Tampilkan postingan dengan label ajaran agama Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajaran agama Katolik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Contoh Materi Penyuluhan Agama Katolik untuk Kategori Masyarakat Umum

Yesus mewartakan Kerajaan Allah
(ilustrasi: mely-phoenix7aurora.blogspot.com/
Di bawah ini disajikan contoh materi penyuluhan agama Katolik untuk kategori Masyarakat Umum. Materi ini merupakan hasil pertemuan penyusunan materi penyuluhan agama Katolik yang diikuti para penyuluh agama Katolik PNS sebanyak 30 orang dari berbagai Provinsi di Indonesia di Bogor dari tanggal 25 s.d. 30 Agustus 2013
===================
HIDUP DALAM SEGALA KELIMPAHAN

Proses Penyuluhan:
LAGU PEMBUKAAN: ...............(Dengan Gembira, PS 319)

TANDA SALIB


SALAM PEMBUKAAN
Semoga Allah, Sumber segala harapan, melimpahkan penghiburan iman kepada kita sekalian.
Sekarang dan selama-lamanya...

TEMA

Selamat..... Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian yang kami kasihi dalam Kristus. Pertemuan kita kali ini akan mengusung tema KELIMPAHAN HIDUP. Semoga dari tema ini kita nantinya akan mendapatkan pemahaman yang relatif lebih baru tentang makna sesungguhnya kelimpahan hidup menurut Yesus dalam Yoh. 10:10.

PEMERIKSAAN BATHIN

Agar pantas dan layak kita mengundang Tuhan dalam kegiatan ini, marilah kita menyesali semua dosa dan kesalahan kita. Hening sejenak....Saya Mengaku...

ABSOLUSI: 

Semoga Allah yang Maha Rahim, mengampuni dosa-dosa kita serta berkenan menganugerahkan kepada kita kehidupan yang kekal. Amin.

DOA PEMBUKAN:

Allah Bapa, Sumber Pengaharapan kami. Kepada-Mu kami haturkan sembah dan syukur kami atas setiap anugerah dan rahmat yang kami terima. Kami mohon, kiranya Engkau berkenan untuk hadir bersama kami saat ini agar kami mampu menyelami kehendak-Mu bagi hidup kami melalui kegiatan penyuluhan yang saat ini kami laksanakan. Kiranya kegiatan ini menjadi satu pujian bagi nama-Mu, kini dan sepanjang Masa. Amin

PENYAMPAIAN MATERI PENYULUHAN

Pertanyaan Pretest: 

- Apa perasaan anda setelah menyimak video tadi?

- Apakah Nick menurut Anda hidup dalam kelimpahan?

- Apa yang Anda ketahui tentang Hidup dalam Kelimpahan?

- Menurut Anda, apakah yang harus kita lakukan jika ingin hidup dalam Kelimpahan? 
Menguraikan Materi: 

Yoh 10:10

..........Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.


KELIMPAHAN HIDUP

Lebih Dari Sekadar Kekayaan Material-Finansial



Setelah kita memahami ilmu (resep / kunci / kiat)-nya, kita tahu bahwa kelimpahan harta benda dan uang yang kita inginkan pasti dapat diperoleh. Tetapi, hanya menginginkan dan memperoleh kelimpahan harta benda dan uang semata pasti akan membuat kita tetap merasa kekurangan. Kita akan merasa bahwa apa yang kita inginkan dalam hidup kita belum seutuhnya terpenuhi. Kita akan merasa bahwa masih ada hal lain yang juga kita butuhkan namun belum kita miliki. Bahkan, hanya menginginkan kelimpahan harta benda dan uang semata bisa menyesatkan.



Karena itu, kita perlu menyesuaikan atau menyelaraskan persepsi kita dengan pengertian ”kaya” sebagaimana dimaksud oleh Tuhan Yesus. ”Kekayaan” sebagaimana dimaksud oleh Tuhan jauh melampaui kelimpahan harta benda dan uang semata. Di samping kelimpahan harta benda dan uang, kita bisa dan boleh mencari, mendapatkan, dan menikmati bentuk-bentuk kekayaan yang lain, karena Tuhan justru menghendaki agar kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, dalam segala bentuk kekayaan (bdk. Yoh.10:10 – Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan; sangat jelas dan eksplisit bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hidup dalam serba kekurangan atau hanya memiliki salah satu bentuk kekayaan saja; sebaliknya, Tuhan menghendaki agar kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, mempunyai hidup dalam segala kekayaan).

Maka dari itu, kita perlu mengenal jenis-jenis kekayaan yang lebih dari sekadar kelimpahan harta benda dan uang, yaitu jenis-jenis kekayaan yang kekal dan agung, yang meliputi juga kekayaan spiritual dan kekayaan mental. Kekayaan yang kekal dan agung ini justru harus kita miliki seluruhnya dan seutuhnya; bukan karena serakah, tetapi karena -kalau kita hanya mengejar salah satu jenis kekayaan- kekayaan yang kekal dan agung justru tidak dapat kita miliki dan kita nikmati.

“Hidup dalam segala kelimpahan” mencakup:

Kekayaan2 Agung dan Kekal yakni:

Kekayaan Spiritual
a. Iman
b. Pengharapan
c. Kasih

Kekayaan Mental
a. Sikap Mental Positif
b. Kedamaian Pikiran
c. Keterbukaan Pikiran
d. Disiplin Diri
e. Kemampuan Memahami Orang Lain
f. Kemampuan Membina Hubungan Manusia dalam Keselarasan “Hidup dalam segala kelimpahan” ………

Kekayaan Material

a. Kesehatan Fisik
b. Keamanan Ekonomis (Kemakmuran Material-finansial).

Penjelasannya:

1. Kekayaan Spiritual

Tidak ada keberhasilan besar dan terus-menerus yang dicapai atau dapat dicapai oleh seseorang kecuali orang tersebut mengakui dan menggunakan kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual, walaupun tidak nampak / tidak berwujud, merupakan yang terbesar dari semua kekuatan.

Kekayaan Spiritual ……….

a. Iman 

Iman merupakan kekayaan, karena Iman adalah kekuatan adikodrati (supernatural) yang memungkinkan manusia memperoleh apa saja yang dipercayainya dapat diperolehnya, bahkan kekayaan surgawi sekalipun. Iman adalah kekuatan misterius yang menakjubkan, yang mencengangkan banyak ilmuwan selama berabad-abad, karena:

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Dengan Iman, seseorang dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh semua uang yang ada di dunia ini;

Iman adalah kekuatan yang tiada bandingnya dan tidak mengenal kata “mustahil”;

Iman adalah dasar dari semua yang dinamakan keajaiban, mukjijat, dan dari banyak misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan;

Iman memungkinkan kita untuk mencapai apa saja yang dapat kita pahami dan kita yakini;

Kekayaan Spiritual: Iman ………


Dengan Iman, pikiran seseorang dapat berhubungan secara langsung dengan sumber besar universal, yaitu Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah;

Melalui Iman, Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta memberikan bimbingan kepada seseorang menuju semua hal yang diinginkannya; kekuatan bimbingan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta ini tidak akan membawa sesuatu yang diinginkan seseorang, melainkan akan membawa orang tersebut pada pencapaian obyek yang diinginkannya; 

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Jika dipadukan dengan doa, Iman menjadi “bahan kimia” spiritual yang memberikan hubungan langsung dan cepat antara seseorang dengan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta;

Melalui Iman, yang dapat disebut “dorongan utama jiwa”, maksud-maksud, hasrat, dan tujuan seseorang dapat diterjemahkan / dijelmakan menjadi kenyataan fisik atau finansial;

Iman membimbing semua usaha manusia yang konstruktif, merupakan penyebab utama dari semua kemajuan manusia, dan benteng utama peradaban;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman adalah sebab paling mendasar dari perkembangan peradaban yang mengarah pada kebebasan setiap manusia;

Iman memberikan kekuatan, inspirasi, dan tindakan bagi pikiran yang positif;

Iman adalah kekuatan yang menyebabkan pikiran yang positif menjadi sebuah “elektro magnet” yang secara pasti menarik imbangan fisik dari pemikiran yang diekspresikannya;

Iman memberikan kepanjangan akal daya kepada pikiran yang memungkinkan pikiran untuk memanfaatkan semua yang datang kepadanya;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman mengenali kesempatan-kesempatan yang baik dalam setiap keadaan hidup seseorang dan dapat menyediakan cara untuk mengubah kegagalan ataupun kekalahan menjadi keberhasilan;

Iman memungkinkan orang untuk menembus ke dalam rahasia-rahasia Alam dan memahami bahasa Alam seperti diekspresikan dalam semua hukum alam;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman adalah tanah subur dari kebun pikiran manusia di mana dapat dihasilkan semua kekayaan hidup;

Iman adalah “multivitamin abadi” yang memberikan kekuatan kreatif dan tindakan bagi impuls pikiran;

Iman adalah kekuatan yang mampu mengangkat orang-orang kecil dan sederhana ke tingkat keagungan;

Iman adalah ungkapan rasa terima kasih atas hubungan manusia dengan Penciptanya.

