut seruan apostolik tersebut, mempelajarinya, membuka hati, budi dan pikiran untuk memahaminya. Kami merasa berkewajiban meneruskannya kepada seluruh umat, agar hati kita berkobar untuk mewartakan sukacita Injil kepada Indonesia dewasa ini.

Agar Injil dapat kita wartakan secara tepat, kita perlu mengenal kenyataan Indonesia dewasa ini yang dari waktu ke waktu mengalami perubahan-perubahan semakin cepat, yang mencengangkan dan sekaligus mencemaskan. Dalam terang Injil kita ingin mengalami hati yang penuh sukacita karena perjumpaan dengan Kristus. Berkat daya Roh Kudus kita ingin menerima kasih Allah sebagai Bapa bagi semua. Sukacita Injil mewarnai cara baru menjadi Gereja Katolik Indonesia.

Saudari-saudara seiman yang terkasih,

Perubahan-perubahan semakin cepat

Kita sedang menyaksikan perubahan-perubahan semakin cepat karena arus globalisasi yang melanda Indonesia. Perubahan-perubahan tersebut berdampak pada kenyataan Indonesia.

Kita bersyukur atas kemajemukan budaya yang merupakan anugerah hidup bersama sebagai bangsa. Keanekragaman suku, agama, ras, dan golongan tumbuh dalam semangat bhineka tunggal ika. Perjuangan bersama sebagai bangsa merekatkan perbedaan menuju persatuan bangsa berlandaskan Pancasila. Perkembangan sikap saling menghormati demi kebaikan bersama ditempuh melintasi perubahan-perubahan zaman yang dari waktu ke waktu semakin cepat karena arus globalisasi.

Kita berprihatin karena arus globalisasi yang ditandai oleh komunikasi lintas batas negara dan budaya menggoncangkan tata nilai dan hubungan antar manusia. Batas-batas wilayah dan batas-batas budaya yang menjadi dasar jatidiri suatu bangsa menjadi kabur. Komunikasi dan pertukaran informasi yang semakin mudah dan cepat menawarkan banyak pilihan. Ketidakpastian menggantikan nilai-nilai luhur yang dipegang sebagai warisan leluhur. Hati manusia dipenuhi dengan ketamakan. Orang mencari kepuasan diri dan menganggap sesama sebagai saingan. Pola hubungan antar manusia sebagai pribadi berubah menjadi pola hubungan untung rugi, yang merendahkan martabat pribadi manusia.

Dalam hubungan antar manusia yang tidak bermartabat itu orang yang tidak memiliki kemampuan akan tertinggal, tersingkir dan tidak berdaya. Akibatnya, terjadilah ketergantungan ekonomi, kesenjangan sosial, ketidakseimbangan antara alam, manusia dan tradisi. Pertumbuhan ekonomi yang memakmurkan rakyat mengubah masyarakat menjadi konsumeris. Hadirnya penanam-penanam modal di daerah-daerah pedalaman, yang semestinya menumbuhkan semangat kerja, justru menimbulkan berbagai pertikaian dan kecemburuan sosial. Kemajuan teknologi komunikasi yang memberi peluang kerjasama malah menjadikan masyarakat semakin egois dan menutup diri. Pembangunan yang seharusnya menyejahterakan seluruh rakyat mengakibatkan kerenggangan hubungan antar manusia dan kerusakan lingkungan hidup.

Kerinduan untuk bersaudara, yang berakar pada kemanusiaan terdalam, dan bertumbuh dari keluarga sulit berkembang karena menyempitnya rasa setiakawan. Orang cenderung menghindari tanggungjawab dan mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kemanusiaan mengalami kerusakan karena hubungan antarsuku menumpulkan hati nurani. Hubungan antarumat beragama seringkali memudarkan cita-cita membangun persaudaraan sejati. Kesenjangan ekonomi-sosial yang makin lebar mengakibatkan orang kecil, lemah, miskin, tersingkir semakin tidak diperhitungkan. Manusia menciptakan berhala baru, yaitu uang, dan dengan begitu Allah disingkirkan, dan hidup manusia menjadi kosong dari pengalaman rohani.

Saudari-saudara seiman yang terkasih,

Penuh sukacita karena perjumpaan dengan Kristus

Di tengah-tengah segala perubahan yang kita saksikan, kita temukan ada yang tetap sama, tidak berubah, yaitu Yesus Kristus. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8) Pada-Nya kita belajar berdoa kepada Bapa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Kita berdoa, agar Kerajaan Allah datang, dan kehendak-Nya terjadi di bumi Indonesia seperti di surga. “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14: 17).

