Tampilkan postingan dengan label contoh materi penyuluhan agama Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh materi penyuluhan agama Katolik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Membangun Keluarga sebagai Sarana dan Pendukung dalam Pewartaan (contoh penyuluhan bagi keluarga)

DISUSUN OLEH: Emanuel Heru Kristanto, S.Ag, Penyuluh Agama Katolik, 
Kantor Kementerian Agama Kota Magelang


I. Doa & Lagu

II. Pertanyaan Sharing

    Sebagai orang tua bagaimana kita mendidik anak-anak didalam keluarga ?

III. Pembelajaran

A. Tantangan-tantangan Aktual

Dewasa ini keluarga-keluarga katolik menghadapi banyak tantangan aktual. Sebagian besar dari tantangan-tantangan itu berasal dari masyarakat luas. Sedang sebagian yang lain berasal dari lingkungan keluarga sendiri.

1. Tantangan dari masyarakat luas 

a. Tantangan dari masyarakat internasional.

Tantangan yang berasal dari masyarakat inter-nasional terutama berupa kecenderungan-kecenderungan tertentu yang muncul dalam proses globalisasi. Kecenderungan-kecende-rungan tersebut antara lain tampak di bidang ekonomi, politik, dan budaya. Di bidang ekonomi, muncullah kecenderungan global yang menyebarkan sistem ekonomi pasar bebas ke segenap penjuru bumi. Sistem ekonomi yang mengutamakan kebebasan swasta untuk berdagang dan bersaing itu dipuji dan didukung di semakin banyak tempat. Padahal sistem ekonomi tersebut jelas-jelas melebarkan kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin, antara negara kaya dan negara miskin. Selain itu, sistem ekonomi tersebut juga mendukung konsumerisme dan menyebabkan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan hidup. Di beberapa negara miskin, sistem ekonomi pasar bebas itu bahkan juga menimbulkan kecenderungan-kecenderungan negatif lain, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. 

Di bidang politik, muncullah kecenderungan global yang menyebarkan sistem pemerintahan gaya Barat ke segenap penjuru bumi. Beberapa negara Barat bahkan memaksakan sistem politik semacam itu kepada negara-negara yang lain. Padahal, sistem pemerintah-an semacam itu tidaklah selalu sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pengambilan keputusan dalam masyarakat tradisional Jawa, misalnya, lebih mengutama-kan mufakat melalui musyawarah daripada pengambilan keputusan melalui pemungutan suara. Di bidang budaya, muncullah kecenderungan global yang menyebarkan pop culture ke segenap penjuru bumi. Yang dimaksud dengan pop culture adalah budaya pop, budaya yang penampilan-luarnya cenderung “ke-Barat-Barat-an”. Meskipun budaya pop tersebut me-miliki beberapa unsur positif yang pantas di-hargai, budaya itu juga memuat beberapa unsur negatif yang perlu diwaspadai. Yang kiranya paling perlu diwaspadai adalah kecenderung-annya ke arah materialisme dan sekularisme. Kecenderungan ke arah materialisme itu jelas tidak selaras dengan budaya tradisional sebagi-an besar masyarakat kita, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerohanian. Sementara itu kecenderungan ke arah sekularisme juga tidak selaras dengan budaya tradisional masyarakat kita, yang bersifat religius.

b. Tantangan dari masyarakat nasional

Dewasa ini masyarakat Indonesia berada dalam masa reformasi di segala bidang. Dalam proses reformasi tersebut, muncullah beberapa tantangan sosial, misalnya di bidang ekonomi, politik, dan moral. Reformasi belum berhasil membawa per-baikan yang nyata di bidang ekonomi. Menurut data nasional, saat ini sekitar 50 juta orang Indonesia hidup dalam kemiskinan. Bangsa kita semakin tertinggal dari bangsa-bangsa yang sudah maju, antara lain karena bangsa kita cenderung mengikuti sistem ekonomi pasar bebas. Sudahlah terbukti bahwa sistem ekonomi pasar bebas cenderung melebarkan kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin, antara negara kaya dan negara miskin. Bangsa kita belum mampu ber-saing di pasar internasional. Ketidakmampuan bangsa kita itu antara lain disebabkan oleh kesalahan internal bangsa kita sendiri, yakni masih banyaknya korupsi, kolusi dan nepotisme. Reformasi juga belum membawa banyak perbaikan di bidang politik. Memang, di-bandingkan dengan masa pemerintahan Orde Baru, masa pemerintahan kita dewasa ini sudah jauh lebih demokratis. Media massa menikmati kebebasan yang cukup luas. Dewan Perwakil-an Rakyat memiliki kewenangan yang makin besar. Presiden dan pimpinan-pimpinan di daerah sudah dipilih oleh rakyat secara langsung. 

Meskipun demikian, kepentingan rakyat kecil belum terangkat secara semesti-nya. Lembaga-lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif belum sungguh-sungguh berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.

Reformasi sebenarnya dimaksud untuk mem-perbaiki masyarakat Indonesia secara me-nyeluruh, termasuk di bidang moral. Namun kenyataannya, belum ada tanda-tanda positif bahwa moral masyarakat kita bertambah baik. Habitus lama masih berlanjut. Kekerasan tetap terjadi di mana-mana, baik di rumah-rumah maupun di tengah-tengah masyarakat luas. Korupsi malah semakin menyebar, antara lain karena semakin kuatnya otonomi daerah. Kerusakan lingkungan alam dan lingkungan hidup samasekali belum berkurang. 

2. Tantangan dari lingkungan keluarga

Tantangan-tantangan yang ada di hadapan keluarga tidaklah hanya berasal dari masyarakat luas, melain-kan juga dari lingkungan keluarga sendiri, baik dari keluarga besar maupun dari keluarga inti. Yang dimaksud dengan keluarga besar adalah suami-istri, anak-anak, dan sanak saudara dari suami maupun istri, di manapun mereka berada. Sedang yang dimaksud dengan keluarga inti adalah suami-istri, anak-anak, dan sanak saudara yang tinggal serumah dengan mereka. 

a. Tantangan dari keluarga besar

Keluarga besar sebenarnya merupakan suatu sumber dukungan dan kesejahteraan bagi keluarga inti. Seluruh keluarga besar dapat memberikan dukungan kepada salah satu anggotanya yang sedang berada dalam kondisi lemah secara psikis, maka membutuhkan penguatan dan peneguhan. Seluruh keluarga besar dapat memberikan bantuan kepada salah satu anggotanya yang sedang berada dalam kondisi sulit secara finansial, maka mem-butuhkan pinjaman atau pemberian yang tulus. Meskipun demikian, keluarga besar juga dapat menimbulkan tantangan, misalnya bila anggota-anggota keluarga besar campur tangan ter-lampau jauh pada urusan keluarga inti. 

b. Tantangan dari dalam keluarga inti 

Berdasarkan angket Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2006, berikut adalah beberapa tantangan yang dapat muncul dari dalam keluarga inti sendiri.

1. Tantangan dalam relasi antara suami dan istri

· Kurangnya transparansi antara suami dan istri.

· Kurangnya kerukunan antara suami dan istri.

· Kurangnya komunikasi antara suami dan istri. 

· Kurangnya kesetiaan suami/istri kepada pasangannya. 

· Kurangnya kesediaan berkorban dari suami/istri bagi pasangannya.

· Adanya kecemburuan dari suami/istri terhadap pasangannya.

· Adanya dominasi suami/istri atas pasangannya. 

· Adanya tindak kekerasan suami/istri terhadap pasangannya.

2. Tantangan dalam hal penghayatan iman 

· Kurang kuatnya iman semua/sebagian anggota keluarga.

· Kurang tepatnya pemahaman dan peng-hayatan sakramen perkawinan.

· Kurangnya kemampuan orangtua dalam mengembangkan iman anak-anak mereka.

· Kurangnya kemampuan keluarga meng-hadapi arus global yang sekularistik. 

3. Tantangan dalam hal ekonomi rumah tangga

· Kurangnya kemampuan suami-istri untuk mengelola ekonomi rumah tangga. 

· Kurangnya penghasilan keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

· Adanya beban hutang keluarga

· Sulitnya mencari pekerjaan.

· Kurang kuatnya kemampuan suami-istri menghadapi godaan konsumerisme.

4. Tantangan dalam hal relasi antara orangtua dan anak-anaknya

· Kurangnya keakraban antara orangtua dan anak-anak mereka.

· Ketidakpuasan anak-anak terhadap sikap atau kondisi orangtua mereka.