Kekayaan Spiritual …………..

b. Pengharapan 

Pengharapan merupakan kekayaan, karena:
Kekayaan Spiritual: Pengharapan ………….
Pengharapan adalah pelopor dari Iman;
Pengharapan menguatkan seseorang dalam masa darurat, di mana –tanpa pengharapan- ketakutan akan mengambil alih;
Pengharapan adalah dasar dari bentuk kebahagiaan yang paling dalam;
Pengharapan membuat jiwa manusia berjaga-jaga dan aktif, serta membebaskan jalur komunikasi seseorang dengan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta;

Kekayaan Spritual: Pengharapan ………….

Pengharapan adalah agen dan dekorator ilahi untuk bentuk-bentuk kekayaan hidup lainnya;
Pengharapan adalah ibu yang melahirkan tindakan, antusiasme, vitalitas, optimisme, kegigihan, keuletan, dan banyak lainnya, di mana dengan ini semua, kita dapat mentransformasikan keinginan menjadi kenyataan fisik / material.

Kekayaan Spiritual ……………

c. Kasih

Kasih merupakan kekayaan, karena:
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..
Tidak ada manusia yang lebih kaya daripada dia yang melakukan pekerjaan atas dasar kasih dan yang sibuk melibatkan diri dalam pelaksanaannya, karena pekerjaan yang dilakukan tanpa mengharapkan bayaran merupakan bentuk tertinggi dari pengungkapan keinginan manusia. 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..


Pekerjaan adalah perantara antara tuntutan dan pemenuhan semua kebutuhan manusia, pelopor dari semua kemajuan manusia, media pewujudan imajinasi manusia. Semua pekerjaan yang dilakukan atas dasar kasih bersifat suci, karena pekerjaan itu mendatangkan sukacita pengungkapan diri (aktualisasi diri) bagi orang yang melakukannya. 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Jika seseorang melakukan hal yang paling dia sukai, maka hidupnya akan diperkaya, jiwanya akan dipenuhi, dia akan menjadi inspirasi untuk Pengharapan dan Iman, juga dia akan menjadi dorongan semangat bagi semua orang yang berhubungan dengannya (relasi-relasinya). 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Sukacita karena keterlibatan dalam pekerjaan yang dilakukan atas dasar kasih adalah obat paling mujarab bagi kemurungan jiwa, frustrasi, dan ketakutan; dan itu merupakan pembangun dari kesehatan fisik yang tiada taranya.

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..
Seseorang yang tidak mempelajari seni membagi berkat dengan orang lain tidak menemukan jalan yang benar menuju kebahagiaan yang abadi, karena kebahagiaan hanya timbul dari membagi berkat dirinya. 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Kebahagiaan terletak bukan pada memiliki, tetapi pada melakukan, yaitu membagikan berkat-berkatnya (mengaktualisasikan / menyatakan kemurahan hatinya). 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Jika hasrat atau dorongan seseorang untuk meminta atau mengharapkan imbalan masih lebih besar ketimbang hasrat atau dorongan untuk memberi dan membagi berkat, maka orang tersebut belum benar-benar kaya. Hanya orang yang memiliki hasrat atau dorongan untuk memberi dan membagi berkatlah yang benar-benar kaya.

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Ruangan yang ditempati seseorang di dalam hati orang lain sangat ditentukan oleh pelayanan yang diberikan orang itu melalui suatu bentuk berbagi. Semua kekayaan dapat ditambahkan atau dilipatgandakan dengan proses berbagi yang sederhana, apabila kekayaan itu berguna bagi orang lain (bdk. Kisah Lima Roti dan Dua Ikan yang mampu memberikan kekenyangan kepada ribuan orang di Mat 14:13-21, ”Yesus memberi makan lima ribu orang”; atau paralelnya: Mrk 6:30-44, Luk 9:10-17, atau Yoh 6:1-15). 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Tentu saja ada batas dalam hal pemberian fisik, namun semangat membagi berkat, semangat kemurahan hati, tidak ada habisnya. Kelalaian atau penolakan untuk membagi berkat adalah cara yang pasti untuk memutuskan jalur komunikasi antara seorang manusia dan jiwanya. 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Kasih adalah dorongan dari dalam diri (hati / pikiran) seseorang untuk membahagiakan dan memuliakan orang lain. 

2. Kekayaan Mental:

a. Sikap Mental Positif

Semua kekayaan, termasuk juga kekayaan material / finansial, dimulai sebagai suatu kondisi mental (pikiran). Sebaliknya, yaitu tiadanya kekayaan, termasuk tiadanya kekayaan material / finansial, juga dimulai sebagai suatu kondisi mental (pikiran). 

Kekayaan Mental: Sikap Mental Positif ……….

Sikap mental seseorang memiliki daya magnetik yang menarik kepadanya materi yang setara dengan semua ketakutan, keinginan, keraguan, dan keyakinan. Sikap mental juga merupakan faktor yang menentukan apakah doa seseorang mendatangkan hasil negatif atau positif. Sikap mental tidak lain adalah sebab kecil untuk sesuatu yang menakjubkan. Sikap mental negatif akan menarik kondisi-kondisi negatif (kemiskinan, kesengsaraan, kegelisahan, kegagalan, frustrasi, dll.); 

Kekayaan Mental: Sikap Mental Positif ……….

sedangkan sikap mental positif akan menarik kondisi-kondisi positif (kekayaan, kebahagiaan, kedamaian hati, kegembiraan, keberhasilan, optimisme, dll.). Karena daya tariknya yang kuat dalam mendatangkan kondisi-kondisi positif inilah sikap mental positif merupakan sebuah kekayaan.

Kekayaan Mental ……….

b. Kedamaian Pikiran (kebebasan dari ketakutan / kekuatiran)

Kedamaian pikiran merupakan kekayaan, karena tanpa kedamaian pikiran, seseorang tidak dapat benar-benar menjadi kaya. Kedamaian pikiran adalah lebih dari sekadar keadaan yang tenang. Kedamaian pikiran, pada saat yang sama, adalah tenang dan dinamis; atau, dapat dikatakan, dasar yang tenang dan dinamika hidup berada di atasnya.

Kedamaian pikiran mewujudkan dirinya dalam banyak cara, antara lain: 

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kekuatan-kekuatan negatif yang dapat menguasai pikiran, dan kebebasan dari sikap negatif seperti kekuatiran dan perasaan rendah diri;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari perasaan berkekurangan;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari penyakit mental dan fisik jenis apa pun yang ditimbulkan oleh diri sendiri, yang secara kronis merendahkan kehidupan;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari semua ketakutan;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kelemahan umum manusia yang mencari sesuatu secara cuma-cuma;

Kedamaian pikiran adalah memiliki sukacita atas pekerjaan dan prestasi;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menjadi diri sendiri;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan memeriksa sikap terhadap kehidupan dan terhadap sesama manusia, dan selalu menyesuaikan sikap ini agar menjadi lebih baik;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menolong orang lain agar orang tersebut dapat menolong dirinya sendiri;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kecemasan tentang apa yang akan terjadi setelah meninggal;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan melakukan sesuatu melebihi tanggungjawab dalam semua hubungan antar sesama manusia;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan berpikir dalam bentuk apa yang ingin dilakukan, dan bukannya memikirkan hambatan-hambatan yang mungkin menghalangi jalan; 

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menertawakan kemalangan kecil yang mungkin dialami;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan memberi sebelum memperoleh;

Dan seterusnya.

Kedamaian pikiran mencakup bidang yang luar biasa luas. 

Orang yang diperbudak oleh ketakutan / kekuatiran tidak dapat disebut kaya atau bebas. Ketakutan / kekuatiran adalah pertanda kejahatan, suatu penghinaan kepada Sang Pencipta yang telah memperlengkapi manusia dengan kemampuan untuk menolak apa saja yang tidak diinginkannya. 

