Selasa, 04 Februari 2014

Meningkatkan Minat Orang Muda Katolik (OMK) Hidup Menggereja

Oleh: Bartholomeus Arosi, Penyuluh PNS Prov. Kalimantan Barat 

1. Pengantar

Masyarakat sekarang ini berhadapan dengan berbagai jenis permasalahan hidup. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kemajuan ilmu teknologi, yang secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak tersendiri bagi Orang Muda Katolik. Di satu pihak, perkembangan ilmu teknologi menawarkan suatu nilai positif yang menggembirakan, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai sarana pewartaan Injil dan komunikasi antar-Orang Muda Katolik. Akan tetapi di lain pihak, perkembangan ilmu teknologi membawa akibat negatif yang seringkali menghilangkan kreativitas dan bahkan menurunkan nilai-nilai moral yang bisa menghancurkan iman kekristenan kita, terutama dapat menghambat keaktifan Orang Muda Katolik hidup menggereja.

Selain itu, dewasa ini muncul sebuah trend yang semakin menggejala, dimana Orang Muda Katolik tidak lagi tertarik pada agama aslinya (agama yang dianutnya saat ini). Ketidakpastian hidup yang diakibatkan oleh berbagai krisis yang melanda kehidupan sosial mereka, membuat mereka frustrasi, tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini kerapkali membuat mereka mengambil jalan pintas dengan mengambil sebuah keputusan negatif, yang akhirnya membuat mereka melupakan Tuhan. Buah-buah dari keputusan itu salah satunya melahirkan sebuah keyakinan hidup berupa: “Agama Baru” atau “Religiositas Baru”. Gejala ini tampak dengan munculnya salah satu sekte, seperti: “gereja setan”. Banyak kaum muda terjerumus ke dalam ketergantungan pada obat-obat terlarang, perjudian, pelacuran, minuman keras dan banyak gaya hidup lain yang membuat mereka berpaling dari Allah. Segalanya itu mereka “sembah” dan “puja” sebagai “allah” mereka. 

Di dalam Gereja Katolik terdapat pelbagai bentuk perkumpulan doa, yang termasuk ke dalam lingkungan “Religiositas Baru” ini, misalnya seperti karismatik, persekutuan doa dan kelompok penyembuhan. Disebut “Religiositas Baru” karena kadang-kadang para pengikut kelompok ini merasa diri tidak perlu berdoa ke gereja, sebab dalam kelompok doa mereka sendiri, mereka bisa “menemukan” Tuhan.

Realitas di atas merupakan salah satu sisi buram dari Wajah Gereja saat ini, yang tidak menutup kemungkinan bisa melanda Orang Muda Katolik. Kecenderungan-kecenderungan ini tampak jelas di kota-kota besar dan bahkan akan bisa menyebar ke pelosok daerah. Muncul semacam kebosanan Orang Muda Katolik terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan. Banyak mereka merasa bosan ke gereja, karena ritusnya yang monoton, kotbah yang tidak menarik atau sekurang-kurangnya kalah jauh dengan segala macam acara sinetron di televisi dan acara-acara profan lainnya. Hal ini tentu juga menjadi tantangan besar bagi Gereja. Kebanyakan Orang Muda Katolik sekarang lebih menyukai acara televisi dan berbagai acara profan (yang bersifat duniawi) daripada harus berkumpul di gereja, untuk berdoa dan melakukan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Kesenangan duniawi membuat mereka tidak tertarik kepada kegiatan-kegiatan menggereja. Muncul pertanyaan, apakah Gereja mampu “bersaing” dengan “Agama Baru” ini[1]?

Nah, bagaimana Gereja dapat menawarkan sebuah kehidupan yang mendukung iman umat, terutama Orang Muda Katolik, melalui bentuk-bentuk hidup menggereja dengan harapan dan penghayatan yang efektif? Kalau pertanyaan ini tidak dapat kita jawab, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan mengalami apa yang menggejala di Eropa, dimana orang semakin sedikit ke gereja, kecuali pada upacara pembaptisan, komuni pertama, perkawinan dan kematian[2].

Berbagai kenyataan di atas apabila tidak disikapi secara bijak oleh Gereja, maka akan berdampak buruk terhadap proses pewartaan iman dan keaktifan Orang Muda Katolik hidup menggereja. 

Pemikiran-pemikiran di atas, menjadi salah satu motivasi yang membangkitkan kesadaran penulis untuk menyajikan tulisan ini, dengan tujuan agar Orang Muda Katolik semakin bergiat dan berperan aktif dalam hidup menggereja. 

2. Siapa Orang Muda Katolik?

Orang Muda Katolik dapat diartikan sebagai kaum muda katolik, baik pria maupun wanita, terutama mereka yang belum menikah, yang berada di stasi-stasi maupun paroki-paroki. Orang Muda Katolik memiliki sebuah organisasi kegerejaan yang bertujuan membantu kaum muda katolik agar lebih beriman. Melalui kegiatan-kegiatan kerohanian, mereka diharapkan mampu memelihara iman dan menjaga moral demi terciptanya manusia yang berkualitas.

3. Bentuk-bentuk Peningkatan Keaktifan Orang Muda Katolik dalam Menggereja

3.1 Pembinaan Rohani-Spiritual

Pada tahun 2009, Gereja mencanangkan sebagai tahun pemuda. Tema yang diambil adalah: “ORANG MUDA KATOLIK MENGGUGAH DUNIA”. Gereja berharap kita kembali memperhatikan Orang Muda Katolik. Bagaimanapun juga yang tua-tua suatu saat harus mundur dan akan diganti oleh kaum muda. Maka mempersiapkan mereka secara baik untuk melanjutkan proses kepengurusan gereja dan negara tentu menjadi tugas kita bersama.
Berbagai model pendampingan bisa dilakukan untuk mendampingi mereka. Pendampingan ini terkait erat dengan fase pertumbuhan manusia.

Setiap fase pertumbuhan manusia memiliki sifat kekhasan tersendiri, sehingga metode pembinaan atau pendampingannyapun juga menyesuaikan perkembangan dan dinamikanya. Pada fase usia Pendidikan Iman Anak dan Pendidikan Iman Remaja mungkin agak sedikit mudah diarahkan dan disamakan dalam pendampinganya, mengingat pada usia-usia itu pola pikir mereka relatif sama; karena perbedaan usianya pun tidak terlampau jauh berbeda. Akan tetapi memasuki usia fase Orang Muda Katolik tentu jauh sangat berbeda. Jarak usia antara 13 tahun sampai dengan 35 tahun jelas memiliki perbedaan yang sangat beragam. Sangatlah tidak mudah menyatukan mereka antara anak usia 13-17 tahun dengan anak usia 20-25 tahun dan apalagi usia 27-35. Baik dari pola pikir, aktifitas maupun kebiasaannyapun sangat berbeda.

3.1.1 Doa Lingkungan

Doa lingkungan adalah doa yang dilakukan oleh umat Katolik yang berada di sebuah lingkungan Katolik, yang biasanya dilaksanakan di rumah-rumah secara bergiliran. Doa lingkungan dapat berupa ibadat sabda, sharing Kitab Suci dan devosi-devosi kepada orang kudus, terutama devosi kepada Bunda Maria dalam doa rosario. Doa lingkungan juga dapat bermanfaat sebagai wadah pertemuan antarumat, untuk membentuk suatu persaudaraan kasih. Persaudaraan ini mesti berlandaskan pada ajaran Yesus Kristus yang tampak jelas dalam Injil.

Orang Muda Katolik, sebagai anggota Gereja, diharapkan terlibat aktif dalam doa lingkungan ini. Melalui doa lingkungan, mereka dapat merasakan suasana hidup persaudaraan Gereja, yang mengikat mereka dalam cinta. Dengan demikian, Orang Muda Katolik merasa bahwa mereka juga memiliki tugas dan panggilan yang sama dengan anggota Gereja yang lain. Mereka merasa diterima dan dihargai oleh Gereja dan dengan demikian mereka terpanggil untuk secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja.