· Ketidakpuasan orangtua terhadap sikap atau kondisi anak-anak mereka.

NB: Tantangan-tantangan di atas tentu saja tidak hanya perlu diketahui dan dipahami, melainkan juga perlu ditanggapi dengan mencari solusi yang tepat atasnya. 

B. Konsekwensi atas Perkawinan

Menurut ajaran Gereja Katolik, tujuan perkawinan salah satunya adalah diarahkan pada keturunan dan pendidikan anak-anak mereka. Gereja Katolik berharap bahwa dua orang yang menikah sama-sama mau dan mampu menurunkan dan mendidik anak-anak. 

Setiap keluarga Katolik yang diikat didalam Sakramen Perkawinan dipanggil dan diutus menjadi tempat pendidikan yang utama dan pertama disanalah anak-anak mulai dididik dalam segala hal yang baik. Maka pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya tidak pernah tersaing maupun tergantikan

Oleh rahmat Sakramen Perkawinan, mereka menjadi mampu mencintai satu sama lain sebagaimana Kristus telah mencintai kita. Mereka kemudian menjadi tanda dan peringatan yang tampak dan kelihatan cinta pengorbanan Kristus kepada seluruh umat manusia. Di bawah rencana Allah, perkawinan juga merupakan dasar komunitas yang lebih luas, yaitu keluarga. Cinta seksual, disamping memperdalam dan memperkuat persatuan diantara mereka, memberikan juga kemampuan kepada suami – isteri untuk bekerjasama dengan Allah dalam memberi kehidupan kepada pribadi manusia ( keturunan ) yang baru. Atau dengan kata lain tugas, kewajiban dan tanggung jawab untuk mendidik anak ini berasal atau berakar atau berdasar pada panggilan suami – istri untuk berpartisipasi pada karya penciptaan Allah: menurunkan manusia baru, juga dalam arti mempertumbuhkannya dan memperkembangkannya ( FC 36 ).

1. Peranan Keluarga dalam pendidikan iman

Keluarga secara tepat digambarkan sebagai Gereja Domestik. Oleh karena itu, keluarga mendapat tugas meneruskan iman dan nilai-nilai Kristiani kepada generasi yang berikutnya. Oleh karena orang tua meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, maka para orang tua mengemban tugas mahaberat : mendidik anak dan sebab itu mereka harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama ( GE 3 ). 

Rumah sebagai sekolah yang tepat untuk hidup. Ada beberapa hal yang esensial yang hanya dapat dipelajari dirumah, misalkan : belajar mencintai dan dicintai; keamanan dan penerimaan; hormat terhadap otoritas; membedakan mana yang benar dan mana yang salah; disiplin, tanggung jawab dan kontrol diri. Anak pertama kali mengalami cinta di dalam rumahnya; menemukan rasa aman dan penerimaan diri siapa dia laki-laki atau wanita, sehingga ia mulai mencintai dirinya sendiri, yang memberikan dasar untuk mencintai orang lain. Orang tua adalah otoritas pertama. Penghormatan terhadap orang tua juga merupakan basis untuk menghormati otoritas-otoritas yang lain. Bagaimana anak-anak menghormati orang tua, menentukan bagaimana pula mereka menghormati bentuk-bentuk otoritas yang lain diluar rumah. Dengan melihat contoh perilaku dan sikap orang tuanya, anak-anak dapat belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Oleh karena itu peranan kesaksian kehidupan iman orang tua dalam memperkembangkan iman anak-anaknnya adalah sangat vital. Dan inilah sebenarnya metode yang paling efektif dalam pendidikan iman ( juga dalam hal-hal lain ) di dalam keluarga yakni dengan contoh kongkret kehidupan iman orang tuanya serta anggota keluarga yang lain yang hidup serumah. 

Memang kita sadari juga bahwa hidup iman bukanlah sesuatu yang secara khusus diisi kedalam anak oleh ayah dan ibunya. Iman itu pertama-tama adalah suatu anugerah Allah yang berkembang mengikuti irama hidup seseorang dan kehidupan sekitarnya. Namun perkembangan iman tidak terjadi secara otomatis, tetapi sungguh suatu buah hasil proses yang dihayati dengan seluruh kehendak bebasnya dan rahmat Tuhan. Maka dalam rangka proses inilah, peranan orang tua atau keluarga menjadi penting. Dengan menghargai anugerah kebebasan pribadi, orang tua mengarahkan anaknya kepada hidup sebagai orang beriman, sedemikian rupa sehingga akhirnya anak sendirilah merasa bahwa iman itu sebagai yang dipilihnya sendiri secara bebas. Ayah dan ibu bertindak seperti itu karena timbul dari kasih kepada anak-anaknya dan demi keselamatan anak-anaknya pula.

2. Pendidikan Iman dari orang tua

Hak dan tugas orang-tua untuk memberikan pendidikan ini adalah esensial karena berhubungan dengan penerusan hidup baru, orisinal dan primer, karena tidak dapat digantikan, tidak dapat diambil alih oleh siapapun. Dasarnya adalah cinta kasih orang tua ( FC. 36 ). Misi untuk mendidik putra-putinya ini, suatu misi yang mempunyai akarnya dari partisipasi keluarga dalam karya penciptaan Allah, mempunyai sumber khusus dalam Sakramen Perkawinan, adalah membantu anak-anak agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia dewasa secara manusiawi dan Kristiani ( FC. 38 ) Meneruskan keturunan tidak hanya dalam arti kuantitatif, namun juga dalam arti kualitatif dengan mendidiknya secara bertanggung jawab.

Keluarga adalah sekolah fundamental bagi anak-anak dibidang kehidupan social sehari-hari ( FC. 37 ). Atau dengan kata lain Keluarga adalah pusat katekese sacramental ( Paus Johanes Paulus II, Ad Limina Uskup-uskup USA, 24-9-1083 ). Pengembangan iman sebenarnya tidak hanya terjadi dengan katekese eksplisit dengan kata – kata atau dengan mengajar secara instruksional saja, melainkan lebih-lebih didalam Keluarga adalah dengan kesaksian hidup keagamaan ibu dan ayahnya sendiri ( FC. 38 – 39 ). Para orang tua yang pertama-tama memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Ayah duniawi hendaknya mencerminkan Bapa Surgawi. Dalam hubungan ini orang tua adalah guru ( mengajar ) dan ibu ( mempertumbuh – kembangkan serta ikut memelihara ) dalam bidang iman bagi putera dan puterinya. Orang tua adalah pelayan Gereja, sehingga iman diteruskan dari generasi ke generasi melalui keluarga. Disini Orang tua tidak hanya melihat anak sebagai anak-anak mereka sendiri, tetapi hendaknya juga melihat mereka sebagai anak-anak Allah, saudara dan saudari Yesus, bait Allah Roh Kudus dan anggota Gereja. 

Keluarga sebagai Gereja Mini dapat merupakan saluran iman dan tempat inisiasi Kristen dimulai yakni memperkenalkan dan menghidupi misteri iman secara misteri keselamatan yang terjadi dalam perayaan Liturgi atau perayaan-perayaan sakramen dan yang terjadi melalui peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Keluarga kemudian menjadi sekolah mengikuti Yesus dan menjadi pusat katekese sacramental bagi anak-anaknya. Orang tualah yang pertama-tama memperkenalkan Allah. Keluarga dipanggil secara aktif untuk ambil bagian dalam mempersiapkan putera dan putrinya untuk menerima Sakramen Baptis, Komuni pertama dan juga penerimaan Sakramen Tobat yang pertama. Malah orang-tua dimohon untuk ikut ambil bagian dalam program-program persiapan perkawinan bagi anak-anak yang sudah dewasa. Pendidikan cinta sebagai penyerahan diri, juga tidak boleh dilupakan. Orang tua diharapkan dapat mendidik anak-anaknya dalam bidang seksualitas secara benar, sopan dan hati-hati. Dalam konteks ini pendidikan kemurnian adalah sangat esensial pula ( FC. 37 ). Dalam hal ini sekolah juga diharapkan ikut ambil bagian dalam kerjasama dengan orang tua ( FC. 37 ). Pendidikan teoristis tentu penting agar remaja mempunyai pandangan yang positif dan menyeluruh mengenai seksualitas. Namun contoh nyata orang dewasa – terlebih orang tua sendiri lebih penting karena contoh hidup adalah cara mendidik yang efisien bagi putera-puterinya, keterbukaan dan kerjasama antara orang tua dengan para pendidik lain, yang sama-sama mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan kaum muda, akan dapat secara positif mempengaruhi kedewasaan kaum muda. 