Kedamaian pikiran ……….

Kita perlu selalu berusaha untuk mengamati secara mendalam jiwa kita dan untuk memastikan bahwa tidak satu pun ketakutan dasar bersembunyi di dalam diri kita. Apabila semua ketakutan diubah menjadi Iman, kita akan tiba pada titik dalam hidup kita di mana kita dapat menguasai pikiran kita sendiri;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………….

dan melalui penguasaan atas pikiran itu, kita dapat mencapai semua yang kita inginkan dalam hidup serta menolak semua yang tidak kita inginkan. Kedamaian hati hanya akan dialami, apabila semua jenis ketakutan telah ditaklukkan dan kekuatiran disingkirkan. Tanpa kebebasan dari ketakutan dan kekuatiran ini, tanpa kedamaian pikiran, jenis kekayaan hidup lainnya tidak akan berguna.

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………….

Kedamaian pikiran membantu kita menjalani kehidupan kita sesuai dengan keperluan kita sendiri, dengan nilai-nilai yang kita pilih sendiri, sehingga setiap hari kehidupan kita menjadi semakin kaya dan semakin hebat.

Kekayaan Mental ……


c. Keterbukaan Pikiran

Pikiran yang terbuka menjaga seseorang secara abadi dalam proses pendidikan dan perolehan pengetahuan untuk dapat menguasai pikirannya dan mengarahkannya kepada pencapaian tujuan yang diinginkan. Pendidikan seseorang tidak akan pernah selesai. Hanya orang yang mempertahankan pikiran terbukalah yang benar-benar terpelajar, dan -dengan demikian- siap untuk menerima serta menggunakan semua bentuk kekayaan yang besar. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang selalu dan setiap waktu toleran pada dan siap menerima semua hal, semua orang. 

Pikiran yang tertutup mengurangi dan memutuskan jalur komunikasi antara seseorang dengan Intelegensi Tak Terbatas Sang Pencipta. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Orang yang memiliki tujuan utama dalam hidupnya, tujuan yang mulia dan pasti, harus selalu belajar; dan dia harus belajar dari setiap sumber yang memungkinkan, terutama sumber-sumber yang dapat memberinya pengetahuan khusus dan pengalaman yang berhubungan dengan tujuan utamanya tersebut. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Orang yang memiliki tujuan utama dalam hidupnya membiasakan diri dengan penuh tanggungjawab untuk membaca buku-buku / bacaan-bacaan yang berhubungan dengan tujuan tersebut; dan dengan demikian, memperoleh pengetahuan penting yang berasal dari pengalaman orang lain yang telah mengalaminya / mengetahuinya terlebih dahulu.

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Program bacaan harus direncanakan secara cermat sebagai makanan sehari-hari; dan tanpa “makanan” itu, seseorang tidak dapat bertumbuh secara rohaniah. Membaca serampangan mungkin memberikan kesenangan, tetapi jarang bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama seseorang.

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Selain bacaan, rekan-rekan atau relasi-relasi juga merupakan sumber pendidikan. Dengan memilih rekan-rekan atau relasi-relasi dengan cermat, seseorang dapat bersekutu dengan orang-orang yang dapat memberinya pendidikan bebas melalui percakapan biasa.

Kekayaan Mental ………..

d. Disipilin Diri

Disipilin diri adalah satu-satunya cara yang membuat seseorang dapat sepenuhnya menguasai pikirannya sendiri dan mengarahkannya kepada pencapaian akhir apa pun yang mungkin ia inginkan.

Kekayaan Mental: Disiplin Diri ……..

Orang yang tidak menguasai dirinya sendiri, yang tidak menjadi tuan atas dirinya sendiri, tidak akan pernah sukses menjadi tuan atau penguasa atas sesuatu di luar dirinya sendiri. Seseorang yang menjadi tuan atas dirinya dapat menjadi tuan atas peruntungannya sendiri di dunia, dan “Tuan atas Nasibnya, Kapten dari Jiwanya”.

Kekayaan Mental: Disiplin Diri ……..

Bentuk tertinggi dari disiplin diri tercakup di dalam pengungkapan kerendahan hati setelah seseorang mencapai kekayaan yang besar atau mendapatkan pengakuan yang luas atas pelayanan yang diberikan (kekayaan / popularitas / kemasyhuran / kehormatan yang telah diperolehnya tidak mampu mengambil alih posisi dan statusnya sebagai tuan atas dirinya sendiri). 

Kekayaan Mental ………..

e. Kemampuan untuk memahami orang lain

Orang yang dapat memahami orang lain mengetahui dan mengakui bahwa semua orang pada dasarnya adalah sama, yang berkembang dari tangkai yang sama. Dia juga tahu bahwa semua kegiatan manusia, baik atau buruk, diilhami oleh satu atau beberapa dari kesembilan motif hidup dasar (4 emosi & 5 hasrat).

Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..

Kesembilan motif dasar tersebut adalah:

Emosi Cinta
Emosi Seks
Hasrat untuk memperoleh kekayaan materi
Hasrat untuk menyelamatkan diri
Hasrat untuk memperoleh kebebasan pikiran dan tubuh
Hasrat untuk mengekspresikan diri
Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..
Hasrat untuk memperoleh kehidupan kekal setelah mati
Emosi Kemarahan
Emosi Ketakutan.

Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..

Orang yang dapat memahami orang lain terlebih dahulu harus memahami dirinya sendiri, karena -dalam kondisi-kondisi yang sama- motif-motif yang mengilhaminya untuk bertindak adalah motif-motif yang juga mengilhami orang lain untuk bertindak.

Kemampuan untuk memahami orang lain adalah dasar dari semua persahabatan, dasar dari semua keselarasan dan kerjasama di antara orang-orang, dan dasar dari segala bentuk kepemimpinan yang memerlukan kerjasama yang baik.

Kekayaan Mental ………..

f. Kemampuan membina hubungan manusia dalam keselarasan
Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Ada dua bentuk keselarasan, yaitu: 

1. keselarasan dengan diri sendiri; dan 
2. keselarasan dengan orang lain. 

Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Pertama-tama, seseorang harus menetapkan keselarasan di dalam dirinya sendiri lebih dahulu; dan untuk menetapkan keselarasan di dalam diri ini, perlu penguasaan atas ketakutan, pemeliharaan sikap mental yang positif, pelaksanaan tujuan utama dalam hidup. Jika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, dia tidak akan mendapatkan kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain dalam semangat keselarasan. 

Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Perselisihan dalam hubungan antara sesama manusia seringkali merupakan akibat dari kekacauan, frustrasi, ketakutan, dan keraguan di dalam diri seseorang yang memproyeksikan / memantulkan keadaan pikiran negatif ini pada orang lain, sehingga dengan demikian membuat keselarasan tidak mungkin tercapai. Keselarasan dengan orang lain dimulai dengan keselarasan dengan diri sendiri.

3. Kekayaan Material

a. Kesehatan Fisik
Tanpa kesehatan, kekayaan material / finansial seringkali kurang berarti dan tidak dapat dinikmati. Contoh: kisah Almarhum Bapak Tjoa Soen Tie (mantan Direktur Utama PT Surya Jaya Bhakti – Jakarta. Beliau yang relatif kaya raya secara material atau finansial mengaku tak bisa menikmati kekayaannya, karena sakitnya membuat dokter menyarankan agar sangat membatasi makanan dan aktivitasnya. Dalam kondisi tersebut, beliau merasa lebih membutuhkan dan menghargai kesehatan ketimbang kekayaan material / finansial-nya yang melimpah). 

Kekayaan Material: Kesehatan fisik ………

Dalam kondisi sakit, kita sering baru menyadari bahwa kesehatan juga merupakan sesuatu yang sangat berharga; bahkan –dalam situasi dan kondisi tertentu- lebih berharga ketimbang kelimpahan uang dan harta benda. Karena itu, sesungguhnya kesehatan juga merupakan sebuah bentuk kekayaan.

Kekayaan Material: Kesehatan fisik ………

Sebagai sesuatu yang sangat berharga, kesehatan tubuh atau fisik perlu dijaga dan dipelihara dengan olahraga dan makanan yang perlu serta istirahat yang cukup, agar selalu prima dalam menjelmakan / melahirkan kekayaan-kekayaan potensial (kekayaan spiritual dan kekayaan mental) serta menikmati sukacita yang menyertainya. 