3.1.2 Retret dan Rekoleksi

3.1.2.1 Retret

Tujuan retret adalah untuk mencapai “kesehatan” rohani Orang Muda Katolik, sehingga mampu menghayati hidup dan panggilannnya sesuai dengan potensi rohani secara optimal, mengenal diri secara lebih utuh dan berani serta mengadakan pertobatan. Berdasarkan pengalamannya, Romo Paul Suparno, SJ menyebut empat tujuan yang kebanyakan ingin dicapai dalam retret (terutama remaja), antara lain: Pertama, merasakan dan menyadari kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari, kedua, mengenal diri sendiri secara lebih mendalam, ketiga, merasakan kasih persaudaraan bersama dengan saudara-saudari se-iman dan keempat, memperoleh kebahagiaan hidup yang lebih optimis sehingga berani mengasihi orang lain[3]. Retret juga bertujuan mengisi kehidupan dengan hal-hal rohani agar lebih dibatinkan dan agar panggilan kita sebagai anak-anak Allah lebih kentara dalam kehidupan nyata[4].

Berdasarkan pokok pemikiran atas tujuan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan retret adalah untuk mengembangkan kecakapan, kesalehan dan kemampuan rohani pribadi, agar lebih lebih mengenal diri dan panggilannya, supaya lebih mengenal Allah beserta cinta, karya dan panggilanNya, serta untuk mengembangkan kepekaan dan kemampuan menanggapi sapaan atau panggilan Tuhan dalam hidup sehari-hari, sehingga mempunyai arah yang jelas, penuh semangat dan keteguhan serta kegembiraan dalam menjalankan berbagai kegiatan hidup sehari-hari[5].

3.1.2.2 Rekoleksi

Rekoleksi juga bertujuan melatih kemampuan Orang Muda Katolik untuk mengenal, menyadari kasih, karya dan panggilan serta sikap dan tanggapan pribadi mereka, sehingga iman mereka semakin matang, serta dapat menghayati tugas panggilan mereka secara penuh tanggung jawab, semangat, gembira dan tangguh[6]. Melalui rekoleksi, Orang Muda Katolik dibawa ke alam refleksi perihal kehidupan pribadi. Mereka diharapkan mampu mengolah diri, dengan mengumpulkan berbagai pengalaman harian, baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan; dan akhirnya menyerahkan berbagai “beban” dan kebahagiaan serta harapan kepada Allah. Mereka mesti memandang hidup ini sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Oleh karena itu, sikap doa, kontemplasi dan refleksi atas Sabda Allah mesti menjadi tindakan wajib bagi Orang Muda Katolik.



3.1.3 Kemah Rohani

Melalui kemah rohani, Orang Muda Katolik dapat merasakan kasih Tuhan lewat alam ciptaan. Mereka menyadari bahwa cinta Tuhan tidak terbatas pada satu lingkungan hidup saja, melainkan dalam berbagai dimensi hidup manusia, yakni alam semesta.

Kesadaran bahwa manusia adalah “gambar Allah” atau “citra Allah”, hendaknya juga menjadi kesadaran bagi Orang Muda Katolik dalam upaya mereka untuk mencintai alam sekitar. Kesadaran ekologis ini membantu Orang Muda Katolik agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama dan kehidupan alam semesta. Dengan demikian, mereka menjadi pelayan dalam keterarahannya kepada Allah, pencipta dan sumber segala yang ada di dunia[7].

3.1.4 Latihan Koor atau Latihan Lagu-lagu Rohani Gereja

Orang Muda Katolik perlu juga diperkenalkan oleh para katekis dengan lagu-lagu rohani Gereja, agar mereka semakin menaruh perhatian kepada hal-hal yang spiritual; dan dengan demikian, mereka merasakan kedekatan yang akrab dengan Tuhan dan Gereja. Dewasa ini, ada gejala bahwa Orang Muda Katolik lebih menyukai lagu-lagu profan (duniawi) ketimbang lagu-lagu rohani. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi, terutama kemajuan dalam bidang seni suara, yang lebih menomorsatukan lagu-lagu profan yang mampu menggugah perasaan kaum muda, daripada lagu-lagu yang bernada spiritual, yang bisa menghantar manusia kepada Allah.

Kecintaan terhadap lagu-lagu rohani Gereja merupakan sebuah pertanda bahwa Orang Muda Katolik memiliki kesadaran spiritual, berupa kemauan untuk senantiasa mencari kehendak Allah. Di samping itu, latihan koor atau latihan lagu-lagu rohani Gereja juga bertujuan untuk mengajarkan Orang Muda Katolik perihal bagaimana membaca not secara lebih baik dan tepat. Kiranya melalui latihan ini, mereka tidak merasa asing terhadap lagu-lagu rohani Gereja dan not-not yang terdapat dalam lagu.

3.1.5 Legio Maria

Melalui kegiatan Legio Maria, Orang Muda Katolik diberi tugas untuk menjadi bentara atau “pasukan” Maria, yang dengan rela hati dan penuh keberanian menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, melalui ketaatan mereka kepada Maria. Sebagai legiun (bahasa Latin: pasukan) Maria, Orang Muda Katolik semakin menyadari perlunya menaruh perhatian kepada Gereja, melalui pelayanan-pelayanan sosial karitatif terhadap mereka yang sakit dan membutuhkan bantuan. Sikap ini mereka laksanakan tanpa henti dan rasa takut, bagaikan seorang tentara yang rela menyerahkan seluruh hidup, bahkan nyawanya bagi orang lain. 

Maria yang terberkati dan tetap perawan, yang setelah Kristus, ia menduduki tempat tertinggi dalam Gereja. Maria dikandung tanpa cela dan dengan mulia terangkat ke surga. Ia diangkat sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Fakta bahwa orang-orang Kristiani menimba insprirasi dari teladan kepahlawanan Maria dan para kudus, bersekutu dengan mereka dan memohon pengantara mereka di hadapan Allah, menjadi bentuk pewartaan yang tepat bagi Orang Muda Katolik untuk hidup menggereja[8]

Melalui Legio Maria, Orang muda Katolik diajak supaya “ingin tahu” lebih banyak tentang iman katolik, memperkaya kehidupan doa mereka dan mengembangkan persahabatan Katolik yang erat, serta ingin lebih dekat dengan Yesus dan ibu-Nya. Melalui kegiatan Legio Maria, Orang Muda Katolik diangkat menjadi alat Roh Kudus dalam suatu keseimbangan antara doa dan karya pelayanan, berupa kegiatan evangelisasi dari rumah ke rumah, mengunjungi anggota gereja, orang-orang di penjara, orang sakit atau lanjut usia, hubungan dengan masyarakat, pendidikan keagamaan, mengunjungi para baptisan baru, ziarah patung Bunda Maria secara bergiliran, dan mengunjungi umat yang membutuhkan bantuan kerohanian. Para Legioner berada dalam bimbingan seorang pemimpin rohani yang ditunjuk oleh Pastor. Legio, pada intinya, merupakan perpanjangan tangan dan semangat dari Pastor.

3.1.6 Misa Orang Muda Katolik

Bentuk pembinaan lain yang paling penting terhadap Orang Muda Katolik dalam upaya meningkatkan keaktifan mereka hidup menggereja adalah mengadakan perayaan ekaristi. Melalui perayaan ekaristi, Orang Muda Katolik dapat semakin memahami misteri ekaristi dan panggian Allah bagi mereka. Ekaristi menceritakan kemauan Allah yang kuat bagi keselamatan manusia. Hal ini ditandai dengan kerelaanNya menyerahkan Putera satu-satuNya, yang dikasihiNya untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Selain itu, ekaristi juga merupakan puncak dari kesetiaan dan kerendahan hati Yesus Kristus untuk meminum piala kehendak Bapa (Mat 26:39). Ekaristi adalah rahmat cuma-cuma yang menampakkan kasih Allah kepada dunia. Melalui ekaristi, Yesus mempersembahkan diri secara sukarela demi keselamatan umat manusia. 