3. Keluarga menjadi Gereja kecil 

Gereja berharap bahwa semua anggota keluarga katolik berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan keluarga mereka sebuah Gereja kecil, sebuah paguyuban umat beriman, seperti digambarkan dalam kitab Kisah Para Rasul (2:41-47 dan 4:32-37). Harapan Gereja itu antara lain diungkapkan secara jelas oleh Paus Yohanes Paulus II dalam seruan apos-toliknya Familiaris Consortio. Di sana ditegaskan beberapa hal berikut (FC 49-64). 

a. Keluarga yang guyub

Sebuah keluarga katolik hanya layak disebut sebagai gereja kecil bila keluarga itu diwarnai oleh suasana guyub, sehingga mewujudkan sebuah communio. Artinya: komunitas yang rukun dan akrab, berdasarkan hormat dan kasih. Juga bila kadang-kadang ada konflik, konflik itu diselesaikan dalam semangat dan suasana hormat dan kasih, bukan dalam suasana emosi yang tak terkendali.

b. Keluarga yang dijiwai oleh iman

Sebuah keluarga katolik juga hanya layak disebut sebagai Gereja kecil bila hidup semua anggotanya dijiwai dengan iman, yang terutama ditandai oleh sikap hormat dan kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya. Iman mereka hendak-nya diyakini, dipahami, diungkapkan, dirayakan, diwartakan, dan diamalkan secara terus-menerus, baik di dalam maupun di luar rumah. 

C. Peranan Keluarga dalam Hidup Menggereja dan Masyarakat

1. Keluarga ikut membangun Gereja 

Dalam seruan apostoliknya yang berjudul Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II juga menekankan peran keluarga katolik sebagai sel pembangun Gereja (FC 49-64). Peran penting tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut. 

a. Ikut membangun Gereja setempat

Keluarga katolik tidak dapat dan tidak boleh hanya peduli pada kepentingannya sendiri. Ia bukanlah sebuah pulau tersendiri yang terpisah jauh dari pulau-pulau yang lain. Ia merupakan sel terkecil dari Gereja yang lebih luas, yakni Gereja se-lingkungan, Gereja se-wilayah, Gereja se-paroki, Gereja se-keuskupan. Karena itu, keluarga katolik diharap ikut terlibat dalam kehidupan beriman umat setempat, sekurang-kurangnya di lingkungan, wilayah, dan parokinya. 

b. Berkembang bersama umat se-keuskupan

Setiap keluarga katolik yang hidup dan bertempat tinggal di wilayah Keuskupan Agung Semarang diharap berkembang bersama umat se-keuskupan. Hal itu antara lain berarti bahwa semua anggota keluarga katolik diharap mengembangkan kehidupan iman mereka selaras dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang, yang diterbitkan setiap lima tahun sekali. 

2. Keluarga ikut membangun masyarakat

Gereja tidak hanya melihat keluarga sebagai sel pembangun Gereja, melainkan juga sebagai sel pembangun masyarakat. Hal itulah yang juga ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II melalui seruan apostoliknya Familiaris Consortio. Tentang peran penting ini, hal-hal berikut kiranya pantas diperhatikan (FC 42-48). 

a. Ikut membangun masyarakat setempat

Setiap keluarga, termasuk keluarga katolik, merupakan sel terkecil dari masyarakat luas. 

Karena itu, setiap keluarga katolik diharap ikut membangun masyarakat luas, baik di tingkat rukun tetangga, rukun warga, maupun kota/kabupaten. Sebagai sel terkecil dari masyarakat luas, keluarga katolik diharap memberikan sumbangan positif dalam pembangunan masyarakat luas. Berdasarkan amanat Injil, keluarga katolik diharap menjadi “garam yang mengasinkan” dan “pelita yang menerangi” masyarakat di sekitarnya. Dalam kaitan dengan amanat suci ini, keluarga katolik diharap ikut mengambil bagian aktif dalam usaha seluruh masyarakat Indonesia untuk menentang dan mengatasi korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan hidup. 

b. Bersikap tepat terhadap masyarakat

Proses globalisasi se-dunia dan proses reformasi se-tanah-air membawa pengaruh pada seluruh masyarakat di Indonesia, termasuk umat di Keuskupan Agung Semarang. Menyadari adanya pengaruh positif dan negatif dari proses-proses tersebut, semua keluarga katolik di Keuskupan Agung Semarang diharap mau dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap masyarakat, yakni dengan cara: memanfaatkan yang positif dan menolak yang negatif. 



IV. Pertanyaan dan pengendapan 

1. Bagaimana kita sebagai pribadi maupun sebagai keluarga mengalami Tuhan ?

2. Bagaimana kita mesharingkan iman kita dengan anggota keluarga kita yang lain ? Apakah anda lakukan secara individual.

3. Apa tugas dan tanggung Jawab kita sebagai keluarga ?

4. Bagaimana cara kita menumbuhkan rasa Saling pengertian dalam keluarga ?

5. Bagaimana cara kita meningkatkan semangat pelayanan terhadap Gereja dan Masyarakat ?

V. Doa Penutup & Lagu Penutup


DAFTAR PUSTAKA

Nota Pastoral KAS, Menjadikan Keluarga Basis Hidup Beriman, Dewan Karya Pastoral KAS, 2007

Iman Katolik,KWI,Kanisius-Obor,Yogyakarta 2003

Alkitab, LAI,Jakarta 1974 

Dokumen Konsili Vatikan II,R.Hardawiryana,SJ,KWI,Obor,Jakarta 1993

Suami-Istri Katolik Memahami Panggilan Dan Perutusannya, Rm. Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF, Komisi Pendampingan Keluarga KAS, 2007

Selasa, 18 Februari 2014

Contoh Materi Penyuluhan Agama Katolik untuk Kategori Masyarakat Umum

Yesus mewartakan Kerajaan Allah
(ilustrasi: mely-phoenix7aurora.blogspot.com/
Di bawah ini disajikan contoh materi penyuluhan agama Katolik untuk kategori Masyarakat Umum. Materi ini merupakan hasil pertemuan penyusunan materi penyuluhan agama Katolik yang diikuti para penyuluh agama Katolik PNS sebanyak 30 orang dari berbagai Provinsi di Indonesia di Bogor dari tanggal 25 s.d. 30 Agustus 2013
===================
HIDUP DALAM SEGALA KELIMPAHAN

Proses Penyuluhan:
LAGU PEMBUKAAN: ...............(Dengan Gembira, PS 319)

TANDA SALIB


SALAM PEMBUKAAN
Semoga Allah, Sumber segala harapan, melimpahkan penghiburan iman kepada kita sekalian.
Sekarang dan selama-lamanya...

TEMA

Selamat..... Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian yang kami kasihi dalam Kristus. Pertemuan kita kali ini akan mengusung tema KELIMPAHAN HIDUP. Semoga dari tema ini kita nantinya akan mendapatkan pemahaman yang relatif lebih baru tentang makna sesungguhnya kelimpahan hidup menurut Yesus dalam Yoh. 10:10.

PEMERIKSAAN BATHIN

Agar pantas dan layak kita mengundang Tuhan dalam kegiatan ini, marilah kita menyesali semua dosa dan kesalahan kita. Hening sejenak....Saya Mengaku...

ABSOLUSI: 

Semoga Allah yang Maha Rahim, mengampuni dosa-dosa kita serta berkenan menganugerahkan kepada kita kehidupan yang kekal. Amin.

DOA PEMBUKAN:

Allah Bapa, Sumber Pengaharapan kami. Kepada-Mu kami haturkan sembah dan syukur kami atas setiap anugerah dan rahmat yang kami terima. Kami mohon, kiranya Engkau berkenan untuk hadir bersama kami saat ini agar kami mampu menyelami kehendak-Mu bagi hidup kami melalui kegiatan penyuluhan yang saat ini kami laksanakan. Kiranya kegiatan ini menjadi satu pujian bagi nama-Mu, kini dan sepanjang Masa. Amin

PENYAMPAIAN MATERI PENYULUHAN

Pertanyaan Pretest: 

- Apa perasaan anda setelah menyimak video tadi?

- Apakah Nick menurut Anda hidup dalam kelimpahan?

- Apa yang Anda ketahui tentang Hidup dalam Kelimpahan?

- Menurut Anda, apakah yang harus kita lakukan jika ingin hidup dalam Kelimpahan? 
Menguraikan Materi: 

Yoh 10:10

..........Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.