Kekayaan Material ………….

b. Keamanan ekonomis (kemakmuran material / finansial) 

Keamanan ekonomis atau kemakmuran materi tidak dicapai dengan memiliki uang saja. Keamanan ekonomis, secara esensial dicapai melalui pelayanan yang diberikan seseorang, karena pelayanan yang berguna dapat diubah menjadi segala bentuk pemenuhan kebutuhan manusia, dengan atau tanpa menggunakan uang. 

Kekayaan Material: Keamanan ekonomis ………….

(Di daerah-daerah pelosok, banyak jasa dokter yang dibayar dengan hasil pertanian; saya sendiri juga mengenal beberapa orang yang dihadiahi saham dan kepercayaan untuk mengelola sebuah perusahaan sebagai imbalan atas pelayanan yang diberikan kepada majikannya; banyak atlet yang berprestasi dan memberikan kebanggaan kepada bangsa dihadiahi rumah mewah; dll.).

Penutup:

Sekarang kita telah memahami antitesis dari kemiskinan; kita telah mengetahui bahwa kesepuluh kekayaan pertama (butir 1a s/d 3a) berada di dalam jangkauan semua orang; dan mereka yang menerima serta menggunakannya akan dengan mudah menarik kekayaan kesebelas, yaitu keamanan / kebebasan ekonomis (kemakmuran material / finansial). 

Keamanan / kebebasan ekonomis (kemakmuran material / finansial) “hanyalah” konsekuensi fisik / material dari kekayaan spiritual dan kekayaan mental; dan untuk memiliki kekayaan spiritual maupun kekayaan mental, peluang tak terbatas dan gratis telah ditawarkan kepada setiap orang.

LAGU SELINGAN (O, Rahmat = PS 600) (Kreatif Bapak Ibu saja deh....)

PERTANYAAN POST TEST: 
Apakah yang Membedakan antara kelimpahan hidup versi manusia dan versi Tuhan (Yesus)? 
Apakah Syarat yg diperlukan untuk menggapai kondisi Hidup dalam Kelimpahan? 
Apakah aku sudah hidup dalam kelimpahan sesuai dengan misi Kristus? (Refleksif) 

PENEGUHAN:
Kedatangan Yesus tidak hanya untuk membebaskan kita dari kematian kekal setelah hidup di atas dunia ini. Yesus juga sebenarnya datang untuk menolong kita mengatasi penderitaan hidup duniawi seperti kesulitan ekonomi, pekerjaan, jodoh, karier, dllsb. Kuncinya ternyata harus memiliki mental positif yang didasarkan pada sikap percaya pada apa yang dikatakan Yesus sendiri, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Dan, sebagaiman Nick di dalam tayangan yang kita saksikan tadi, kita juga diajak untuk membagikan “kelimpahan hidup” yang kita miliki kepada sesama yang lainnya, agar berkat Tuhan tidak berhenti hanya sampai pada diri kita.

DOA UMAT: 
Bagi Gereja: Ya Bapa, semoga Gereja-Mu semakin hari semakin terdorong untuk mengusahakan Hidup dalam Kelimpahan bagi seluruh jemaatnya. Kami Mohon.... 
Bagi Sri Paus: Ya Bapa, terangilah Bapa Paus kami.......... agar dalam menggembalakan Gereja-Mu selalu sesuai dengan kehendak-Mu terutama demi mewujudkan Hidup Berkelimpahan bagi segenap umat gembalaannya. Kami mohon.... 
Bagi Pemerintah Kami: Ya Bapa, tuntunlah juga para pejabat pemerintahan kami agar dalam menggariskan kebijakan publik, selalu mengedepankan prinsip kesejahteraan bersama dan bukannya golongan demi terciptanya kondisi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kami mohon..... 
Bagi Kami Sendiri: Ya Bapa, semoga berkat penyuluhan yang baru saja kami lakukan dapat memampukan kami untuk semakin bersemangat mengusahakan kesejahteraan hidup yang merata, materiil maupun spirituil tidak saja bagi diri kami sendiri tapi juga bagi orang-orang yang kami jumpai dalam pengalaman hidup harian kami. Kami mohon.... 
Spontan diperbolehkan..... 

BAPA KAMI: 

Mari kita satukan doa dan permohonan kita dengan doa yang diwariskan Tuhan sendiri kepada kita


PENUTUP

Doa Penutup:

Tuhan Yesus Kristus, Engkau berkenan mengenakan daging manusiawi demi bela rasa-Mu terhadap derita hidup kami umat manusia. Kami mohon kiranya misi mengusahakan hidup dalam kelimpahan bagi manusia yang berkenan di hadapan-Mu, bisa kami teruskan dalam kesaksian hidup kami di tengah masyarakat guna terciptanya kemakmuran yang bisa dinikmati dalam kebersamaan kami dengan mereka yang belum mengenal Dikau, Tuhan yang Meraja bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

BERKAT PENUTUP:

(+) Semoga kita sekalian, usaha2 kita dan cita-cita kita ke depan demi hidup berkelimpahan senatiasa diberkati oleh Allah yang Maha Murah: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin (+)

LAGU PENUTUP.... (Tingkatkan Karya serta Karsa)

Selasa, 11 Februari 2014

Contoh Skema: Penyuluhan Agama Katolik untuk Ketegori Remaja/ Orang Muda Katolik

Orang muda Katolik masa depan Gereja
(ilustrasi: http://youth-catholic.blogspot.com)
         Di bawah ini disajikan contoh materi penyuluhan agama Katolik untuk kategori remaja/ Orang Muda Katolik. Materi ini merupakan hasil pertemuan penyusunan materi penyuluhan agama Katolik yang diikuti para penyuluh agama Katolik PNS sebanyak 30 orang dari berbagai Provinsi di Indonesia di Bogor dari tanggal 25 s.d. 30 Agustus 2013.
    
TEMA : MENGHARGAI HIDUP

SUB TEMA : NARKOBA

HARI/TGL : .................

TUJUAN : Peserta mampu menghindarkan diri dari penyalahgunaan narkoba dan belajar hidup sehat

SASARAN : KAUM MUDA KATOLIK

METODE : Tanya jawab, Diskusi, sharing

SARANA/PRASARANA : infokus, power point, foto pengguna narkoba

PEMIKIRAN DASAR :
Pada dasarnya manusia ingin  hidup damai dan sejahtera. Hal itu mendorong manusia untuk melakukan berbagai upaya demi terwujudnya keinginan tersebut. Namun terkadang, ada cara atau upaya yang ditempuh manusia, yang ingin memperoleh kebahagiaan tetapi justru bukan kebahagiaan yang didapat tetapi kesengsaraan seumur hidup. Satu di antara cara atau upaya yang keliru dalam memperoleh kebahagiaan itu adalah dengan menggunakan narkoba.

Kaum muda merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif, seperti penggunaaan narkoba yang bisa mengakibatkan rusaknya masa depan dan pribadi kaum muda itu sendiri. Karena itu Gereja terpanggil untuk melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda saebagai salah satu cara dalam mencegah penyalahgunaan terhadap obat-obatan terlarang/ narkoba.

Dalam kitab Suci, terutamPerjanjian Baru, Paulus telah menegaskan tentang penting mengharga dan menjaga tubuh sebagi kenisah Allah : “Tidak taukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu” (1 Korintus 3:16, Bdk. 1 Kor 6:17-19). Hal yang sama ditegaskan dalam Kitab Kejadian tentang manusia sebagai citra Allah (Kejadian 1:26)

9.     LANGKAH-LANGKAH:
a.     Doa Pembuka
b.    Menyampaikan tema dan tujuan pertemuan
c.     Mengangkat fakta-fakta yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba lewat tayangan berupa foto-foto
d.    Menggugah peserta dengan mengajukan beberapa pertanyaan kritis sebagai bahan untuk memulai dialog dan diskusi
·    Apa itu narkoba dan jenis-jenisnya?
·    Mengapa kebanyakan kaum terjebak dalam penggunaan narkoba ?
·    Apa dampak atau akibat dari penyalahgunaan narkoba? (Dampak terhadap pribadi (kesehatan, psikologis) dan  sosial kemasyarakatan)
·    Bagaimana upaya kaum muda menghindarkan diri dari penggunaan narkoba?
e.     Presentasi dan penegasan beberapa point penting:
·   Narkoba singkatan dari Narkotika dan Obat-obatan terlarang
·   Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yg dpt menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi smp menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan.
·   Psikotropika adalah zat atau obat baik alami maupun sintesis bukan narkotika yang bersifat psikoakitif melalui  pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktitifitas mental dan perilaku.
·   Obat-obat terlarang adalah bahan kimia yang berbahaya yang mudah meledak, terbakar, menyalah dan yang mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia (pengguna).
·   Jenis-jenis narkoba: )
Ø  Ganja
Ø  Putauw/heroin
Ø  Cocain
Ø  Shabu
Ø  Ampetamin
Ø  Pil BK
Ø  Magadon
Ø  Extacy/inex
Ø  Caffeine
Ø  Nikotin
Ø  Alkohol
Ø  Sejenis lem aibon