Mengawali seruan apostoliknya Bapa Suci menyatakan, bahwa “sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (EG. 1). Di dalam perjumpaan dengan Yesus, Sang Putra, dan dalam perjumpaan kita sebagai saudara, kita mengalami Allah, Bapa yang maharahim, suatu pengalaman rohani yang menjadi daya kekuatan bagi kita untuk mewartakan sukacita Injil kepada semua bangsa.

Dengan penuh syukur dan sukacita kita terima amanat perutusan Tuhan, “…. pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Agar Kerajaan Allah hadir secara nyata, dan Injil Kerajaan Allah tetap diwartakan, Kristus mendirikan Gereja-Nya, himpunan orang beriman Kristiani berkat baptisan air. Baptisan air tersebut menjadikan seseorang anggota Gereja, tubuh Kristus. Kita berdoa dan bersyukur, karena rahmat-Nya Gereja tumbuh, berakar, mekar dan berbuah di bumi Indonesia. Kristus membaptis dengan Roh Kudus (bdk. Mrk. 1: 8),

Roh Kudus mengubah manusia lama yang dikuasai dosa menjadi manusia baru “Roh Kudus dapat dikatakan memiliki kreativitas tak terbatas, tepat untuk pikiran ilahi, yang tahu bagaimana melonggarkan simpul-simpul permasalahan manusia, bahkan yang paling rumit dan sulit dipahami” (EG. 178) Karena daya Roh Kudus itulah yang berbeda menjadi tidak berlawanan, melainkan terpadu saling melengkapi, yang jauh tidak menjadi terpisah, melainkan menjadi dekat, yang asing menjadi saling mengenal satu sama lain sebagai saudara. Karya Roh Kudus itu kita kenali dalam peristiwa-peristiwa hidup yang mempersatukan banyak suku yang berbeda, aneka budaya dan beragam bahasa untuk membangun persaudaraan sejati, karena kesediaan melaksanakan kehendak Allah. Yesus Kristus melaksanakan kehendak Allah, Bapa-Nya, secara tuntas dengan bersedia menapaki jalan salib menuju kematiaan-Nya di Golgota. Di puncak Golgota itulah diakui, bahwa Yesus Kristus sungguh Anak Allah. Karena itu, meskipun dibunuh Ia tetap hidup.

Allah yang Mahakudus memanggil semua orang kepada kekudusan. Panggilan kepada kekudusan adalah panggilan yang mempersatukan manusia dengan Allah, dengan sesama dan dengan semua makhluk, bukan memisahkan dan menceraiberaikannya. Pengalaman manusia akan Yang Kudus membangun dalam hati setiap orang sikap kasih dan hormat kepada Allah, yang menjadi dasar bagi sikap kasih dan hormat kita kepada sesama dan semua makhluk.

Di bumi Indonesia yang majemuk beriman berarti beriman dalam kebersamaan dengan yang lain, yang berbeda agama, suku, ras dan golongan. Dialog antaragama memerlukan “sikap terbuka terhadap kebenaran dan terhadap kasih” (EG. 250) Karena itu, membangun persaudaraan sejati tidak cukup dengan sikap toleran, suatu sikap sekedar menerima yang lain karena ada. Lebih daripada sikap toleran dibutuhkan sikap kasih seorang akan yang lain, dan hormat menghormati untuk mewujudkan persaudaraan sejati antar sesama manusia dan semua makhluk, di mana Alllah menjadi Bapa bagi semua.

Allah Bapa mengangkat kita menjadi saluran kasih untuk menjumpai sesama kita terutama yang jatuh menjadi korban-korban terluka di pinggiran jalan salib kehidupan manusia. Mereka adalah kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan yang terlupakan, yang menjadi korban tatanan sistim politik, ekonomi, budaya, dan komunikasi yang tidak adil. Setiap orang beriman kristiani diutus untuk mewartakan sukacita Injil dengan hadir di dalam dunia, dan mengubahnya dari dalam laksana ragi dengan nilai-nilai Injil.

Kita umat Kristiani dipangil untuk memperhatikan mereka yang lemah di bumi, untuk melindungi dunia yang rapuh di mana kita hidup, dan semua orang di dalamnya (Bdk. EG. 209-216). Pengalaman pendampingan terhadap mereka yang lemah, yang tersisih, seperti orangtua tunggal, penderita HIV/AIDS, pengungsi, korban penyalahgunaan narkoba, anak jalanan, orang miskin dan yang terabaikan membuka kesadaran kita, bahwa dalam perubahan-perubahan yang begitu menggoncangkan itu masih ada orang yang menghargai perbedaan dan kesetaraan antarsesama manusia. Mereka itu digerakkan oleh keyakinan bahwa setiap pribadi adalah jauh lebih berharga daripada seluruh dunia. Sikap yang perlu ditumbuhkan dalam kemanusiaan kita adalah menghormati, menghargai dan membuka ruang perjumpaan.