KELIMPAHAN HIDUP

Lebih Dari Sekadar Kekayaan Material-Finansial



Setelah kita memahami ilmu (resep / kunci / kiat)-nya, kita tahu bahwa kelimpahan harta benda dan uang yang kita inginkan pasti dapat diperoleh. Tetapi, hanya menginginkan dan memperoleh kelimpahan harta benda dan uang semata pasti akan membuat kita tetap merasa kekurangan. Kita akan merasa bahwa apa yang kita inginkan dalam hidup kita belum seutuhnya terpenuhi. Kita akan merasa bahwa masih ada hal lain yang juga kita butuhkan namun belum kita miliki. Bahkan, hanya menginginkan kelimpahan harta benda dan uang semata bisa menyesatkan.



Karena itu, kita perlu menyesuaikan atau menyelaraskan persepsi kita dengan pengertian ”kaya” sebagaimana dimaksud oleh Tuhan Yesus. ”Kekayaan” sebagaimana dimaksud oleh Tuhan jauh melampaui kelimpahan harta benda dan uang semata. Di samping kelimpahan harta benda dan uang, kita bisa dan boleh mencari, mendapatkan, dan menikmati bentuk-bentuk kekayaan yang lain, karena Tuhan justru menghendaki agar kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, dalam segala bentuk kekayaan (bdk. Yoh.10:10 – Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan; sangat jelas dan eksplisit bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hidup dalam serba kekurangan atau hanya memiliki salah satu bentuk kekayaan saja; sebaliknya, Tuhan menghendaki agar kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, mempunyai hidup dalam segala kekayaan).

Maka dari itu, kita perlu mengenal jenis-jenis kekayaan yang lebih dari sekadar kelimpahan harta benda dan uang, yaitu jenis-jenis kekayaan yang kekal dan agung, yang meliputi juga kekayaan spiritual dan kekayaan mental. Kekayaan yang kekal dan agung ini justru harus kita miliki seluruhnya dan seutuhnya; bukan karena serakah, tetapi karena -kalau kita hanya mengejar salah satu jenis kekayaan- kekayaan yang kekal dan agung justru tidak dapat kita miliki dan kita nikmati.

“Hidup dalam segala kelimpahan” mencakup:

Kekayaan2 Agung dan Kekal yakni:

Kekayaan Spiritual
a. Iman
b. Pengharapan
c. Kasih

Kekayaan Mental
a. Sikap Mental Positif
b. Kedamaian Pikiran
c. Keterbukaan Pikiran
d. Disiplin Diri
e. Kemampuan Memahami Orang Lain
f. Kemampuan Membina Hubungan Manusia dalam Keselarasan “Hidup dalam segala kelimpahan” ………

Kekayaan Material

a. Kesehatan Fisik
b. Keamanan Ekonomis (Kemakmuran Material-finansial).

Penjelasannya:

1. Kekayaan Spiritual

Tidak ada keberhasilan besar dan terus-menerus yang dicapai atau dapat dicapai oleh seseorang kecuali orang tersebut mengakui dan menggunakan kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual, walaupun tidak nampak / tidak berwujud, merupakan yang terbesar dari semua kekuatan.

Kekayaan Spiritual ……….

a. Iman 

Iman merupakan kekayaan, karena Iman adalah kekuatan adikodrati (supernatural) yang memungkinkan manusia memperoleh apa saja yang dipercayainya dapat diperolehnya, bahkan kekayaan surgawi sekalipun. Iman adalah kekuatan misterius yang menakjubkan, yang mencengangkan banyak ilmuwan selama berabad-abad, karena:

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Dengan Iman, seseorang dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh semua uang yang ada di dunia ini;

Iman adalah kekuatan yang tiada bandingnya dan tidak mengenal kata “mustahil”;

Iman adalah dasar dari semua yang dinamakan keajaiban, mukjijat, dan dari banyak misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan;

Iman memungkinkan kita untuk mencapai apa saja yang dapat kita pahami dan kita yakini;

Kekayaan Spiritual: Iman ………


Dengan Iman, pikiran seseorang dapat berhubungan secara langsung dengan sumber besar universal, yaitu Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah;

Melalui Iman, Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta memberikan bimbingan kepada seseorang menuju semua hal yang diinginkannya; kekuatan bimbingan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta ini tidak akan membawa sesuatu yang diinginkan seseorang, melainkan akan membawa orang tersebut pada pencapaian obyek yang diinginkannya; 

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Jika dipadukan dengan doa, Iman menjadi “bahan kimia” spiritual yang memberikan hubungan langsung dan cepat antara seseorang dengan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta;

Melalui Iman, yang dapat disebut “dorongan utama jiwa”, maksud-maksud, hasrat, dan tujuan seseorang dapat diterjemahkan / dijelmakan menjadi kenyataan fisik atau finansial;

Iman membimbing semua usaha manusia yang konstruktif, merupakan penyebab utama dari semua kemajuan manusia, dan benteng utama peradaban;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman adalah sebab paling mendasar dari perkembangan peradaban yang mengarah pada kebebasan setiap manusia;

Iman memberikan kekuatan, inspirasi, dan tindakan bagi pikiran yang positif;

Iman adalah kekuatan yang menyebabkan pikiran yang positif menjadi sebuah “elektro magnet” yang secara pasti menarik imbangan fisik dari pemikiran yang diekspresikannya;

Iman memberikan kepanjangan akal daya kepada pikiran yang memungkinkan pikiran untuk memanfaatkan semua yang datang kepadanya;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman mengenali kesempatan-kesempatan yang baik dalam setiap keadaan hidup seseorang dan dapat menyediakan cara untuk mengubah kegagalan ataupun kekalahan menjadi keberhasilan;

Iman memungkinkan orang untuk menembus ke dalam rahasia-rahasia Alam dan memahami bahasa Alam seperti diekspresikan dalam semua hukum alam;

Kekayaan Spiritual: Iman …………

Iman adalah tanah subur dari kebun pikiran manusia di mana dapat dihasilkan semua kekayaan hidup;

Iman adalah “multivitamin abadi” yang memberikan kekuatan kreatif dan tindakan bagi impuls pikiran;

Iman adalah kekuatan yang mampu mengangkat orang-orang kecil dan sederhana ke tingkat keagungan;

Iman adalah ungkapan rasa terima kasih atas hubungan manusia dengan Penciptanya.

Kekayaan Spiritual …………..

b. Pengharapan 

Pengharapan merupakan kekayaan, karena:
Kekayaan Spiritual: Pengharapan ………….
Pengharapan adalah pelopor dari Iman;
Pengharapan menguatkan seseorang dalam masa darurat, di mana –tanpa pengharapan- ketakutan akan mengambil alih;
Pengharapan adalah dasar dari bentuk kebahagiaan yang paling dalam;
Pengharapan membuat jiwa manusia berjaga-jaga dan aktif, serta membebaskan jalur komunikasi seseorang dengan Intelegensi Tanpa Batas Sang Pencipta;

Kekayaan Spritual: Pengharapan ………….

Pengharapan adalah agen dan dekorator ilahi untuk bentuk-bentuk kekayaan hidup lainnya;
Pengharapan adalah ibu yang melahirkan tindakan, antusiasme, vitalitas, optimisme, kegigihan, keuletan, dan banyak lainnya, di mana dengan ini semua, kita dapat mentransformasikan keinginan menjadi kenyataan fisik / material.

Kekayaan Spiritual ……………

c. Kasih

Kasih merupakan kekayaan, karena:
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..
Tidak ada manusia yang lebih kaya daripada dia yang melakukan pekerjaan atas dasar kasih dan yang sibuk melibatkan diri dalam pelaksanaannya, karena pekerjaan yang dilakukan tanpa mengharapkan bayaran merupakan bentuk tertinggi dari pengungkapan keinginan manusia. 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..


Pekerjaan adalah perantara antara tuntutan dan pemenuhan semua kebutuhan manusia, pelopor dari semua kemajuan manusia, media pewujudan imajinasi manusia. Semua pekerjaan yang dilakukan atas dasar kasih bersifat suci, karena pekerjaan itu mendatangkan sukacita pengungkapan diri (aktualisasi diri) bagi orang yang melakukannya. 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Jika seseorang melakukan hal yang paling dia sukai, maka hidupnya akan diperkaya, jiwanya akan dipenuhi, dia akan menjadi inspirasi untuk Pengharapan dan Iman, juga dia akan menjadi dorongan semangat bagi semua orang yang berhubungan dengannya (relasi-relasinya). 
Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Sukacita karena keterlibatan dalam pekerjaan yang dilakukan atas dasar kasih adalah obat paling mujarab bagi kemurungan jiwa, frustrasi, dan ketakutan; dan itu merupakan pembangun dari kesehatan fisik yang tiada taranya.