·    Faktor-faktor penyebab penggunaan narkoba:
1. Faktor Pribadi
•     Pribadi yang mudah frustrasi, hal ini terjadi bila keinginannya tidak terpenuhi.
•     Kecendrungan untuk melanggar
•     Pribadi yang sulit bergaul
•     Pribadi yang ingin dianggap hebat, dalam hal ini narkoba dianggap memberi rasa hebat.
•     Pribadi yang ingin selalu mencoba
•     Pribadi yang mudah bosan terhadap sesuatu
2. Faktor Lingkungan Keluarga
o    Kurangnya perhatian orang tua dalam keluarganya, karena terlalu sibuk dengan kerjaan dan kemewahan sehingga membiarkan anaknya berlaku semaunya.
o    Ketidaklengkapan orang tua dalam keluarga, karena salah satu orang tua meninggal dunia atau karena perceraian yang biasa disebut broken home.
o    Bahkan dapat dikatakan suatu penyebab penyalahgunaan narkoba adalah lingkungan yang tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis para pelajar / remaja, karena sikap kedua orang tuanya, diantaranya sebagai berikut:
Sikap orang tua yang terlalu keras.
*  Berdasarkan kenyataan, mendidik anak tidaklah mutlak harus dengan kekerasan. Orang tua yang mendidik anaknya dengan cara keras, justru akan mendapat hasil yang sebaliknya dari apa yang diharapkan oleh para orang tua, bahkan akan mencelakan orang tua dan diri anak sendiri. Akibat perlakuan yang keras dari orang tua, anak akan membebaskan diri dan lari kedunia narkoba dan alcohol.
Sikap orang tua yang masa bodoh dengan anaknya.
*  Anak seharusnya membutuhkan bimbingan dan kasih saying orang tuanya. Anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya akan kehilangan kasih saying, sehingga anak memenuhi kebutuhan tersebut dengan mencari kesenangan dengan caranya sendiri. Salah satu yang mungkin adalah penyalahgunaan narkoba dan alkohol.
Sikap orang tua yang terlalu memanjakan anak
*  Orang tua yang terlalu memanjakan anak dapat mengakibatkan anak bersikap semaunya sebab ia merasa semua keinginannya terpenuhi.
· Akibat-akibat penggunaan narkoba :
Menyebabkan terjadinya kondisi abnormal, terjadinya ketidaksadaran, pingsan bahkan terjadi kematian.
Menyebabkan rusaknya saraf utama, system pembuluh darah, jantung, hati dan lain-lain.
Dijauhi/ditolak oleh masyarakat
Bagi para pecandu narkoba, secara ekonomis mengeluarkan biaya besar untuk membeli narkoba yang pada akhirnya bisa melakukan tindakan pencurian/krimanal demi mendapat barang yang diinginkan
Secara psikologis mengakibatkan perubahan perilaku untuk memperoleh lebih besar jumlah minuman beralkohol secara berkala atau tetap, lebih jauh daripada itu seseorang yang sudah kecanduan dapat melakukan pemerasan, penodongan, pembunuhan hanya untuk mendapatkan minuman beralkohol.
Secara fisiologis, pengguna narkoba rentan terhadap sakit dan penyakit
·         Upaya-upaya yang dapat kita lakukan adalah:
*   Memberi informasi akan bahaya narkoba dan alkohol
*   Memberi penyuluhan kepada orang muda yang belum pernah memakai narkoba dan mengkonsumsi alKohol.
*   Bekerja sama dengan pihak : orang tua, masyarakat dan lembaga penegak hokum untuk mengambil tindakan terhadap pengguna (pemakai dan penyalur ) narkoba.
*   Menigkatkan iman orang muda
*   Terlibat dalam kegiatan Gereja dan selektif dalam bergaul

·  Membaca dan mendalami teks Kitab Suci dari: 1 Korintus 3:16, 1Korintus 6:17-19 dan Kejadian 1:26

·  Memberikan beberapa  pesan dari teks Kitab Suci :
Tubuh manusia adalah Bait Allah, Bait Roh Kudus. Artinya Allah hidup dalam diri kita (1Kor 3:16)
Karena Allah hidup dalam diri kita, maka kita perlu menjaga dan merawat diri kita dengan baik. Sebab penyalahgunaan narkoba secara lansung merusak Bait Allah (1Kor 6:17-19)
Allah menciptakan manusia sebagai citra Allah, gambaran Allah (Kej 1:26)

MEMBANGUN NIAT

Apakah yang akan saya lakukan setelah mengikuti pertemuan ini, baik secara pribadi maupun bersama-sama, sehingga Anda terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan memilih cara hidup yang sehat sesuai nasehat Kitab Suci?

Peserta diberi kesempatan untuk menulis atau merancang niat secara pribadi dan bersama. Niat itu didoakan bersama pendamping.

DOA PENUTUP

LAGU PENUTUP

Minggu, 02 Februari 2014

Pengaruh Media Massa dalam Hidup Berkeluarga

Oleh: Krispinus Dombo Sina, 
Penyuluh PNS Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Pengantar

Ada pepatah mengatakan, dunia tak selebar daun kelor. Artinya dunia itu luas, tak terjangkau dan tak terselami. Tetapi itu pemahaman jaman dulu. Untuk saat ini, dimana teknologi berkembang demikian pesat, pepatah tersebut tampaknya tidak lagi menjadi pepatah. Bayangkan, dengan HP yang lebih sempit dari daun kelor, kita dapat mengakses internet dan menjelajah dunia dari benua yang satu ke benua yang yang lain tanpa batas. Apa yang Anda ingin ketahui tersedia di sana, dari berita yang ringan-ringan sampai berita yang berat-berat, gari dambar yang paling suci sampai gambar yang paling porno, dari satu hal sampai ke berjuta-juta hal. Internet, HP, Televisi, Koran, majalah, dan berbagai media massa lainnya telah merubah dunia kita. Hampir tidak ada segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh media massa. 

Di satu sisi, dengan media massa kita mendapatkan banyak kemudahan dalam hidup, kita mendapatkan hiburan yang murah dan menyenangkan, kita mendapatkan berita, ilmu dan pengetahuan yang membuat kita semakin ilmiah dan rasional. Kita dapat menjalin komunikasi dengan sanak keluarga, teman, tetangga dan orang-orang yang kita cintai dimanapun dan kapan pun kita mau, dan berbagai macam segi positif yang lain. Tetapi di sisi lain, media massa juga menimbulkan berbagai macam hal yang mencemaskan dan menakutkan. Banyak tragedi kemanusiaan, sosial dan moral yang ditimbulkan oleh pengaruh media massa. Kasus-kasus, kekerasan, pemerkosaan, penculikan, penipuan, penghasutan, isu-isu SARA dan lain sebagainya yang disebabkan oleh media massa. Dengan kata lain, media massa seperti sebuah pisau, dapat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan, sangat tergantung dari siapa dan untuk apa pisau tersebut digunakan. Pertanyaan yang harus kita renungkan terus-menerus adalah apa dampak dan pengaruh media massa, khususnya dalam hidup berkeluarga. 