Perayaan ekaristi juga bertujuan membangkitkan kesadaran Orang Muda Katolik, bahwa mereka diselamatkan oleh kasih Kristus. Oleh karena itu, mereka dimampukan untuk meneladani kesetiaan Kristus dalam hidup mereka. Dengan demikian, mereka diajak supaya semakin beriman dan membuka hati untuk menerima rahmatNya seraya dengan penuh syukur turut serta pada proyek keselamatan Allah. Ekaristi adalah pusat, sumber dan inti hidup Kristiani. Ekaristi adalah sebuah anamnesis kurban Kristus di salib. Dalam Ekaristi terjadi sebuah transubstansiasi dan prensentia realis Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

3.1.7 Pertemuan antar-Orang Muda Katolik

Salah satu ciri khas orang muda adalah memiliki keinginan untuk selalu berkumpul dan bertemu dengan teman-teman sebaya. Melalui pertemuan, baik pribadi maupun kelompok, mereka dapat mengungkapkan berbagai bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Orang Muda Katolik, sebagai organisasi orang muda Gereja, juga memiliki keinginan untuk senantiasa bertemu dengan teman-teman sebaya mereka. Pertemuan ini merupakan saat yang tepat bagi Gereja (para katekis) untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada Orang Muda Katolik. Upaya ini dilakukan melalui berbagai kegiatan rohani, seperti: Seminar perihal kehidupan iman Orang Muda Katolik, moralitas Orang Muda Katolik, perlunya bacaan-bacaan rohani serta pentingnya kesadaran Orang Muda Katolik untuk hidup menggereja dalam dunia dewasa ini.

3.2 Pembinaan Fisik-Mental

3.2.1 Penyuluhan tentang Bahaya HIV/AIDS, Narkoba dan Obat-obat Terlarang

3.2.1.1 HIV/AIDS[9]

Permasalahan HIV/AIDS sejak lama telah menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat, terutama Orang Muda Katolik. 

Beberapa tahun belakangan, angka kasus endemi HIV/AIDS meningkat tajam di seluruh Indonesia. Wabah ini terutama dipicu oleh para penyalahguna narkoba suntik dan para pekerja seks komersil. Akibatnya, resiko tertular anak muda pun semakin tinggi. Sementara itu penularan HIV/AIDS di kalangan ibu hamil berada di bawah 3 persen. Sayangnya data untuk penduduk secara umum masih kurang. Kendala utamanya adalah cap negatif, diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS. 

Pada tahun 2003, satu pertiga remaja putri dan satu perlima remaja putra usia antara 15-20 tahun ternyata belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Situasi semakin parah karena obat anti bodi untuk menangkal bahaya ini sangat minim. Kecenderungan menunjukkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan beresiko mengalami epidemi yang lebih besar. Peningkatan penularan HIV/AIDS di kalangan kelompok beresiko di beberapa daerah di Indonesia menjadi salah satu indikator potensi kenaikan yang cukup mengkhawatirkan. 

Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Orang Muda Katolik mengenai penyakit menular ini melalui pendidikan, pengetahuan Agama (iman) dan penyadaran akan nilai-nilai moral menjadi hal yang utama. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran epidemi ini lebih luas lagi. Kalau tidak, maka pemahaman negatif, diskriminasi dan ketidaktahuan akan bahaya HIV/AIDS tetap menjadi kendala bagi upaya penanggulangan lebih jauh. Program HIV/AIDS bertujuan memberi pendidikan dan pencegahan bagi kaum muda dan masyarakat umum melalui berbagai cara, misalnya melalui sekolah-sekolah, lembaga-lembaga keagamaan, kelompok-kelompok LSM yang peduli HIV/AIDS dan kelompok kepemudaan. Target utama pencegahan adalah perempuan dan pasangan mereka.

Di tingkat internasional juga digalakkan program pencegahan penyakit ini. Salah satu badan PBB yang menangani hal ini adalah UNICEF. Tujuan utama program UNICEF adalah untuk mengurangi pemikiran negatif dan diskriminasi terhadap penderita lewat penyuluhan melalui dialog kebijakan, mobilisasi sumber daya pengembangan material, jaminan mutu, pengawasan dan evaluasi. Selain itu, pemerintah juga sudah mengambil langkah untuk mengurangi penularan HIV di kalangan kaum muda, ibu hamil dan anak-anak yang rentan terhadap penularan. Pemerintah juga mengadakan program pencegahan penularan ibu ke anak yang menargetkan perempuan usia produktif dan pasangan mereka.

3.2.1.2 Narkoba[10]

Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah, mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa di sekolah-sekolah, diskotik, tempat pelacuran dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, organisasi masyarakat dan pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu merajalela. Upaya pemberantasan narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus ke dalamnya. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi narkoba.

Narkoba, apabila dikonsumsikan secara berlebihan bisa mengakibatkan seseorang menjadi berhalusinasi, yaitu melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata seolah-olah nyata (halusinogen). Efek lain dari narkoba adalah stimulant (organ tubuh seperti jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya), sehingga mengakibatkan seseorang lebih bertenaga, senang, enerjik dan bersemangat untuk sementara waktu.

Narkoba juga bisa mengakibatkan deperesen yaitu terjadinya ketegangan sistem syaraf pusat yang berdampak pada berkurangnya aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tidak sadarkan diri. Seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan ingin lagi. Zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif, karena secara tidak langsung narkoba memutuskan syaraf-syaraf dalam otak. Jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pengguna itu akan overdosis dan akhirnya menyebabkan kematian. 

Narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak saja, karena narkoba bukan hanya masalah individu tetapi masalah semua orang. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan semua pihak, baik pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun komunitas lokal. 

Adalah sangat penting kerjasama antar-elemen masyarakat dan Gereja dalam rangka melindungi Orang Muda Katolik dari bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima dengan memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat kepada mereka. Orang Muda Katolik membutuhkan informasi, strategi dan kemampuan untuk mencegah atau mengurangi dampak bahaya narkoba dari lingkungan mereka. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya narkoba adalah dengan melakukan program anti narkoba. Program ini terutama dititikberatkan kepada anak-anak usia sekolah (school-going age oriented). 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh Gereja ketika melakukan program penyuluhan anti narkoba kepada Orang Muda Katolik, antara lain:

Pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak mereka. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah, menjadi prioritas utama yang mesti diperhatikan oleh setiap orang tua terhadap anak-anak mereka. Kelompok dukungan dari orangtua, dalam hal ini adalah dari pihak Gereja, merupakan model intervensi yang mesti juga digunakan oleh para aktivis pencegah narkoba. 

Kedua, Gereja menekankan secara jelas kepada Orang Muda Katolik sebuah kebijakan untuk berkata: “tidak” terhadap narkoba. Upaya ini membutuhkan konsistensi Gereja untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah; karena itu Gereja harus melakukan kegiatan-kegiatan yang mendorong sebuah gerakan anti narkoba di lingkungan Orang Muda Katolik. Kepada mereka, Gereja harus memberikan penjelasan terus-menerus bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak. 

Terakhir, Gereja mesti meningkatkan kepercayaan iman dan penanaman nilai-nilai moral yang kuat kepada Orang Muda Katolik. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara Orang Muda Katolik dengan Gereja, dengan demikian mendorong mereka menjadi model yang lebih berpengaruh di lingkungan Gereja. 