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..
Seseorang yang tidak mempelajari seni membagi berkat dengan orang lain tidak menemukan jalan yang benar menuju kebahagiaan yang abadi, karena kebahagiaan hanya timbul dari membagi berkat dirinya. 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Kebahagiaan terletak bukan pada memiliki, tetapi pada melakukan, yaitu membagikan berkat-berkatnya (mengaktualisasikan / menyatakan kemurahan hatinya). 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Jika hasrat atau dorongan seseorang untuk meminta atau mengharapkan imbalan masih lebih besar ketimbang hasrat atau dorongan untuk memberi dan membagi berkat, maka orang tersebut belum benar-benar kaya. Hanya orang yang memiliki hasrat atau dorongan untuk memberi dan membagi berkatlah yang benar-benar kaya.

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Ruangan yang ditempati seseorang di dalam hati orang lain sangat ditentukan oleh pelayanan yang diberikan orang itu melalui suatu bentuk berbagi. Semua kekayaan dapat ditambahkan atau dilipatgandakan dengan proses berbagi yang sederhana, apabila kekayaan itu berguna bagi orang lain (bdk. Kisah Lima Roti dan Dua Ikan yang mampu memberikan kekenyangan kepada ribuan orang di Mat 14:13-21, ”Yesus memberi makan lima ribu orang”; atau paralelnya: Mrk 6:30-44, Luk 9:10-17, atau Yoh 6:1-15). 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Tentu saja ada batas dalam hal pemberian fisik, namun semangat membagi berkat, semangat kemurahan hati, tidak ada habisnya. Kelalaian atau penolakan untuk membagi berkat adalah cara yang pasti untuk memutuskan jalur komunikasi antara seorang manusia dan jiwanya. 

Kekayaan Spiritual: Kasih ………..

Kasih adalah dorongan dari dalam diri (hati / pikiran) seseorang untuk membahagiakan dan memuliakan orang lain. 

2. Kekayaan Mental:

a. Sikap Mental Positif

Semua kekayaan, termasuk juga kekayaan material / finansial, dimulai sebagai suatu kondisi mental (pikiran). Sebaliknya, yaitu tiadanya kekayaan, termasuk tiadanya kekayaan material / finansial, juga dimulai sebagai suatu kondisi mental (pikiran). 

Kekayaan Mental: Sikap Mental Positif ……….

Sikap mental seseorang memiliki daya magnetik yang menarik kepadanya materi yang setara dengan semua ketakutan, keinginan, keraguan, dan keyakinan. Sikap mental juga merupakan faktor yang menentukan apakah doa seseorang mendatangkan hasil negatif atau positif. Sikap mental tidak lain adalah sebab kecil untuk sesuatu yang menakjubkan. Sikap mental negatif akan menarik kondisi-kondisi negatif (kemiskinan, kesengsaraan, kegelisahan, kegagalan, frustrasi, dll.); 

Kekayaan Mental: Sikap Mental Positif ……….

sedangkan sikap mental positif akan menarik kondisi-kondisi positif (kekayaan, kebahagiaan, kedamaian hati, kegembiraan, keberhasilan, optimisme, dll.). Karena daya tariknya yang kuat dalam mendatangkan kondisi-kondisi positif inilah sikap mental positif merupakan sebuah kekayaan.

Kekayaan Mental ……….

b. Kedamaian Pikiran (kebebasan dari ketakutan / kekuatiran)

Kedamaian pikiran merupakan kekayaan, karena tanpa kedamaian pikiran, seseorang tidak dapat benar-benar menjadi kaya. Kedamaian pikiran adalah lebih dari sekadar keadaan yang tenang. Kedamaian pikiran, pada saat yang sama, adalah tenang dan dinamis; atau, dapat dikatakan, dasar yang tenang dan dinamika hidup berada di atasnya.

Kedamaian pikiran mewujudkan dirinya dalam banyak cara, antara lain: 

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kekuatan-kekuatan negatif yang dapat menguasai pikiran, dan kebebasan dari sikap negatif seperti kekuatiran dan perasaan rendah diri;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari perasaan berkekurangan;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari penyakit mental dan fisik jenis apa pun yang ditimbulkan oleh diri sendiri, yang secara kronis merendahkan kehidupan;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari semua ketakutan;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kelemahan umum manusia yang mencari sesuatu secara cuma-cuma;

Kedamaian pikiran adalah memiliki sukacita atas pekerjaan dan prestasi;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menjadi diri sendiri;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan memeriksa sikap terhadap kehidupan dan terhadap sesama manusia, dan selalu menyesuaikan sikap ini agar menjadi lebih baik;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menolong orang lain agar orang tersebut dapat menolong dirinya sendiri;

Kedamaian pikiran adalah kebebasan dari kecemasan tentang apa yang akan terjadi setelah meninggal;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan melakukan sesuatu melebihi tanggungjawab dalam semua hubungan antar sesama manusia;

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan berpikir dalam bentuk apa yang ingin dilakukan, dan bukannya memikirkan hambatan-hambatan yang mungkin menghalangi jalan; 

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan menertawakan kemalangan kecil yang mungkin dialami;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………..

Kedamaian pikiran adalah kebiasaan memberi sebelum memperoleh;

Dan seterusnya.

Kedamaian pikiran mencakup bidang yang luar biasa luas. 

Orang yang diperbudak oleh ketakutan / kekuatiran tidak dapat disebut kaya atau bebas. Ketakutan / kekuatiran adalah pertanda kejahatan, suatu penghinaan kepada Sang Pencipta yang telah memperlengkapi manusia dengan kemampuan untuk menolak apa saja yang tidak diinginkannya. 

Kedamaian pikiran ……….

Kita perlu selalu berusaha untuk mengamati secara mendalam jiwa kita dan untuk memastikan bahwa tidak satu pun ketakutan dasar bersembunyi di dalam diri kita. Apabila semua ketakutan diubah menjadi Iman, kita akan tiba pada titik dalam hidup kita di mana kita dapat menguasai pikiran kita sendiri;

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………….

dan melalui penguasaan atas pikiran itu, kita dapat mencapai semua yang kita inginkan dalam hidup serta menolak semua yang tidak kita inginkan. Kedamaian hati hanya akan dialami, apabila semua jenis ketakutan telah ditaklukkan dan kekuatiran disingkirkan. Tanpa kebebasan dari ketakutan dan kekuatiran ini, tanpa kedamaian pikiran, jenis kekayaan hidup lainnya tidak akan berguna.

Kekayaan Mental: Kedamaian Pikiran ………….

Kedamaian pikiran membantu kita menjalani kehidupan kita sesuai dengan keperluan kita sendiri, dengan nilai-nilai yang kita pilih sendiri, sehingga setiap hari kehidupan kita menjadi semakin kaya dan semakin hebat.

Kekayaan Mental ……


c. Keterbukaan Pikiran

Pikiran yang terbuka menjaga seseorang secara abadi dalam proses pendidikan dan perolehan pengetahuan untuk dapat menguasai pikirannya dan mengarahkannya kepada pencapaian tujuan yang diinginkan. Pendidikan seseorang tidak akan pernah selesai. Hanya orang yang mempertahankan pikiran terbukalah yang benar-benar terpelajar, dan -dengan demikian- siap untuk menerima serta menggunakan semua bentuk kekayaan yang besar. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang selalu dan setiap waktu toleran pada dan siap menerima semua hal, semua orang. 

Pikiran yang tertutup mengurangi dan memutuskan jalur komunikasi antara seseorang dengan Intelegensi Tak Terbatas Sang Pencipta. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Orang yang memiliki tujuan utama dalam hidupnya, tujuan yang mulia dan pasti, harus selalu belajar; dan dia harus belajar dari setiap sumber yang memungkinkan, terutama sumber-sumber yang dapat memberinya pengetahuan khusus dan pengalaman yang berhubungan dengan tujuan utamanya tersebut. 

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Orang yang memiliki tujuan utama dalam hidupnya membiasakan diri dengan penuh tanggungjawab untuk membaca buku-buku / bacaan-bacaan yang berhubungan dengan tujuan tersebut; dan dengan demikian, memperoleh pengetahuan penting yang berasal dari pengalaman orang lain yang telah mengalaminya / mengetahuinya terlebih dahulu.