1. Problematika Seputar Media Massa di Indonesia

Untuk melihat problematika seputar media massa di Indonesia, mari kita simak cerita Chappy Hakim berikut ini; “Pada suatu petang yang cerah , seorang teman saya tengah berjalan-jalan santai di Avenue des Champs Elysees, salah satu pusat keramaian di kota Paris. Tiba-tiba saja terdengar sirene polisi meraung-raung dan kemudian terlihat dua buah mobil polisi mengejar dua orang yang tengah berlari di pinggiran jalan. Empat polisi segera loncat keluar dari mobil dan segera mengejar kedua orang tersebut ditengah-tengah keramaian orang berjalan kaki. Tidak lama kemudian datang lagi dua polisi menggunakan sepeda yang langsung juga turut mengejar kedua orang tadi. Hanya beberapa menit kemudian kedua orang tersebut ditangkap dan diborgol serta diseret masuk ke mobil polisi yang segera saja langsung menghilang. Ketika ditanyakan kepada “tour guide” yang menemani teman saya itu selama berada di Paris, dia mengatakan itu biasa. Polisi menangkap pencuri atau copet atau penjahat jalanan yang kerap terjadi. Sebagian besar orang tidak begitu memperdulikannya. Lalu teman saya tanyakan di TV mana atau di koran mana besok pagi bisa dibaca beritanya. Dengan dingin dia berkata, jangan harap, karena hal-hal seperti tersebut tidak akan pernah diberitakan di mass media Perancis. Waktu ditanyakan mengapa, dia melanjutkan tidak tahu persis mengapa, tetapi banyak yang mengatakan bahwa pemerintah tidak mengijinkan pemberitaan yang negatif seperti itu, karena Perancis ingin tetap memelihara kesan aman bagi semua orang. Dengan demikian jumlah turis yang datang berkunjung ke Paris, selalu meningkat dari tahun ke tahun. Mereka akan selalu merasa nyaman untuk berjalan-jalan di kota Paris yang indah itu, melihat Arc de Triomphe, Chaps Elysees, Gereja Notre Dame, Museum dan tentunya juga Eiffel Tower”.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Negara kita. Sangat berlawanan sekali bukan? Di negara ini, berita yang laris manis untuk dilihat dan didengar justru berita-berita seputar kriminal seperti kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, penculikan, perampokan, pembunuhan, mutilasi, tawuran, pesawat jatuh, bom-bom yang meledak dan lain sebagainya yang sangat menakutkan. Tidak usah ada “travel warning”, orang sudah takut untuk datang ke Indonesia. Berita-berita lain yang menarik adalah tentang gosip-gosip perselingkuhan, kawin cerainya para artis, video mesum PNS atau anak-anak ABG, dan keborokan-keborokan moral lainnya yang terjadi di Negara ini. 

Rhenald Kasali, pernah mengeluh betapa sulitnya untuk dapat menyelenggarakan acara di TV yang “inspiring” dan “mendidik” sifatnya, dengan tujuan turut membangun karakter bangsa. Suatu kali dia berhasil mendapatkan alokasi jam siaran untuk acara yang “inspiring” dan mendidik pada salah satu stasiun Televisi di Jakarta. Namun baru berjalan satu episode, acara tersebut sudah diganti dengan acara “lawakan”. Dan ternyata selain lawakan acara sinetron tentang “setan” , sinetron opera sabun adalah merupakan jenis acara yang dapat bertahan selama ber bulan-bulan. Alasannya sederhana sekali, yaitu, mereka memilih acara yang dapat menaikkan “rating” mereka, sehingga dapat mengundang banyak pemasang iklan yang berarti meningkatkan pendapatan. 

Inilah fakta tentang media massa yang terjadi di Negara kita. Kenyataan seperti ini jelas menyedihkan bagi banyak orang yang berpikir tentang masa depan bangsa ini. Mungkin sudah saatnya kita renungkan bersama, bagaimana caranya untuk turut lebih meningkatkan lagi kualitas mass media kita dalam konteks ikut serta membangun karakter bangsa. Karakter bangsa itu sendiri haruslah dimulai dari lapisan masyarakat yang paling dasar, yakni keluarga. 

2. Pengertian, Jenis-Jenis dan Fungsi Media Massa

Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.
Jenis-jenis media massa
a. Media massa tradisional

Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti: 
Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan 
Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu. 
Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima. 
Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit. 

Macam-macam media massa tradisional; surat kabar, majalah, radio, televisi, VCD/DVD, film (layar lebar). 

b. Media massa modern

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.

Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti: 
Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya) 
Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual 
Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu 
Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam 
Penerima yang menentukan waktu interaksi 
Fungsi-fungsi media massa

Harold Laswell mengidentifikasi fungsi media sebagai berikut: 
Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan. 
Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah. 
Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan. 
Fungsi hiburan (entertainment) baik yang positif (fungsi) maupun fungsi negatif (disfungsi). 

Prof. Dr. Pdt. John Titaley, rektor dan guru besar UKSW Salatiga menyatakan bahwa pada dasarnya media, khususnya radio dan TV diciptakan oleh kaum kapitalis untuk meninabobokkan kaum proletar (kaum buruh) supaya tidak protes terhadap situasi hidup yang mereka hadapi. Dengan adanya media massa sebagai hiburan, kaum buruh dan orang-orang miskin tidak lagi berpikir tentang upah mereka yang kecil, tenaga mereka yang terkuras dan ketidakadilan yang mereka alami. Dengan kata lain, media menjadi candu bagi kaum miskin. Sementara kaum kaya dan pemilik modal dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari media massa itu sendiri. Lebih jauh Titaley juga mengatakan bahwa media massa, khususnya TV, menjadi sarana yang ampuh bagi Negara-negara kaya untuk “menjajah” Negara-negara miskin. Sebagai contoh, hampir seluruh stasiun televisi memutar film-film buatan holywood setiap harinya. Kalau, katakanlah ada 10 stasiun televisi saja, berarti ada 10 film holywood dibeli dan diputar setiap harinya. Dalam satu bulan (30 hari) berarti ada 300 film yang dibeli. Kalau setiap film seharga 25 jt. saja bararti tiap bulanya kita setor uang ke holywood 25.000.000 X 300 = 75.000.000.000/bulan. Pertanyaannya, mengapa kita membeli film-film holywood? Karena film-film holywood jauh lebih bagus dan jauh lebih murah dari pada kalau harus membuat atau membeli film dalam negeri. Belum lagi dengan produk-produk luar negeri lain yang ditawarkan oleh Negara-negara maju melalui media massa. Dengan kata lain, kita tetap “dijajah” oleh bangsa lain melalui media massa, tetapi kita tidak merasa dijajah

3. Pengaruh Media Massa dalam Hidup Berkeluarga

Seorang pakar dan guru besar tentang komunikasi massa berkebangsaan Belanda, Denis McQuail, dalam salah satu bukunya menulis tentang pengaruh media dan ciri-ciri utama komunikasi masa. Denis mengatakan menyatakan bahwa media menjangkau lebih banyak orang dibandingkan dengan institusi-institusi lainnya. Dan lebih parah lagi, Mass media sudah sejak dahulu telah “mengambil alih” peranan sekolah, orang tua, agama dan lain-lain. Institusi media sendiri sebenarnya tidaklah memiliki kekuasaan, akan tetapi insitusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara.

Lebih lanjut dia mengatakan tentang ciri utama dari komunikasi masa. Komunikasi masa memiliki ciri yang khas, yaitu : Bahwa hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu arah dan jarang sekali, bukan berarti tidak ada, yang bersifat interaktif. Kalaupun ada, maka itu terselenggara dengan tidak seimbang antara pengirim dan penerima. Pengirim biasanya akan sangat dominan karena berperan sebagai penyelenggara.Yang lebih parah lagi adalah bahwa hubungan tersebut juga bersifat im-personal, bahkan mungkin sekali akan sering bersifat non moral, dalam pengertian bahwa sang pengirim biasanya tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi pada para individu, dalam hal ini pihak penerima.

Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari: 1) Skalanya; skala kecil (individu) dan skala luas (masyarakat), 2) kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi. 

Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi massa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :

Siapa (who) 
Pesannya apa (says what) 
Saluran yang digunakan (in what channel) 
Kepada siapa (to whom) 
Apa dampaknya (with what effect) 

Pengaruh media massa pada pribadi

Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.

Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang pemirsa lihat dari media. 
Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi apa yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, dimana kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan prilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut. 
Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip "gaya rambut lupus", atau menggunakan kacamata a'la "Catatan si Boy". 
Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi "penentu", dimana mereka menentukan arah media populer saat mereka 

Probowatie, seorang pakar komunikasi sosial mengatakan bahwa pengusaha media tayang (televisi, video games, Red.) pandai benar dalam mengemas kepentingan komersialnya. Penyajian menarik, dengan bahasa yang simpel, bahkan memukau sehingga dapat mendorong ketergantungan (addiction) bagi penonton, terlebih anak dan remaja yang jiwanya belum matang.