3.2.1.3 Obat-obat Terlarang[11]

Salah satu obat terlarang adalah heroin. Heroin adalah salah satu bagian dari morfin (karena itulah namanya disebut diasetilmorfin). Ia berbentuk kristal putih, umumnya adalah garam hidroklorida, diamorfin hidroklorida. Heroin dapat menyebabkan kecanduan. Selain itu ada juga obat terlarang yang dinamakan Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica). Ganja adalah tumbuhan budidaya penghasil serat. Ganja lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. 

Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap Hashish melalui pipa Chilam/Chillum, dan dengan meminum bhang (bong). Di beberapa negara, tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang yang berdasarkan bahan kimiawi dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia. 

Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia yang berlebihan, serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu. Efek negatif secara umum adalah bila sudah menghisap maka pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana (obat yang berguna bagi kesehatan). Selain itu, medical marijuana bisa dipakai untuk pereda rasa sakit dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker). Banyak juga pihak yang menyatakan bahwa medical marijuana dapat menyebabkan lonjakan kreatifitas dalam berfikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).

Berdasarkan penelitian terakhir, salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreatifitas adalah hasil silangan modern "Cannabis indica" yang berasal dari India dengan "Cannabis sativa" dari Barat. Jenis Marijuana silangan inilah yang merupakan tipe yang tumbuh di Indonesia. Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu, di mana dalam golongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan methamphetamin.

Marijuana, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, karena hampir semua unsur yang ada pada marijuana dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Hal ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga tersiksa secara fisik dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.

Berbagai realitas yang memilukan di atas, sebagai akibat negatif dari obat-obat terlarang mesti menguak kesadaran Gereja, untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada Orang Muda Katolik akan bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh obat-obat terlarang tersebut.

3.2.2 Latihan Kepemimpinan 

Latihan kepemimpinan sangat penting dilakukan terhadap Orang Muda Katolik. Melalui kegiatan ini, Orang Muda Katolik dilatih supaya memiliki mental yang kuat serta mempunyai kemampuan untuk menjadi pemimpin, baik dalam kelompok sebagai Organisasi maupun dalam masyarakat di mana mereka berada. Dengan demikian, Orang Muda Katolik bukan lagi sebuah organisasi formal yang hanya didirikan sebagai jawaban atas kebutuhan pastoral Gereja semata, melainkan sebagai organisasi Gereja yang berdiri atas mental yang kuat, sehingga tidak tergoyahkan oleh berbagai arus negatif dari globalisasi masa kini. Dengan kata lain, mental yang kuat dan terorganisir merupakan dasar yang kuat untuk menghadapi berbagai gejolak masa kini.

3.2.3 Bakti Sosial

Bakti sosial berguna bagi Orang Muda Katolik dalam upaya mengungkapkan rasa cinta dan kesetiakawanan atau solidaritas kepada sesama dan masyarakat yang membutuhkan. Orang Muda Katolik tidak boleh bersikap acuh-tak acuh terhadap dunia dan masyarakat. Mereka dipanggil oleh Allah untuk ikut berusaha membaharui dunia ini dalam Kristus. Contoh konkret dari pemikiran ini adalah membersihkan gedung Gereja, membangun jalan, mengunjungi orang sakit atau orang yang mengalami kemalangan dan lain sebagainya. Keterlibatan diri dalam realitas hidup orang lain yang membutuhkan pertolongan, merupakan salah satu upaya Orang Muda Katolik untuk merasakan penderitaan mereka yang malang. Orang Muda Katolik senantiasa ditantang untuk mengambil sikap yang solider, sebagai wujud keterlibatan mereka dalam masyarakat, khususnya masyarakat kecil, sehingga Orang Muda Katolik mampu menjadi wadah bagi tumpahan keluhan dan penderitaan orang-orang kecil dan menderita. Inilah konsekuensi logis dari iman akan Kristus. Beriman kepada Kristus berarti mengabdi Kristus dan melayani Dia dalam diri sesama. 

Iman akan Kristus mesti disampaikan melalui kesaksian hidup dan kata-kata; sebab melalui sikap inilah Orang Muda Katolik diberi pengertian dan kesadaran untuk hidup menggereja secara konkret dan pengenalan nilai-nilai Kristiani secara kontekstual. Orang Muda Katolik bukanlah sebuah organisasi yang tertutup terhadap dunia. Orang Muda Katolik bukanlah sebuah benteng, dengan tembok-tembok yang tinggi dan kuat, yang memisahkan diri dari masyarakat luar. Orang Muda Katolik adalah Umat Allah di antara Gereja dan dunia masyarakat, yang laksana ragi dan garam diharapkan aktif melibatkan diri dalam usaha membaharui segala-galanya dalam Kristus[12].

4. Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

Realitas kehidupan sosial masyarakat akhir-akhir ini menghadapi suatu permasalahan yang komplek. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kemajuan ilmu teknologi yang secara disadari maupun tidak disadari membawa implikasi tersendiri bagi kaum muda, terutama Orang Muda Katolik. Di satu pihak, perkembangan ilmu teknologi menawarkan suatu nilai positif yang menggembirakan, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai sarana pewartaan iman dan komunikasi antarmanusia, serta dapat membantu proses hidup menggereja. Akan tetapi di lain pihak, perkembangan ilmu teknologi membawa dampak negatif yang kerap mengerdilkan kreativitas dan bahkan mereduksi nilai-nilai moral yang pada gilirannya akan merusak iman kekristenan kita, bahkan dapat mengancam keaktifan Orang Muda Katolik dalam hidup menggereja. Dampak yang paling nyata dari permasalahan ini adalah adanya kecenderungan mereka untuk pindah agama, hidup dalam pergaulan bebas, minum-minuman keras dan keengganan untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial dan kerohanian Gereja. 

Gereja hakikatnya bersifat missioner dan karya evangelisasinya harus dipandang sebagai tugas dasar dari semua Umat Allah, maka hendaknya semua orang beriman kristiani, yang sadar akan tanggung jawabnya, mengambil bagian dalam karya misi itu. Gereja dipanggil oleh Allah agar secara khusus memberikan diri sepenuhnya bagi pelayanan pastoral Gereja. Akan tetapi agar proses pelayanan itu dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan Gereja, terutama bagi Orang Muda Katolik, maka Gereja perlu dibekali dengan pembinaan moral kristiani dan pendidikan agama yang memadai.

Pewartaan iman dalam tata dunia ini mendapat wujud konkret dalam berbagai kegiatan Orang Muda Katolik. Berbagai kegiatan itu adalah suatu gerakan sosial kemanusiaan, yang dibangun atas dasar kehidupan bersama dan kepedulian manusiawi bersama umat dan Orang Muda Katolik dari berbagai stasi dan paroki, untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, demi mencapai hidup yang lebih adil dan harmonis.

Peranan Gereja dalam peningkatan minat Orang Muda Katolik dalam kehidupan menggereja merupakan kegiatan pastoral yang sangat penting dan berdimensi luas. Gereja diharapkan mampu berperan sebagai pewarta Sabda Allah dan penyampai pesan kristiani secara jelas kepada Orang Muda Katolik, demi mencapai sebuah kedewasaan iman dan perasaan menggereja yang lebih mendalam. Oleh karena itu, manakala berbicara tentang kehidupan menggereja kepada Orang Muda Katolik, Gereja mesti mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat, yakni sebagai pewarta “Kabar Baik”. 

Berkat baptisan, kita diangkat menjadi anggota Tubuh Kristus dan melalui cara hidup kita (sebagai kaum muda awam), kita ikut mengemban tugas pewartaan itu. Peranan Gereja sangat dibutuhkan dalam pengembangan iman Orang Muda Katolik dalam hidup menggereja. Peranan ini mesti berciri khas Kristiani, dalam arti berjalan atas dasar terang iman dan Kitab Suci Kristiani, serta teladan Yesus Kristus. Kegiatan rohani ini hendaknya dilaksanakan secara berkala, untuk mendengarkan firman Allah, sharing pengalaman sehari-hari dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab suci (Kis 2:1-47).