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Program bacaan harus direncanakan secara cermat sebagai makanan sehari-hari; dan tanpa “makanan” itu, seseorang tidak dapat bertumbuh secara rohaniah. Membaca serampangan mungkin memberikan kesenangan, tetapi jarang bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama seseorang.

Kekayaan Mental: Keterbukaan Pikiran

Selain bacaan, rekan-rekan atau relasi-relasi juga merupakan sumber pendidikan. Dengan memilih rekan-rekan atau relasi-relasi dengan cermat, seseorang dapat bersekutu dengan orang-orang yang dapat memberinya pendidikan bebas melalui percakapan biasa.

Kekayaan Mental ………..

d. Disipilin Diri

Disipilin diri adalah satu-satunya cara yang membuat seseorang dapat sepenuhnya menguasai pikirannya sendiri dan mengarahkannya kepada pencapaian akhir apa pun yang mungkin ia inginkan.

Kekayaan Mental: Disiplin Diri ……..

Orang yang tidak menguasai dirinya sendiri, yang tidak menjadi tuan atas dirinya sendiri, tidak akan pernah sukses menjadi tuan atau penguasa atas sesuatu di luar dirinya sendiri. Seseorang yang menjadi tuan atas dirinya dapat menjadi tuan atas peruntungannya sendiri di dunia, dan “Tuan atas Nasibnya, Kapten dari Jiwanya”.

Kekayaan Mental: Disiplin Diri ……..

Bentuk tertinggi dari disiplin diri tercakup di dalam pengungkapan kerendahan hati setelah seseorang mencapai kekayaan yang besar atau mendapatkan pengakuan yang luas atas pelayanan yang diberikan (kekayaan / popularitas / kemasyhuran / kehormatan yang telah diperolehnya tidak mampu mengambil alih posisi dan statusnya sebagai tuan atas dirinya sendiri). 

Kekayaan Mental ………..

e. Kemampuan untuk memahami orang lain

Orang yang dapat memahami orang lain mengetahui dan mengakui bahwa semua orang pada dasarnya adalah sama, yang berkembang dari tangkai yang sama. Dia juga tahu bahwa semua kegiatan manusia, baik atau buruk, diilhami oleh satu atau beberapa dari kesembilan motif hidup dasar (4 emosi & 5 hasrat).

Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..

Kesembilan motif dasar tersebut adalah:

Emosi Cinta
Emosi Seks
Hasrat untuk memperoleh kekayaan materi
Hasrat untuk menyelamatkan diri
Hasrat untuk memperoleh kebebasan pikiran dan tubuh
Hasrat untuk mengekspresikan diri
Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..
Hasrat untuk memperoleh kehidupan kekal setelah mati
Emosi Kemarahan
Emosi Ketakutan.

Kekayaan Mental: Kemampuan untuk memahami ………..

Orang yang dapat memahami orang lain terlebih dahulu harus memahami dirinya sendiri, karena -dalam kondisi-kondisi yang sama- motif-motif yang mengilhaminya untuk bertindak adalah motif-motif yang juga mengilhami orang lain untuk bertindak.

Kemampuan untuk memahami orang lain adalah dasar dari semua persahabatan, dasar dari semua keselarasan dan kerjasama di antara orang-orang, dan dasar dari segala bentuk kepemimpinan yang memerlukan kerjasama yang baik.

Kekayaan Mental ………..

f. Kemampuan membina hubungan manusia dalam keselarasan
Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Ada dua bentuk keselarasan, yaitu: 

1. keselarasan dengan diri sendiri; dan 
2. keselarasan dengan orang lain. 

Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Pertama-tama, seseorang harus menetapkan keselarasan di dalam dirinya sendiri lebih dahulu; dan untuk menetapkan keselarasan di dalam diri ini, perlu penguasaan atas ketakutan, pemeliharaan sikap mental yang positif, pelaksanaan tujuan utama dalam hidup. Jika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, dia tidak akan mendapatkan kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain dalam semangat keselarasan. 

Kekayaan Mental: Kemampuan membina hubungan ………..

Perselisihan dalam hubungan antara sesama manusia seringkali merupakan akibat dari kekacauan, frustrasi, ketakutan, dan keraguan di dalam diri seseorang yang memproyeksikan / memantulkan keadaan pikiran negatif ini pada orang lain, sehingga dengan demikian membuat keselarasan tidak mungkin tercapai. Keselarasan dengan orang lain dimulai dengan keselarasan dengan diri sendiri.

3. Kekayaan Material

a. Kesehatan Fisik
Tanpa kesehatan, kekayaan material / finansial seringkali kurang berarti dan tidak dapat dinikmati. Contoh: kisah Almarhum Bapak Tjoa Soen Tie (mantan Direktur Utama PT Surya Jaya Bhakti – Jakarta. Beliau yang relatif kaya raya secara material atau finansial mengaku tak bisa menikmati kekayaannya, karena sakitnya membuat dokter menyarankan agar sangat membatasi makanan dan aktivitasnya. Dalam kondisi tersebut, beliau merasa lebih membutuhkan dan menghargai kesehatan ketimbang kekayaan material / finansial-nya yang melimpah). 

Kekayaan Material: Kesehatan fisik ………

Dalam kondisi sakit, kita sering baru menyadari bahwa kesehatan juga merupakan sesuatu yang sangat berharga; bahkan –dalam situasi dan kondisi tertentu- lebih berharga ketimbang kelimpahan uang dan harta benda. Karena itu, sesungguhnya kesehatan juga merupakan sebuah bentuk kekayaan.

Kekayaan Material: Kesehatan fisik ………

Sebagai sesuatu yang sangat berharga, kesehatan tubuh atau fisik perlu dijaga dan dipelihara dengan olahraga dan makanan yang perlu serta istirahat yang cukup, agar selalu prima dalam menjelmakan / melahirkan kekayaan-kekayaan potensial (kekayaan spiritual dan kekayaan mental) serta menikmati sukacita yang menyertainya. 

Kekayaan Material ………….

b. Keamanan ekonomis (kemakmuran material / finansial) 

Keamanan ekonomis atau kemakmuran materi tidak dicapai dengan memiliki uang saja. Keamanan ekonomis, secara esensial dicapai melalui pelayanan yang diberikan seseorang, karena pelayanan yang berguna dapat diubah menjadi segala bentuk pemenuhan kebutuhan manusia, dengan atau tanpa menggunakan uang. 

Kekayaan Material: Keamanan ekonomis ………….

(Di daerah-daerah pelosok, banyak jasa dokter yang dibayar dengan hasil pertanian; saya sendiri juga mengenal beberapa orang yang dihadiahi saham dan kepercayaan untuk mengelola sebuah perusahaan sebagai imbalan atas pelayanan yang diberikan kepada majikannya; banyak atlet yang berprestasi dan memberikan kebanggaan kepada bangsa dihadiahi rumah mewah; dll.).

Penutup:

Sekarang kita telah memahami antitesis dari kemiskinan; kita telah mengetahui bahwa kesepuluh kekayaan pertama (butir 1a s/d 3a) berada di dalam jangkauan semua orang; dan mereka yang menerima serta menggunakannya akan dengan mudah menarik kekayaan kesebelas, yaitu keamanan / kebebasan ekonomis (kemakmuran material / finansial). 

Keamanan / kebebasan ekonomis (kemakmuran material / finansial) “hanyalah” konsekuensi fisik / material dari kekayaan spiritual dan kekayaan mental; dan untuk memiliki kekayaan spiritual maupun kekayaan mental, peluang tak terbatas dan gratis telah ditawarkan kepada setiap orang.

LAGU SELINGAN (O, Rahmat = PS 600) (Kreatif Bapak Ibu saja deh....)

PERTANYAAN POST TEST: 
Apakah yang Membedakan antara kelimpahan hidup versi manusia dan versi Tuhan (Yesus)? 
Apakah Syarat yg diperlukan untuk menggapai kondisi Hidup dalam Kelimpahan? 
Apakah aku sudah hidup dalam kelimpahan sesuai dengan misi Kristus? (Refleksif) 

PENEGUHAN:
Kedatangan Yesus tidak hanya untuk membebaskan kita dari kematian kekal setelah hidup di atas dunia ini. Yesus juga sebenarnya datang untuk menolong kita mengatasi penderitaan hidup duniawi seperti kesulitan ekonomi, pekerjaan, jodoh, karier, dllsb. Kuncinya ternyata harus memiliki mental positif yang didasarkan pada sikap percaya pada apa yang dikatakan Yesus sendiri, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Dan, sebagaiman Nick di dalam tayangan yang kita saksikan tadi, kita juga diajak untuk membagikan “kelimpahan hidup” yang kita miliki kepada sesama yang lainnya, agar berkat Tuhan tidak berhenti hanya sampai pada diri kita.