Di samping berpengaruh positif terhadap perkembangan jiwa anak dan remaja, tentu presensi negatif pun ada. Apresiasi terhadap tayangan media ini tergantung dipandang dari sudut mana dalam memberikan penilaian baik maupun buruknya. Pengaruh buruk yang ditimbulkan televisi, video games maupun media elektronik lainnya, menurut Probowatie adalah pada perkembangan mental anak dan remaja. Dikatakannya bahwa sebuah penelitian yang dilakukan di Australia National University menyatakan, televisi atau video games adalah salah satu penyebab hyperaktivitas pada anak dan remaja. Sebaliknya di daerah lain yang tak ada televisi dan video games kasus anak dan remaja sejak bayi hingga dewasa seperti ini tidak dijumpai.Sifat hyperaktivitas pada anak dan remaja tersebut salah satunya adalah saat menonton, seluruh indera perhatiannya tercurah pada kotak segi empat itu, dengan cepatnya gerakan cahaya akan lewat saraf mata. Hal ini akan merangsang seluruh sistem di otak untuk menyerap dengan cepat khayalan konsumerisme / iklan dan masih banyak lagi sehingga akan mengubah pikiran anak dan remaja ke hal-hal negatif seperti mati dan tertutup untuk hal-hal lain. 

Berikut sepuluh Pengaruh buruk media televisi pada anak dan remaja: 

1. Bagi anak usia 0-3 tahun. Media televisi sabagai salah satu jenis media elektronik dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca verbal maupun pemahaman. Juga dapat menghambat kemampuan anak dalam mengekpresikan pikiran melalui tulisan, rneningkatkan agresifitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. 

2. Mendorong anak menjadi konsumtif. Anak-anak dan remaja menjadi target pengiklan yang utama, sehingga dapat mendorong mereka menjadi konsumtif 

3. Berpengaruh terhadap sikap. Bagi anak dan remaja yang banyak menonton televisi namun belum mempunyai daya kritis yang tinggi, kemungkinan besar akan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Tentu ini akan berpengaruh pada sikap dan prilaku mereka dan dapat terbawa hingga dewasa. 

4. Mengurangi semangat belajar. Bahasa televisi simpel. memikat dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak dan remaja menjadi malas belajar. 

5. Membentuk pola pikir sederhana. Terlalu sering menonton televisi dan tak pernah membaca menyebabkan anak dan remaja akan memelihara pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreatifitas dan perkembangan kognitifnya. 

6. Mengurangi daya konsentrasi. Rentang waktu konsentrasi anak dan remaja hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan yang dapat membatasi daya konsentrasi anak.

7. Mengurangi kreativitas. Televisi membuat anak dan remaja malas bermain, mereka menjadi individualistis dan lebih suka menyendiri, setiap kali merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan sehingga di saat liburan maupun akhir pekan, mereka menghabiskan waktu dengan menonton tv. Anak & remaja seakan tak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan, ini membuat anak dan remaja tidak kreatif 

8. Meningkatkan obesitas ( kegemukan). Penelitian membuktikan, seorang anak dan remaja yang kebanyakan menonton tv, akan lebih banyak ngemil di antara waktu makan. Anak-anak dan remaja yang senang menonton TV, cenderung kurang berolah raga. Mereka terbiasa duduk di depan layar. membuat tubuhnya tidak banyak bergerak dan metabolisme menurun sehingga lemak, bertumpuk karena tidak terbakar, dan akhirnya menimbulkan kegemukan. 

9. Merenggangkan hubungan antara anggota keluarga. Kebanyakan anak dan remaja menonton tv lebih dan 4 jam sehari, sehingga waktu untuk bercengkerama bersama keluarga ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan tv. Sementara 40% keluarga menonton tv sambil menyantap makan malam, waktu yang seharusnya menjadi ajang berbagi cerita antara anggota keluarga. Rata-rata tv dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang memprihatinkan, masing-masing anggota keluarga menonton acara berbeda di ruang berbeda pula. 

10. Lebih cepat matang secara seksual
Tontonan yang dikonsumsi anak dan remaja saat ini, sarat dengan adegan seksual. Baik sinetron, film bahkan kartun sekalipun. Mau tidak mau anak dan remaja akan menyaksikan adegan yang sebenarnya tidak pantas baginya. Gizi yang bagus dan rangsangan tv yang tidak pantas untuk usianya, akan menjadi lebih cepat ‘balig’ atau matang secara seksual dari yang seharusnya diiringi rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan cenderung meniru dan melakukan apa yang mereka lihat. Menurut para ahli, televisi dan tayangannya, serta alat elektronik sekalipun memiliki pengaruh buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak dan remaja. Namun, dalam era sekarang ini tentunya sulit menjauhkan anak dan remaja dan hal di atas. Meski begitu, hendaknya, orang tua memiliki tips atau cara bijaksana untuk hal ini. Tentu masih ada banyak pengaruh positif dan negative dari media massa.

4. Tanggung Jawab Keluarga, masyarakat dan Gereja

Tanggung Jawab Keluarga

Menyeleksi tayangan dan mendampingi anak menonton televisi merupakan tugas yang tidak gampang. Orang tua khususnya ibu dituntut untuk lebih sabar, lebih paham tentang apa yang ditayangkan. Jadi para orang tua mulai sekarang harus lebih pintar dan peka terhadap perkembangan dunia agar kita dapat memberikan jawaban dan penjelasan terbaik bagi putra-putri kita. Berikut ini beberapa trik yang dapat kita aplikasikan dalam upaya menghadang pengaruh buruk media, khususnya televisi:

1. Pahami terlebih dulu manfaatnya
Pahami terlebih dulu manfaat dan piranti canggih yang hendak disodorkan kepada anak dan remaja itu. Ini berlaku untuk semua jenis alat elektronik termasuk televisi, seperti juga ponsel, komputer, musik player, dan game station. Ketika diberikan kepada anak dan remaja, pastikan anak dan remaja juga tahu tujuan kepemilikan barang tersebut.

2. Beri batasan penggunaan
Kapan ia boleh memakai dan saat apa si anak dan remaja harus menyingkirkan peralatan elektronik tadi. Untuk anak yang lebih besar, anda dapat membuat kesepakatan bersama batasan-batasannya untuk anak pra sekolah, waktu menonton cukup satu jam sehari. Yang sudah bersekolah boleh menonton kurang lebih 2 jam. 

3. Jadikan TV sebagai media belajar
Duduklah bersama anak dan remaja dan diskusikan isi tayangan. Agar anak dan remaja tidak menonton sembarangan acara, jangan letakkan tv di dalam kamar anak dan remaja yang masih di bawah umur.

4. Siapkan kegiatan pengganti
Coba siapkanlah kegiatan lain sebagai pengganti, seperti play station atau internet. pastikan kegiatan alternatifnya sama serunya. Misalnya, bermain bersama teman di lingkungannya, tanpa aktifitas pengganti yang menarik, sulit membuat anak dan remaja lepas dan tv.

5. Beri nilai positif.
Agar anak dan remaja percaya din untuk tidak mengikuti arus teman-teman yang menonton tv tanpa batasan, suntikkan nilai-nilai positif padanya. Berikan alasan mengapa ia perlu membatasi jam menonton, dengan begitu si anak dan remaja bisa menangkis ejekan teman seputar ketidaktahuannya tentang acara-acara tv yang memang tak diperuntukkan bagi anak seusianya.

6. Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang.
Dengan disiplin dan kasih sayang, anak dan remaja akan lebih mudah mengerti apa yang patut dan tidak dilakukannya. Jadikan anak dan remaja percaya dir dengan paham dari nilai yang dianut keluarga.

Tanggung Jawab Masyarakat


Permasalahan mengenai dampak negatif dari media massa memang tidak pernah bisa dihentikan. Semua berjalan sebagai sebuah kausalitas. Ada media, maka juga akan ada dampak-dampak yang mengikutinya, termasuk dampak negatif yang dewasa ini mulai menjadi pusat perhatian masyarakat. Konsep mengenai kebutuhan filter bagi masyarakat Indonesia sudah tidak bisa dipandang sebagai hal sepele lagi. Di tengah arus media yang semakin menggila menyebarkan realitas-realitas palsu, harus diimbangi filter yang akan menyeleksi tiap dampak negatif yang mungkin muncul. Di sinilah muncul konsep media literacy yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Ketidakberdayaan masyarakat tidak bisa hanya diselesaikan pada tataran perubahan regulasi media massa. Tetapi juga, harus menyentuh kalangan publik. Hal itu menjadi penting mengingat di jaman yang semakin bebas ini, regulasi tidak akan bisa menyentuh isi media luar negeri ataupun juga menyentuh media internet. Karena itu, publik harus disadarkan bahwa mereka harus memiliki kekuatan sendiri untuk membentengi dirinya dari segala hal yang mungkin muncul. Baru kemudian setelah itu, regulasi media yang sehat akan menjadi tiang kukuh dalam mencegah dampak negatif dari media. 
Solusi yang kemudian muncul untuk mengatasi masalah ini adalah mengenai pembelajaran media literacy (melek media). Konsep yang muncul mengenai melek media adalah sebuah pembelajaran mengenai sebuah usaha agar masyarakat bisa menyaring tiap informasi yang didapatkan dari media massa. 
Pendidikan media itu nantinya juga berkutat masalah bagaimana media bekerja, bagaimana media memengaruhi masyarakat, ataupun mengenai penggunaan media yang sehat. Karena itu, tujuan akhir dari pembelajaran melek media adalah kultur penonton yang kritis.