Saudari-saudara seiman yang terkasih,

Cara baru menjadi Gereja Katolik Indonesia

Faham Gereja menurut Konsili Vatikan II, yaitu Gereja sebagai sakramen keselamatan dan persekutuan, diwujudkan dalam gereja setempat di Indonesia dengan mengembang-kan jati dirinya sebagai persekutuan komunitas-komunitas murid-murid Kristus yang menghadirkan Kerajaan Allah. Agar kehadiran Gereja menjadi sukacita bagi warganya dan masyarakat, Gereja Katolik tetap melanjutkan upayanya untuk mencari dan melaksanakan cara baru menjadi Gereja Katolik Indonesia.

Gereja sebagai persekutuan komunitas-komunitas umat beriman lahir dari persekutuan Tritunggal Mahakudus. Oleh sebab itu, hendaklah Gereja masuk ke dalam misteri persekutuan dengan Allah, mengalami dan merasakan perjumpaan pribadi dengan Allah sendiri melalui doa, kontemplasi, dan sakramen-sakramen terutama Ekaristi, sumber dan puncak hidup beriman, serta sakramen tobat. Perjumpaan dan persekutuan pribadi dengan Allah dan dengan yang lain menjadi sumber sukacita sejati yang menjiwai dan mendorong Gereja untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa. Kabar sukacita yang diwartakan hendaklah bertumbuh dari Kristus sendiri yang berbicara dan menyapa manusia melalui Kitab Suci.

Persekutuan dengan Allah mendorong Gereja untuk keluar dari dirinya sendiri, melewati lorong-lorong kehidupan untuk merangkul semua orang, dan menjumpai mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan yang terabaikan. Kepada siapa pun yang dijumpai, Gereja diutus untuk membawa cintakasih dan kegembiraan, perdamaian dan keadilan, persatuan dan persaudaraan sejati. Pintu Gereja terbuka untuk siapa saja, Gereja adalah rumah bagi semua orang. Di dalam Gereja Kristus tidak ada orang asing, karena semua orang adalah saudara.

Dalam menjalankan perutusannya untuk mencari dan menjumpai orang lain dan dunia sekitarnya Gereja berupaya menampilkan wajah Allah yang maharahim dan berbe-laskasih, peka terhadap bimbingan Roh Kudus untuk selalu menyadari misteri ilahi di tengah segala kenyatan dan peristiwa yang terjadi. Roh Kudus menjadi daya kekuatan bagi kita untuk memantapkan iman, meneguhkan harapan akan masa depan yang lebih baik, dan memancarkan kasih yang mempererat tali persaudaraan antar semua orang, di mana Allah menjadi segala bagi semua.

Agar dapat melaksanakan perutusan tersebut, Gereja harus bersedia membarui diri terus-menerus dalam bimbingan Roh Kudus, dan membenahi tata organisasinya. Gereja menjadi bermakna bagi dunia dewasa ini dan tidak kehilangan kredibilitasnya. Kehadiran dan pelayanan Gereja semakin berbuah sukacita bagi siapa saja dan apa saja. Pembaruan diri Gereja semakin berdampak, bila para gembala menjadi teladan dalam pelayanan bagi seluruh umat. Keteladanan para pemimpin yang sederhana membangkitkan harapan akan kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan nilai dan suara hati yang dilakukan sejak dini mewujud dalam Gereja yang merangkul setiap perbedaan demi persaudaraan sejati.

Saudari-saudara seiman yang terkasih,

Seruan Apostolik “Sukacita Injil” kami harapkan menjadi bahan pembelajaran yang berkelanjutan bagi kami sendiri para waligereja, para imam dan diakon, kaum religius serta umat beriman untuk mencecap kesegaran dari Injil, sumber suka cita bagi kita yang menjadi saksi Kristus pada zaman sekarang ini

18. Kita bersyukur bersama Maria, bunda evangelisasi, yang telah menerima kabar sukacita dari malaikat Tuhan, dan mewartakan kabar sukacita itu pertama-tama kepada Elisabeth, dan selanjutnya kepada Gereja dan melalui Gereja kepada seluruh dunia. Sesuai dengan teladannya marilah kita semua bertekun dan setia menapaki jalan salib kehidupan, dan secara kreatif mengembangkan cara baru menjadi Gereja Katolik Indonesia, sehingga Gereja menjadi sukacita bagi dunia. Terpujilah Yesus Kristus kini dan sepanjang masa!

Jakarta, 5 November 2014

Konferensi Waligereja Indonesia,

Mgr. Ignatius Suharyo
K e t u a

Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

SUmber: Mirifica.net