4.2 Saran

Gereja (dan termasuk juga kaum tertahbis) hendaknya bekerjasama dan saling melengkapi untuk membagun Tubuh Kristus lewat evangelisasi, perayaan liturgi dan pelayanan kasih, keadilan dan belaskasihan terhadap Orang Muda Katolik. Artinya, semua anggota Gereja mesti turut ambil bagian dalam karya perutusan Yesus ini.

Jadi, kaum beriman kristiani, berkat baptisan diangkat oleh Allah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri mesti ikut secara aktif mengembankan tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing melaksanakan perutusan kepada segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia.

Demi terwujudnya keinginan hidup menggereja di kalangan Orang Muda Katolik, maka berbagai usaha, baik spiritual maupun fisik, mesti mendapat perhatian yang serius dari Gereja (terutama hirarkhi) dan usaha-usaha ini hendaknya dilakukan secara terus-menerus, tanpa henti; sebab apabila Gereja tidak melaksanakan tugas ini, maka Gereja sebenarnya secara tidak langsung menunjang struktur-struktur yang salah yang terjadi dalam masyarakat. 

Orang Muda Katolik sebagai warga negara sekaligus murid-murid Yesus Kristus perlu berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di segala bidang. Partisipasi Orang Muda Katolik dalam bidang sosial kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk menyumbangkan peran bagi pencapaian tujuan “kemerdekaan sejati” demi kesejahteraan umum (bonum communae). Namun, kesadaran tentang pentingnya partisipasi politik Orang Muda Katolik tersebut masih berhadapan dengan masalah belum optimalnya kemampuan mereka dalam melibatkan diri dalam kehidupan sosial masyarakat, dengan memanfaatkan kesempatan/peluang yang tersedia. 

Untuk memaksimalkan partisipasi Orang Muda Katolik hidup menggereja, Komisi Keuskupan dengan dukungan Komisi Kerasulan Awam hendaknya merintis suatu proses pendidikan perihal hidup menggereja yang strategis, periodik dan berkelanjutan. Dalam pengelolaannya, hendaknya Komisi Keuskupan bekerja sama dengan Komisi Keuskupan se-Indonesia. Melalui karya Komisi Keuskupan-Keuskupan itulah program pendidikan hidup menggereja diharapkan mampu menggerakkan partisipasi Orang Muda Katolik di komunitas-komunitas basis lingkungan, paroki, dan kelompok-kelompok kategorial dan di keuskupan masing-masing. 

Lebih lanjut, setiap Komisi Keuskupan mesti membentuk sebuah tim relawan yang terdiri dari sejumlah orang (muda) yang mempersiapkan, memfasilitasi pelaksanaan dan menindaklanjuti proses pendidikan hidup menggereja Orang Muda Katolik di keuskupan masing-masing. Untuk memulai proses tersebut, setiap Komisi Keuskupan menyelenggarakan Temu Relawan Pendidikan Hidup Menggereja Orang Muda Katolik, dengan mengundang keterlibatan para relawan pendidikan hidup menggereja yang sudah disiapkan oleh setiap Komisi Keuskupan. Melalui berbagai bentuk kegiatan ini, Orang Muda Katolik merasa semakin menemukan dirinya sebagai orang beriman mkhluk ciptaan Allah yang dipanggil oleh Allah untuk menjadikan dunia ini semakin tampak indah dan bermakna di hadapan sesama, terlebih-lebih di hadapan Allah.

Basis pendampingan Orang Muda Katolik yang paling efektif adalah keluarga. Bicara soal pendampingan di keluarga, dalam hal ini, orang tua tentu mempunyai tugas yang dominan. Bimbingan iman dari orang tua sangat menentukan perkembangan mereka, baik jasmani maupun rohani. Bimbingan dalam wujud praktek sehari-hari sangatlah efektif dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani dan kehidupan menggereja. Karena sangatlah tidak mungkin, orang tua menyuruh anak-anaknya pergi ke gereja, sementara mereka enak-enak tidur di rumah. Upaya yang paling tepat dari orang tua adalah mengajak anak-anak mereka bersama-sama pergi ke gereja. Mendorong mereka untuk berkumpul dengan teman-teman mereka baik ketika usia anak-anak maupun ketika usia remaja. Orang tua mesti mendorong setiap anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik, dengan harapan mereka dapat berjumpa dengan teman-­teman yang seiman. Berkumpul dengan teman-teman yang seiman tentu akan terbentuk sebuah komunitas, sehingga ada jalinan relasi di antara mereka secara baik. Keteladanan dari orang tua juga merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan jiwa Orang Muda Katolik, dengan aktif dan mengajak mengikuti kegiatan rohani seperti sembahyangan lingkungan maupun mengikuti koor dan lain sebagainya tentu juga merupakan cara yang tepat untuk mendampingi dan mengarahkan mereka.

Selain di keluarga, lingkungan sekolah juga turut ambil bagian dalam keaktifan Orang Muda Katolik hidup menggereja. Lingkungan sekolah yang kondusif tentu mempunyai pengaruh dalam pembinaan iman Orang Muda Katolik. Misalnya bagi mereka yang masih bersekolah, hendaknya mereka di sekolahkan di yayasan-yayasan Katolik. Atau di sekolah-sekolah yang lingkungannya dapat mendorong bertumbuh kembangnya iman mereka. 

Selain dukungan keluarga dan lingkungan tempat mereka belajar, Dewan Paroki tentu juga harus mendukung pembinaan iman Orang Muda Katolik dengan memberikan kesempatan mereka untuk terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan, yaitu dengan membuat program-program yang melibatkan mereka. Orang Muda Katolik bisa berkembang juga karena ada kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk terlibat. Misalnya ketika tugas lingkungan di gereja, dengan memberi kesempatan untuk tugas menjadi lektor, pemazmur, koor dll. 

Sering terlontar sebuah ungkapan bahwa selama ini tugas Orang Muda Katolik hanya menjaga sepeda motor atau tukang parkir pada saat perayaan ekaristi berlangsung. Barangkali anggapan ini bisa benar kalau kita tidak memberi kesempatan kepada mereka. Pemberian kesempatan inipun sifatnya harus dikomunikasikan kepada mereka. Dengan adanya komunikasi tentu tugas-tugas akan bisa dilaksanakan dengan baik, bukan sebaliknya, karena kurangnya komunikasi terkadang tugas-tugas yang kita berikan kepada Orang Muda Katolik akan dianggap sebagai sebuah beban. Ada kecenderungan di beberapa paroki, beberapa pekerjaan diserahkan kepada Orang Muda Katolik. Apabila hal itu terjadi, maka jelas ini sebuah kesalahan komunikasi yang merugikan perkembangan Orang Muda Katolik. Miskomunikasi akan melahirkan sebuah hasil yang kontra produktif, sehingga mereka malah merasa terbebani dan diperdaya. Beberapa kegiatan seperti menjadi panitia pada perayaan-perayaan besar liturgi Gereja, seperti Natal dan Paskah, serta misa Orang Muda Katolik merupakan salah satu model perhatian Gereja yang tepat terhadap Orang Muda Katolik. Dengan kesinambungan perhatian tersebut diharapkan Gereja bisa mencapai tujuan bersama yaitu membawa Orang Muda Katolik menjadi orang yang “militan” dalam hal iman dan memiliki tujuan hidup yang jelas.


®®®®®®®®®®®

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawirya, S.J, Jakarta: Obor, 1993.

Gilarso, T. SJ, Kamulah Garam Dunia: Tugas Umat Allah dalam 

Masyarakat, (Bagian III) Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Internet: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Karyadi FX, Katekese Remaja, (Modul Kuliah Jarak Jauh), Malang: Institut 

Pastoral Indonesia Malang, 2002.