Tanggung Jawab Gereja.

Pesan Paus Benediktus XVI dalam Memperingati Hari Komunikasi Sosial Se- dunia ke-42

Saudara-Saudari Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).

2. Berkat perkembangan teknologi yang meroket, media telah memiliki kemampuan luar biasa yang serempak membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang. Kita tidak dapat menyangkal sumbangsih yang diberikan oleh media dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi seperti peranannya yang menentukan dalam kampanye pemberantasan buta huruf dan kegiatan sosialisasi, pengembangan demokrasi dan dialog di antara bangsa-bangsa. Tanpa sumbangsih media, akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian di dunia, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa teristimewa bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. Benar bahwa secara keseluruhan media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan bagi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan yang lebih besar bagi dunia. 

Sayangnya betapapun demikian, ia sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud idiologis atau demi reklame agresif produk-produk konsumen. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, agar bisa menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu mempraktikkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil malah memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin. 

3. Umat manusia pada zaman sekarang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berlaku juga untuk media seperti yang telah Saya tandaskan dalam ensiklik Spe Salvi tentang makna ganda kemajuan yang di satu pihak memberikan kemungkinan baru untuk kebaikan tetapi pada pihak lain membuka begitu besar peluang untuk hal-hal yang jahat yang tidak pernah ada sebelumnya (bdk. No.22). Karena itu kita seharusnya bertanya apakah bijaksana membiarkan sarana komunikasi sosial dipakai untuk kemajuan diri sendiri atau membiarkan penggunaannya di tangan mereka yang memanfaatkan untuk memanipulasi kesadaran manusia. Apakah tidak ada suatu prioritas untuk memastikan bahwa media komunikasi itu tetap mengemban misi pelayanan bagi pribadi dan bagi kebaikan bersama dan bahwa media komunikasi membantu mengembangkan ”formasi etis manusia . . . pertumbuhan batin manusia” (ibid.)? Pengaruhnya yang luar biasa dalam kehidupan perorangan maupun dalam masyarakat telah diakui secara luas, tetapi sekalipun demikian, dengan melihat kenyataan sekarang ini, dibutuhkan perubahan peranan media yang radikal dan menyeluruh. 
Pada masa sekarang, kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa. Perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh banyak pemimpin Gereja. Justru karena kita sedang berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) dimana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis, juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu, pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan, yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.

4. Peran yang dimainkan oleh media komunikasi sosial dalam masyarakat mestinya dianggap sebagai persoalan ’antropologis’ yang muncul sebagai tantangan kunci dalam milenium ketiga. Seperti yang kita saksikan dalam kehidupan manusia, dalam hidup perkawinan dan keluarga serta dalam isu-isu besar modern seperti perdamaian, keadilan, perlindungan terhadap mahkluk ciptaan, begitu juga di sektor komunikasi sosial terdapat matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenaran yang berkaitan dengan pribadi manusia. Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari diri dari pengawasan masyarakat maka ia tidak lagi menghiraukan sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap pilihan putusan manusia dan secara definitif menentukan kebebasan dan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang hakikih bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan menghormati martabat manusia secara utuh. Banyak orang berpikir bahwa dalam hal ini, dibutuhkan suatu ’info-etika’ sama halnya bio-etika di bidang kedokteran dan di bidang riset ilmiah yang berkaitan dengan kehidupan. 

5. Media harus menghindarkan diri untuk menjadi juru bicara aliran materialisme ekonomi dan relativisme etika, bencana serius di zaman kita ini. Walaupun demikian ia dapat dan harus memberikan sumbangsihnya agar kebenaran tentang umat manusia dikenal, membelanya melawan segala yang berkeinginan mengabaikan dan memusnahkannya. Bahkan boleh dikatakan bahwa mencari dan menghadirkan kebenaran tentang manusia adalah panggilan terluhur komunikasi sosial. Dengan memanfaatkan berbagai cara yang dimiliki media untuk maksud dan tujuan seperti ini adalah suatu tugas yang mulia yang pada tempat pertama dipercayakan kepada penanggungjawab dan operator di bidang ini. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu, menyangkut kita semua di zaman globalisasi seperti sekarang, semua kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial. Media baru – secara istimewa telekomunikasi dan internet- sedang mengubah wajah komunikasi; dan barangkali ini merupakan peluang emas untuk mendisain, menjadikan wajah komunikasi menjadi lebih tampak yang oleh Pendahulu Saya Yohanes Paulus II, dianggap sebagai unsur-unsur kebenaran hakiki dan tak tergantikan dari pribadi manusia (bdk. Surat Gemba Perkembangan yang Cepat, 10). 

6. Manusia merasa haus akan kebenaran, ia mencari kebenaran; hal ini terbukti melalui minat dan kesuksesan yang dicapai sekian banyak penerbitan, program-program atau film-film bermutu dimana kebenaran, keindahan dan keluhuran manusia termasuk matra keimanan manusia diakui dan ditampilkan secara baik. Yesus mengatakan: ”Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Kebenaran yang memerdekan kita adalah Kristus, karena hanya Ia sendirilah yang dapat memberikan jawaban yang penuh terhadap kehausan akan hidup dan akan kasih yang ada dalam hati manusia. Barangsiapa yang telah menemukan Dia dan dengan senang hati menerima pewartaanNya, ia berkeinginan untuk membagikan dan mengkomunikasikan kebenaran itu. Santu Yohanes menandaskan: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup . . .itulah yang kami wartakan kepada kamu, agar kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-NyaYesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yoh 1:1-4). 

Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar selalu ada para komunikator yang berani dan saksi-saksi kebenaran yang sejati, percaya akan mandat Kristus dan memiliki minat yang besar terhadap warta iman, para komunikator yang ”tahu menerjemahkan kebutuhan budaya modern, memiliki komitmen untuk menghidupi abad komunikasi tanpa merasa asing dan ragu-ragu tetapi sebagi suatu periode berharga untuk mencari kebenaran serta memajukan persekutuan di antara umat manusia dan di antara bangsa-bangsa”

Dengan tulus hati, Saya menyampaikan berkatku kepada kamu sekalian.

6. Kesimpulan dan Penutup

Berkaitan dengan problematika seputar media massa dan pengaruhnya terhadap hidup berkeluarga kita perlu terus-menerus mencari dan mengupayakan upayakan dengan pelbagai macam cara, supaya buah-buah kebaikan, syukur dan penyadaran akan nilai-nilai kehidupan selalu kita sadari dan upayakan. Sayang apabila pelbagai pengalaman dan kebersamaan dalam keluarga berlalu begitu saja. Amat disayangkan juga kalau pelbagai sarana media yang kita miliki dan kita gunakan, tidak membawa kita kepada kemerdekaan hidup, namun justru membelenggu kita. Mari kita berbenah dan bersikap dalam penggunaan media. Dalam hal ini keluarga, Gereja dan masyarakat memiliki peran yang sangat menentukan. 

Mencermati akan hal ini lebih mendalam, kiranya sudah sewajarnyalah, kita perlu menghimbau kepada mereka yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemberitaan dan siaran di media massa di tanah air tercinta ini. Sisihkanlah barang sedikit keuntungan yang diperoleh untuk juga berpartisipasi dalam upaya pemerintah , membangun bangsa ini. Membangun karakter bangsa, terutama sekali membangun karakter para generasi muda bangsa, yang akan menghadapi lebih banyak lagi tantangan yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tantangan yang banyak berkait dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang tidak akan mungkin dapat dibendung tanpa ketahanan diri dan ketahanan bangsa yang berlandaskan pada karakter dan kepribadian yang kuat. Salah satunya adalah menghadapi pengaruh media massa yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam pembentukan jiwa anak bangsa. Semoga.