DOA UMAT: 
Bagi Gereja: Ya Bapa, semoga Gereja-Mu semakin hari semakin terdorong untuk mengusahakan Hidup dalam Kelimpahan bagi seluruh jemaatnya. Kami Mohon.... 
Bagi Sri Paus: Ya Bapa, terangilah Bapa Paus kami.......... agar dalam menggembalakan Gereja-Mu selalu sesuai dengan kehendak-Mu terutama demi mewujudkan Hidup Berkelimpahan bagi segenap umat gembalaannya. Kami mohon.... 
Bagi Pemerintah Kami: Ya Bapa, tuntunlah juga para pejabat pemerintahan kami agar dalam menggariskan kebijakan publik, selalu mengedepankan prinsip kesejahteraan bersama dan bukannya golongan demi terciptanya kondisi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kami mohon..... 
Bagi Kami Sendiri: Ya Bapa, semoga berkat penyuluhan yang baru saja kami lakukan dapat memampukan kami untuk semakin bersemangat mengusahakan kesejahteraan hidup yang merata, materiil maupun spirituil tidak saja bagi diri kami sendiri tapi juga bagi orang-orang yang kami jumpai dalam pengalaman hidup harian kami. Kami mohon.... 
Spontan diperbolehkan..... 

BAPA KAMI: 

Mari kita satukan doa dan permohonan kita dengan doa yang diwariskan Tuhan sendiri kepada kita


PENUTUP

Doa Penutup:

Tuhan Yesus Kristus, Engkau berkenan mengenakan daging manusiawi demi bela rasa-Mu terhadap derita hidup kami umat manusia. Kami mohon kiranya misi mengusahakan hidup dalam kelimpahan bagi manusia yang berkenan di hadapan-Mu, bisa kami teruskan dalam kesaksian hidup kami di tengah masyarakat guna terciptanya kemakmuran yang bisa dinikmati dalam kebersamaan kami dengan mereka yang belum mengenal Dikau, Tuhan yang Meraja bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

BERKAT PENUTUP:

(+) Semoga kita sekalian, usaha2 kita dan cita-cita kita ke depan demi hidup berkelimpahan senatiasa diberkati oleh Allah yang Maha Murah: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin (+)

LAGU PENUTUP.... (Tingkatkan Karya serta Karsa)

Kamis, 13 Februari 2014

Contoh Skema Materi Penyuluhan Agama Katolik untuk Kategori Keluarga

Keluarga Katolik
(ilustrasi: http://thomastrika.wordpress.com)

Di bawah ini disajikan contoh materi penyuluhan agama Katolik untuk kategori Keluarga. Materi ini merupakan hasil pertemuan penyusunan materi penyuluhan agama Katolik yang diikuti para penyuluh agama Katolik PNS sebanyak 30 orang dari berbagai Provinsi di Indonesia di Bogor dari tanggal 25 s.d. 30 Agustus 2013.

Kelompok Sasaran : Keluarga-keluarga Katolik

Tujuan Penyuluhan : Agar orangtua memahami arti keluarga, tugas dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga

Materi Penyuluhan : HAKIKAT KELUARGA


1. Lagu pembukaan

2. Tanda salib dan salam

3. Pengantar berkaitan dengan tujuan

4. Doa mengundang Tuhan

5. Melihat dan mendalami film, foto-foto atau cerita tentang Keluarga yang Harmonis

· Apa yang terjadi dalam film/foto/cerita itu?

· Apa komentar bapak ibu melihat film/foto/cerita itu?

· Apakah film itu menggambarkan keluarga yang ideal? Mengapa?

· Menurut bapak ibu, keluarga ideal itu seperti apa?

6. Mendalami Dokumen Gereja – Familiaris Consortio (tentang Peranan keluarga Kristiani dalam dunia modern)

Ø Oleh karena itu, keluarga adalah persekutuan kasih dan persekutuan kehidupan, yang tugasnya adalah menjaga, menyatakan dan menyampaikan kasih –baik kepada sesama anggota keluarga maupun kepada masyarakat sekitarnya– dan dengan demikian menjadi gambaran akan kasih Allah kepada umat manusia dan kasih Kristus kepada Gereja-Nya.

Ø Orang tua bertugas menciptakan suasana rumah tangga yang penuh kasih dan menghormati Tuhan dan orang lain, dan keluargalah yang menjadi sekolah pertama bagi anak- anak untuk mengajarkan bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik. Dasar utama seluruh kegiatan pendidikan di dalam keluarga adalah cinta kasih orang tua, dan tujuannya adalah agar anak bisa lebih ‘pandai’ mengasihi. (FC 38)

7. Sharing: berdasarkan ajaran Gereja tersebut, apa yang bisa dibuat oleh dan dalam keluarga kita sehingga bisa menjadi keluarga yang diharapkan oleh kita sendiri dan oleh Gereja. Silahkan berbagi pendapat.

8. Penegasan oleh fasilitator…

Peran dan tanggung jawab orang tua

Jati diri orang tua yang telah dipaparkan di atas harus bermuara pada tindakan-tindakan nyata. Landasan berpijak bagi orang tua tersebut harus berlanjut pada perwujudan nyata dari peran dan tanggung jawab orang tua. Apakah itu?

a. Sebagai Pendidik pertama dan terutama

Gereja memberi martabat khusus kepada orang tua sehubungan dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik anak-anak. Orang tua adalah pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak. Orang tua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk mendidik anak-anak, baik secara fisik, sosial, kultural, moral, maupun religius (bdk. Kanon 1136; GE. 3). Orang tua mengemban tugas kewajiban untuk membantu agar anak-anak sungguh-sungguh mampu hidup sepenuhnya sebagai manusia (bdk. FC,36). Peranan orang tua sebagai pendidik demikian menentukan sehingga hampir tidak ada suatu apa pun yang dapat menggantikan apabila mereka gagal menunaikan tugas itu (bdk. GE 3).

b. Sebagai Pemberi nafkah

Ø Orang tua adalah pemenuh semua kebutuhan atau nafkah (makan, minum, pakaian, tempat tinggal/rumah, menikmati pendidikan, dan terjaga keselamatan dan kesehatan) anak-anaknya.

Ø Orangtua tidak bisa menghindar dari kewajiban ini. Terpenuhinya semua kebutuhan itu pasti akan mendukung upaya orang tua dalam mendidik dan mendewasakan anak-anaknya.

c. Sebagai Pembimbing

Orang tua adalah pembimbing bagi anak-anaknya, ibarat seperti seorang gembala menggembalakan dombanya agar tidak tersesat. Sebagai pembimbing, orang tua harus peka terhadap kebutuhan anak-anaknya.

d. Sebagai Penasihat

Menjadi penasihat adalah jiwa dan semangat orang tua bagi anak-anaknya. Orang tua sebagai penasihat bagi anak-anak itu berarti orang tua menjadi tempat untuk bertanya, berdiskusi, dan mengadu bagi sang anak. Sebagai penasihat, orang tua mampu memberikan orientasi dikala anak-anak mengalami keraguan dan kebingungan, memberikan pertimbangan-pertimbangan ketika anak ingin memutuskan hal yang penting bagi hidupnya, memberikan dan mencarikan solusi ketika anak mengalami jalan yang buntu, menunjukkan jalan yang baik dan benar jika anak keliru dalam hidup atau menasihati jika anak keliru.

Orang tua sebagai penasihat hendaknya memiliki sikap-sikap demikian: menyediakan waktu yang cukup untuk anak, mau mendengarkan apa pun keluh kesah si anak, bisa memegang atau menyimpan rahasia anak, tidak mengadili apalgi memojokkan dikala anak melakukan kesalahan, mau peduli terhadap apa pun yang menjadi kondisi anak.

9. Doa Bapa Kami dilanjutkan 3 x salam maria

10. Doa Penutup

11. Berkat penutup

12. Lagu penutup.

Selasa, 11 Februari 2014

Contoh Skema: Penyuluhan Agama Katolik untuk Ketegori Remaja/ Orang Muda Katolik

Orang muda Katolik masa depan Gereja
(ilustrasi: http://youth-catholic.blogspot.com)
         Di bawah ini disajikan contoh materi penyuluhan agama Katolik untuk kategori remaja/ Orang Muda Katolik. Materi ini merupakan hasil pertemuan penyusunan materi penyuluhan agama Katolik yang diikuti para penyuluh agama Katolik PNS sebanyak 30 orang dari berbagai Provinsi di Indonesia di Bogor dari tanggal 25 s.d. 30 Agustus 2013.
    