Katekese Komkat KWI, Pedoman untuk Katekis: Dokumen mengenai Arah 

Panggilan, Pembinaan dan Promosi Katekis di Wilayah-wilayah yang 

Berada di bawah Wewenang CEP, Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici, 1983), direvisi oleh Panitia 

Hukum Gereja KWI, Jakarta: Sekretariat KWI-Obor, 1991.

Katekismus Gereja Katolik, Ende: Arnoldus, 1998.

Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi, Jakarta: Obor, 1996.

Suseno, Magnis-Franz, Menjadi Saksi-saksi Kristus di Tengah Masyarakat majemuk, Jakarta: Obor, 2004.

Telaumbanua, Marinus, Dr. OFM Cap, Ilmu Kateketik: Hakikat, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi (Jakarta: Obor, 1999), hlm. 188. 

Catatan kaki:

[1] Bdk. Franz Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk (Jakarta: Obor, 2008), hlm. 98. 

[2] Bdk. ibid, hlm. 97. 

[3] Drs. Karyadi FX, Katekese Remaja (Modul Kuliah Jarak Jauh), Malang:Institut Pastoral Indonesia, 2002, hlm. 66-67. 

[4] Dr. Marinus Telaumbanua, OFM Cap, op.cit, hlm. 163. 

[5] Drs. Karyadi FX, op. cit, hlm. 67-68. 

[6]Ibid, hlm. 68. 

[7] Bdk. Konferensi Waligereja Indonesia, op.cit, hlm. 151. 

[8] Katekismus Gereja Katolik, no. 492 (Ende: Arnoldus, 1998), hlm. 128. 

[9]Dari internet op.cit, hlm.50-52. 

[10]Ibid, hlm.53-55. 

[11]Ibid, hlm.57-60. 

[12] T. Gilarso, SJ, Kamulah Garam Dunia: Tugas Umat Allah dalam Masyarakat, Bagian III (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 9.

Senin, 03 Februari 2014

Penyuluh D.I.Yogyakarta Mengembangkan Kepenyuluhan yang Visioner

Oleh: Yohanes Setiyanto, S.S.[1]
NIP 150 329 888 /  19710314 20030112 00 2

A.      Landasan Berpikir
1)  Hakekat Penyuluh Agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Maka, tugas pokoknya adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan dalam bahasa agama (bdk. SK Menpan No. 54/KEP/MK.WASPAN/9/1999).

2)  Dalam konteks kepenyuluhan agama Katolik, ada ciri khas yang perlu dipahami dengan baik, berkaitan dengan sifat kelembagaan negara dan kelembagaan Gereja. Karena masing-masing mempunyai otonomi dan dasar pijakan yang berbeda, pemahaman mengenai kelembagaan keduanya menghasilkan dwifungsi kepenyuluhan. Di satu sisi, sebagai PNS, penyuluh mengemban tugas mewujudkan amanat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu ”...membentuk suatu Pemerintahan Indonesia...untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa....” Dengan rumusan ini, pemerintah mengemban amanat luhur. Maka, untuk mewujudkan amanat tersebut, ”pemerintah dengan segala upaya membangun Sumber Daya Manusia Indonesia atau rakyat Indonesia dengan melakukan program pemberdayaan secara holistik-menyeluruh” (bdk. Sambutan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI, dalam setiap penerbitan buku). Di lain sisi, sebagai warga Gereja, penyuluh agama katolik mengemban tugas mewujudkan Kerajaan Allah dan menghadirkan Gereja di tengah perjalanan bangsa. Dari perbedaan keadaan ini, sering menelorkan pemahaman yang bermacam-macam. Satu dua pandangan dapat disebut: ketika seorang penyuluh melakukan kegiatan di Gereja, orang dapat berkomentar sebagai aktivis gereja semata dan bukan melakukan tugas negara. Sementara itu, tugas yang dilakukan adalah membina dan membimbing umat katolik.

3)  Agar fungsi kepenyuluhan dapat berjalan dengan baik, penyuluh harus memahami dua kutub ini. Dengan demikian, melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan diperlukan strategi yang jitu, baik menyangkut pelaksanaan dalam struktur organisasi maupun materi yang akan disampaikan untuk bimbingan dan penyuluhan.

B.      Penyuluh Agama Katolik
1)   Tugas Pokok Penyuluh
Tugas pokok Penyuluh adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan. Tugasnya tidak hanya melakukan penyuluhan melainkan juga mengembangkan profesi kepenyuluhan agar makin matang dan bermutu. Namun untuk dapat melaksanakan kegiatan dan pengembangan kegiatan bimbingan dan penyuluhan, seorang penyuluh harus melakukan proses berpikir dan mengadakan tata administrasi. Tugas itu harus dimulai dengan persiapan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengembangan. Masing-masingnya mempunyai pokok-pokok yang harus dilalui agar proses kegiatan bimbingan dan penyuluhan berjalan dengan baik.

2)   Arah kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama Katolik
 Arah kegiatan bimbingan dan penyuluhan harus ditempatkan dalam kerangka arah pembangunan Bimas Katolik. Pada hemat saya, ada dua hal yang harus diperjuangkan oleh Bimas Katolik.  Pertama, mewujudkan signifikansi Internal. Artinya Bimas Katolik harus mempunyai dan menunjukkan kekuatan yang memadai dan ciri khasnya sebagai korps Bimas Katolik. Kedua, relevansi Eksternal. Artinya, Bimas Katolik menegaskan diri, dengan mewujudkan tugas pokok dan fungsi, demi pembangunan kehidupan keagamaan yang makin mendalam dan toleran.
Dalam konteks kepenyuluhan, melakukan dan mengembangkan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan  berarti harus memahami arah kegiatan bimbingan yang antara lain berisi:            
¨      membangun mental, moral dan iman umat katolik
¨      mendorong peningkatan keterlibatan umat dalam berbagai bidang kehidupan.
¨      mendorong peningkatan pembangunan bangsa dengan berinspirasi pada ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang dianut.

3)   Fungsi yang dijalankan
Arah kegiatan bimbingan atau penyuluhan akan menjadi nyata dan terarah bila penyuluh memahami aspek-aspek penyuluhan. Fakta di lapangan, penyuluh itu mempunyai fungsi:
1.  Pemberi Informasi. Penyuluh memberikan informasi yang benar mengenai kebenaran-kebenaran iman dalam Gereja kepada umat katolik. Ia tidak hanya memberikan informasi yang benar melainkan juga ikut menjaga kebenaran iman.
2.  Edukatif. Tugas penyuluh adalah  membina umat / kelompok sasaran agar hidup imannya makin tumbuh subur dalam kebersamaan dan kesatuan dengan seluruh Gereja dan negara. Dalam hal ini, cita-cita Ditjen Bimas Katolik menjadi 100% katolik dan 100% pancasilais mendapatkan wujudnya.
3.   Konsultatif. Penyuluh menyediakan diri untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi umat, masyarakat demi tercapainya tujuan bersama. Di dalamnya, fungsi konsultatif juga mempunyai arti berani dan mau mendengarkan persoalan umat. Sikap belarasa dan sepenanggungan menjadi modal utama dalam mengembangkan diri menjadi manusia yang baik dan mandiri.
4.  Advokatif. Penyuluh memiliki tanggung jawab secara moral dan sosial membela hak-hak dasar hidup manusia agar martabatnya makin terjamin. Tanggung jawab bersama/sosial untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat yang makin bermartabat. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kerjasama dengan semua pihak dan melibatkan diri secara riil dalm kehidupan bersama.

C.      Konteks / Daerah Kerja
1)      Umum
Untuk dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan, penyuluh harus mengenal dengan benar konteks dan kondisi yang dilayani. Hal-hal yang harus dipahami antara lain: jati diri umat katolik; pola pikir, budaya dan masyarakat sekitar; serta cita-cita hidup. Untuk dapat memahami dengan baik apa dialami, dibutuhkan dan dicita-citakan, penyuluh harus mengadakan serangkaian proses:
1.   Mencari data dan situasi. Hasil akhirnya adalah realitas.
2.  Mengolah/analisa data dan situasi. Tujuannya adalah untuk menemukan fakta, potensi, serta keprihatinan yang signifikan dan relevan untuk ditanggapi agar terjadi pengembangan. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi dan klarifikasi data.
3.   Mengadakan refleksi mengenai kebutuhan sasaran dan menentukan sasaran yang akan dicapai. Yang dimaksud sasaran bukanlah pertama-tama orang atau kelompok orang melainkan masalah yang akan ditanggapi sebagai bentuk jawaban atas keprihatinan.
4.    Menentukan indikator keberhasilan dan target.
5.  Menentukan materi yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran.

2)     Ciri khas Propinsi DIY
1.  Merupakan miniaturnya Indonesia. Aneka suku bangsa, bahasa, budaya dan strata sosial ada di Yogyakarta. Sebutan sebagai kota pelajar memberikan warna yang besar bagi keadaan sosial budaya Yogyakarta.
2.  Secara religius, ada beberapa tempat ziarah seperti goa Maria (3), makam Romo, karya-karya romo Mangun, banyak tempat pendidikan seminari / biara. (peluang untuk membangun kerjasama dengan mereka).
3.  kerjasama dengan gereja (Keuskupan dan Kevikepan) berjalan dengan baik terutama dengan komisi-komisi. Penyuluh terlibat dalam komisi dan sekarang ada lahan baru pelatihan Dewan Paroki untuk membuat program kerja (penyuluh juga terlibat).

D.     Materi
Berdasarkan tugas pokok, arah penyuluhan dan konteks kehidupan beragama di DIY, penyuluh DIY merumuskan materi-materi pembinaan / penyuluhan. Pokok-pokok materi disesuaikan dengan keadaan dan kondisi masyarakat katolik di mana mereka berada. Masing-masing tempat mempunyai kekhasan masing-masing.
1.  Pola hidup masyarakat. Dengan berkembangnya arus globalisasi yang melanda semua bidang kehidupan dan segala lapisan masyarakat, materi kepenyuluhan tidak cukup menampilkan ajaran-ajaran melainkan perlu mengajak masyarakat agar makin cerdas menghadapi kenyataan riil. Misalnya, bagaimana umat katolik dapat ambil bagian secara maksimal dalam pemilihan pilkada atau pilihan-pilihan pemimpin lainnya, tanpa harus meninggalkan/ menanggalkan imannya. Ini membutuhkan refleksi yang mendalam.
2.  Kelompok sasaran. Setiap penyuluh pasti mempunyai kelompok sasaran yang bervariasi. Masing-masing kelompok tidak dapat disamakan begitu saja karena mereka mempunyai jati diri, pola hidup dan pola pikir yang berbeda. Idealnya, setiap kelompok sasaran mendapatkan bimbingan atau penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan.
3.   Gerak Gereja / Keuskupan
Setiap Keuskupan mempunyai cita-cita yang berbeda meskipun kesemuanya mengarah pada pembangunan / hadirnya Kerajaan Allah di dunia dan peningkatan kualitas hidup beriman. Pada hemat saya, penyuluh juga harus memahami apa yang menjadi perjuangan Gereja setempat agar kegiatan kepenyuluhan makin berdaya guna.

Untuk itulah, materi kepenyuluhan secara garis besar meliputi:
1.    Pokok-pokok iman
2.    Ajaran moral Kristiani
3.    Ajaran-ajaran sosial Gereja
4.    Pembangunan berbangsa
5.   Tanggapan-tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat. Wujudnya adalah refleksi kehidupan masa kini berdasarkan ajaran iman katolik

E.      Pengalaman menyusun Materi
1)   Selama menjadi penyuluh agama katolik, saya membedakan dua jenis materi. Pertama, materi yang diberikan pada kelompok binaan tetap. Kedua, materi yang diberikan pada pertemuan-pertemuan aksidental (1 atau 2 kali pertemuan).

2)  Materi untuk kelompok binaan tetap membutuhkan pemikiran yang mendalam dan dirancang secara berkelanjutan. Untuk menyusun materi jenis ini dibutuhkan data, fakta, visi dan misi bagi kelompok sasaran yang bersangkutan.  Meskipun demikian, saya sangat terbantu dengan arah yang telah dicanangkan oleh Keuskupan. Tiap tahun Keuskupan Agung Semarang mengeluarkan buku panduan (nota pastoral atau buku pendalaman nota pastoral) sehingga mempermudah dalam pembinaan. Bahkan, penyuluh DIY juga dilibatkan dalam penyusunan buku panduan yang dikeluarkan oleh Keuskupan. Selain itu, saya juga menggunakan kalender liturgi. Meskipun demikian, ada juga kelompok sasaran yang tidak dapat begitu saja diberikan materi yang tersedia. Misalnya, kelompok narapidana. Mereka mempunyai persoalan khusus. Maka materi yang diberikan juga harus disesuaikan dengan keadaan mereka.

3)  Untuk pembinaan aksidental, saya menyesuaikan dengan permintaan kelompok baik mengenai tema maupun metode pembinaan. Untuk memaksimalkan pembinaan, biasanya saya mengadakan rapat dan diskusi dengan penyelenggara untuk mendapatkan pokok-pokok keprihatinan dan materi yang mereka kehendaki.



F.      Contoh Materi Yang pernah diberikan
1)      Masyarakat umum. Isi materi diselaraskan dengan kalender liturgi atau kesepakatan Gereja serta tema yang telah dicanangkan oleh Gereja.
  1.  Januari: Pekan Doa Sedunia
  2.  Februari – Maret: Prapaska
  3.  April: Paska
  4.  Mei: Bulan Katekese Liturgi (sesuai tema)
  5.  Juni: variasi / tema-tema aktual
  6.  Juli: variasi / tema-tema aktual
  7.  Agustus: Ajaran Sosial Gereja (sesuai tema)
  8. September: Bulan Kitab Suci Nasional (sesuai tema)
  9. Oktober: Penghormatan kepada Maria
  10. Nopember: Katekese mengenai Api Pencucian dan Adven
  11. Desember:: Natal


2)     Materi untuk kelompok Napi / Tahanan:
1.  Memahami persoalan yang dihadapi dan merefleksikannya dalam terang Injil
2.  Kedosaan Manusia
3.  Allah yang mahabaik, pemurah dan penyelenggara kehidupan
4.  Latihan Rohani Santo Ignatius terutama mengenai sikap lepas bebas dan memahami gerak Roh dalam diri manusia
5.   Mempersiapkan diri terjun ke masyarakat lagi (pulang kampung)

3)     Kelompok Remaja
1.   Jati diri pribadi dan kristiani
2.   Paham-paham mengenai perwujudan dan pengungkapan iman
3.   Character building
4.  Mempersiapkan masa depan (membuat visi, langkah konkret untuk meningkatkan mutu pribadi).
4)     Metode yang dipakai:
1.  Dialog
2.  Refleksi bersama
3.  Merancang aksi bersama
4.  Ibadat
5. Konsultasi yang berkelanjutan dengan kelompok sasaran untuk mengembangkan penyuluhan yang berdaya guna dan bermutu.