TEMA : MENGHARGAI HIDUP

SUB TEMA : NARKOBA

HARI/TGL : .................

TUJUAN : Peserta mampu menghindarkan diri dari penyalahgunaan narkoba dan belajar hidup sehat

SASARAN : KAUM MUDA KATOLIK

METODE : Tanya jawab, Diskusi, sharing

SARANA/PRASARANA : infokus, power point, foto pengguna narkoba

PEMIKIRAN DASAR :
Pada dasarnya manusia ingin  hidup damai dan sejahtera. Hal itu mendorong manusia untuk melakukan berbagai upaya demi terwujudnya keinginan tersebut. Namun terkadang, ada cara atau upaya yang ditempuh manusia, yang ingin memperoleh kebahagiaan tetapi justru bukan kebahagiaan yang didapat tetapi kesengsaraan seumur hidup. Satu di antara cara atau upaya yang keliru dalam memperoleh kebahagiaan itu adalah dengan menggunakan narkoba.

Kaum muda merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif, seperti penggunaaan narkoba yang bisa mengakibatkan rusaknya masa depan dan pribadi kaum muda itu sendiri. Karena itu Gereja terpanggil untuk melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda saebagai salah satu cara dalam mencegah penyalahgunaan terhadap obat-obatan terlarang/ narkoba.

Dalam kitab Suci, terutamPerjanjian Baru, Paulus telah menegaskan tentang penting mengharga dan menjaga tubuh sebagi kenisah Allah : “Tidak taukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu” (1 Korintus 3:16, Bdk. 1 Kor 6:17-19). Hal yang sama ditegaskan dalam Kitab Kejadian tentang manusia sebagai citra Allah (Kejadian 1:26)

9.     LANGKAH-LANGKAH:
a.     Doa Pembuka
b.    Menyampaikan tema dan tujuan pertemuan
c.     Mengangkat fakta-fakta yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba lewat tayangan berupa foto-foto
d.    Menggugah peserta dengan mengajukan beberapa pertanyaan kritis sebagai bahan untuk memulai dialog dan diskusi
·    Apa itu narkoba dan jenis-jenisnya?
·    Mengapa kebanyakan kaum terjebak dalam penggunaan narkoba ?
·    Apa dampak atau akibat dari penyalahgunaan narkoba? (Dampak terhadap pribadi (kesehatan, psikologis) dan  sosial kemasyarakatan)
·    Bagaimana upaya kaum muda menghindarkan diri dari penggunaan narkoba?
e.     Presentasi dan penegasan beberapa point penting:
·   Narkoba singkatan dari Narkotika dan Obat-obatan terlarang
·   Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yg dpt menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi smp menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan.
·   Psikotropika adalah zat atau obat baik alami maupun sintesis bukan narkotika yang bersifat psikoakitif melalui  pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktitifitas mental dan perilaku.
·   Obat-obat terlarang adalah bahan kimia yang berbahaya yang mudah meledak, terbakar, menyalah dan yang mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia (pengguna).
·   Jenis-jenis narkoba: )
Ø  Ganja
Ø  Putauw/heroin
Ø  Cocain
Ø  Shabu
Ø  Ampetamin
Ø  Pil BK
Ø  Magadon
Ø  Extacy/inex
Ø  Caffeine
Ø  Nikotin
Ø  Alkohol
Ø  Sejenis lem aibon

·    Faktor-faktor penyebab penggunaan narkoba:
1. Faktor Pribadi
•     Pribadi yang mudah frustrasi, hal ini terjadi bila keinginannya tidak terpenuhi.
•     Kecendrungan untuk melanggar
•     Pribadi yang sulit bergaul
•     Pribadi yang ingin dianggap hebat, dalam hal ini narkoba dianggap memberi rasa hebat.
•     Pribadi yang ingin selalu mencoba
•     Pribadi yang mudah bosan terhadap sesuatu
2. Faktor Lingkungan Keluarga
o    Kurangnya perhatian orang tua dalam keluarganya, karena terlalu sibuk dengan kerjaan dan kemewahan sehingga membiarkan anaknya berlaku semaunya.
o    Ketidaklengkapan orang tua dalam keluarga, karena salah satu orang tua meninggal dunia atau karena perceraian yang biasa disebut broken home.
o    Bahkan dapat dikatakan suatu penyebab penyalahgunaan narkoba adalah lingkungan yang tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis para pelajar / remaja, karena sikap kedua orang tuanya, diantaranya sebagai berikut:
Sikap orang tua yang terlalu keras.
*  Berdasarkan kenyataan, mendidik anak tidaklah mutlak harus dengan kekerasan. Orang tua yang mendidik anaknya dengan cara keras, justru akan mendapat hasil yang sebaliknya dari apa yang diharapkan oleh para orang tua, bahkan akan mencelakan orang tua dan diri anak sendiri. Akibat perlakuan yang keras dari orang tua, anak akan membebaskan diri dan lari kedunia narkoba dan alcohol.
Sikap orang tua yang masa bodoh dengan anaknya.
*  Anak seharusnya membutuhkan bimbingan dan kasih saying orang tuanya. Anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya akan kehilangan kasih saying, sehingga anak memenuhi kebutuhan tersebut dengan mencari kesenangan dengan caranya sendiri. Salah satu yang mungkin adalah penyalahgunaan narkoba dan alkohol.
Sikap orang tua yang terlalu memanjakan anak
*  Orang tua yang terlalu memanjakan anak dapat mengakibatkan anak bersikap semaunya sebab ia merasa semua keinginannya terpenuhi.
· Akibat-akibat penggunaan narkoba :
Menyebabkan terjadinya kondisi abnormal, terjadinya ketidaksadaran, pingsan bahkan terjadi kematian.
Menyebabkan rusaknya saraf utama, system pembuluh darah, jantung, hati dan lain-lain.
Dijauhi/ditolak oleh masyarakat
Bagi para pecandu narkoba, secara ekonomis mengeluarkan biaya besar untuk membeli narkoba yang pada akhirnya bisa melakukan tindakan pencurian/krimanal demi mendapat barang yang diinginkan
Secara psikologis mengakibatkan perubahan perilaku untuk memperoleh lebih besar jumlah minuman beralkohol secara berkala atau tetap, lebih jauh daripada itu seseorang yang sudah kecanduan dapat melakukan pemerasan, penodongan, pembunuhan hanya untuk mendapatkan minuman beralkohol.
Secara fisiologis, pengguna narkoba rentan terhadap sakit dan penyakit
·         Upaya-upaya yang dapat kita lakukan adalah:
*   Memberi informasi akan bahaya narkoba dan alkohol
*   Memberi penyuluhan kepada orang muda yang belum pernah memakai narkoba dan mengkonsumsi alKohol.
*   Bekerja sama dengan pihak : orang tua, masyarakat dan lembaga penegak hokum untuk mengambil tindakan terhadap pengguna (pemakai dan penyalur ) narkoba.
*   Menigkatkan iman orang muda
*   Terlibat dalam kegiatan Gereja dan selektif dalam bergaul

·  Membaca dan mendalami teks Kitab Suci dari: 1 Korintus 3:16, 1Korintus 6:17-19 dan Kejadian 1:26

·  Memberikan beberapa  pesan dari teks Kitab Suci :
Tubuh manusia adalah Bait Allah, Bait Roh Kudus. Artinya Allah hidup dalam diri kita (1Kor 3:16)
Karena Allah hidup dalam diri kita, maka kita perlu menjaga dan merawat diri kita dengan baik. Sebab penyalahgunaan narkoba secara lansung merusak Bait Allah (1Kor 6:17-19)
Allah menciptakan manusia sebagai citra Allah, gambaran Allah (Kej 1:26)

MEMBANGUN NIAT

Apakah yang akan saya lakukan setelah mengikuti pertemuan ini, baik secara pribadi maupun bersama-sama, sehingga Anda terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan memilih cara hidup yang sehat sesuai nasehat Kitab Suci?

Peserta diberi kesempatan untuk menulis atau merancang niat secara pribadi dan bersama. Niat itu didoakan bersama pendamping.

DOA PENUTUP

LAGU PENUTUP