G.     Kendala
  1. Forum pokjaluh belum berjalan dengan baik sehingga kecenderungan masih bekerja sendiri-sendiri. Hanya untuk tema-tema yang sudah dicanangkan oleh Keuskupan, sering diadakan diskusi.
  2. Terbatasnya fasilitas terutama komputer dan LCD. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, pembinaan dengan menggunakan hasil kemajuan teknologi sangat membantu. Selain itu, panduan baku dari pusat juga sangat sedikit.
  3. Forum pokjaluh dalam bekerja juga membutuhkan dana namun hingga sekarang belum ada posnya.
  4. DIY mempunyai 8 penyuluh namum tidak mempunyai Tim penilai dari pihak penyuluh sehingga ada kemungkinan angka kredit yang diusulkan tidak dinilai secara akurat atau benar.


H.         Beberapa Gagasan
  1. Kiranya sudah saatnya, Bimas Pusat mengembangkan kerjasama penyuluhan lintas propinsi.
  2. Mngembangkan budaya tulis nulis dan hoby penyuluh sebagai media untuk membangun kerjasama dengan yang lain.
  3. Mitra kerja dengan keuskupan, mengembangkan program penulisan mengenai kepenyuluhan secara bersama, DIY bersedia memberikan materi pada pertemuan penyuluh nasional untuk berbagi pengalaman.

Yogyakarta 14 April 2010



[1] Penyuluh Ahli Pertama di Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi DIY.

Minggu, 02 Februari 2014

Pengaruh Media Massa dalam Hidup Berkeluarga

Oleh: Krispinus Dombo Sina, 
Penyuluh PNS Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Pengantar

Ada pepatah mengatakan, dunia tak selebar daun kelor. Artinya dunia itu luas, tak terjangkau dan tak terselami. Tetapi itu pemahaman jaman dulu. Untuk saat ini, dimana teknologi berkembang demikian pesat, pepatah tersebut tampaknya tidak lagi menjadi pepatah. Bayangkan, dengan HP yang lebih sempit dari daun kelor, kita dapat mengakses internet dan menjelajah dunia dari benua yang satu ke benua yang yang lain tanpa batas. Apa yang Anda ingin ketahui tersedia di sana, dari berita yang ringan-ringan sampai berita yang berat-berat, gari dambar yang paling suci sampai gambar yang paling porno, dari satu hal sampai ke berjuta-juta hal. Internet, HP, Televisi, Koran, majalah, dan berbagai media massa lainnya telah merubah dunia kita. Hampir tidak ada segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh media massa. 

Di satu sisi, dengan media massa kita mendapatkan banyak kemudahan dalam hidup, kita mendapatkan hiburan yang murah dan menyenangkan, kita mendapatkan berita, ilmu dan pengetahuan yang membuat kita semakin ilmiah dan rasional. Kita dapat menjalin komunikasi dengan sanak keluarga, teman, tetangga dan orang-orang yang kita cintai dimanapun dan kapan pun kita mau, dan berbagai macam segi positif yang lain. Tetapi di sisi lain, media massa juga menimbulkan berbagai macam hal yang mencemaskan dan menakutkan. Banyak tragedi kemanusiaan, sosial dan moral yang ditimbulkan oleh pengaruh media massa. Kasus-kasus, kekerasan, pemerkosaan, penculikan, penipuan, penghasutan, isu-isu SARA dan lain sebagainya yang disebabkan oleh media massa. Dengan kata lain, media massa seperti sebuah pisau, dapat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan, sangat tergantung dari siapa dan untuk apa pisau tersebut digunakan. Pertanyaan yang harus kita renungkan terus-menerus adalah apa dampak dan pengaruh media massa, khususnya dalam hidup berkeluarga. 

1. Problematika Seputar Media Massa di Indonesia

Untuk melihat problematika seputar media massa di Indonesia, mari kita simak cerita Chappy Hakim berikut ini; “Pada suatu petang yang cerah , seorang teman saya tengah berjalan-jalan santai di Avenue des Champs Elysees, salah satu pusat keramaian di kota Paris. Tiba-tiba saja terdengar sirene polisi meraung-raung dan kemudian terlihat dua buah mobil polisi mengejar dua orang yang tengah berlari di pinggiran jalan. Empat polisi segera loncat keluar dari mobil dan segera mengejar kedua orang tersebut ditengah-tengah keramaian orang berjalan kaki. Tidak lama kemudian datang lagi dua polisi menggunakan sepeda yang langsung juga turut mengejar kedua orang tadi. Hanya beberapa menit kemudian kedua orang tersebut ditangkap dan diborgol serta diseret masuk ke mobil polisi yang segera saja langsung menghilang. Ketika ditanyakan kepada “tour guide” yang menemani teman saya itu selama berada di Paris, dia mengatakan itu biasa. Polisi menangkap pencuri atau copet atau penjahat jalanan yang kerap terjadi. Sebagian besar orang tidak begitu memperdulikannya. Lalu teman saya tanyakan di TV mana atau di koran mana besok pagi bisa dibaca beritanya. Dengan dingin dia berkata, jangan harap, karena hal-hal seperti tersebut tidak akan pernah diberitakan di mass media Perancis. Waktu ditanyakan mengapa, dia melanjutkan tidak tahu persis mengapa, tetapi banyak yang mengatakan bahwa pemerintah tidak mengijinkan pemberitaan yang negatif seperti itu, karena Perancis ingin tetap memelihara kesan aman bagi semua orang. Dengan demikian jumlah turis yang datang berkunjung ke Paris, selalu meningkat dari tahun ke tahun. Mereka akan selalu merasa nyaman untuk berjalan-jalan di kota Paris yang indah itu, melihat Arc de Triomphe, Chaps Elysees, Gereja Notre Dame, Museum dan tentunya juga Eiffel Tower”.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Negara kita. Sangat berlawanan sekali bukan? Di negara ini, berita yang laris manis untuk dilihat dan didengar justru berita-berita seputar kriminal seperti kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, penculikan, perampokan, pembunuhan, mutilasi, tawuran, pesawat jatuh, bom-bom yang meledak dan lain sebagainya yang sangat menakutkan. Tidak usah ada “travel warning”, orang sudah takut untuk datang ke Indonesia. Berita-berita lain yang menarik adalah tentang gosip-gosip perselingkuhan, kawin cerainya para artis, video mesum PNS atau anak-anak ABG, dan keborokan-keborokan moral lainnya yang terjadi di Negara ini. 

Rhenald Kasali, pernah mengeluh betapa sulitnya untuk dapat menyelenggarakan acara di TV yang “inspiring” dan “mendidik” sifatnya, dengan tujuan turut membangun karakter bangsa. Suatu kali dia berhasil mendapatkan alokasi jam siaran untuk acara yang “inspiring” dan mendidik pada salah satu stasiun Televisi di Jakarta. Namun baru berjalan satu episode, acara tersebut sudah diganti dengan acara “lawakan”. Dan ternyata selain lawakan acara sinetron tentang “setan” , sinetron opera sabun adalah merupakan jenis acara yang dapat bertahan selama ber bulan-bulan. Alasannya sederhana sekali, yaitu, mereka memilih acara yang dapat menaikkan “rating” mereka, sehingga dapat mengundang banyak pemasang iklan yang berarti meningkatkan pendapatan. 

Inilah fakta tentang media massa yang terjadi di Negara kita. Kenyataan seperti ini jelas menyedihkan bagi banyak orang yang berpikir tentang masa depan bangsa ini. Mungkin sudah saatnya kita renungkan bersama, bagaimana caranya untuk turut lebih meningkatkan lagi kualitas mass media kita dalam konteks ikut serta membangun karakter bangsa. Karakter bangsa itu sendiri haruslah dimulai dari lapisan masyarakat yang paling dasar, yakni keluarga. 

2. Pengertian, Jenis-Jenis dan Fungsi Media Massa

Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.
Jenis-jenis media massa
a. Media massa tradisional

Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti: 
Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan 
Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu. 
Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima. 
Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit. 

Macam-macam media massa tradisional; surat kabar, majalah, radio, televisi, VCD/DVD, film (layar lebar). 

b. Media massa modern

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.

Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti: 
Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya) 
Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual 
Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu 
Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam 
Penerima yang menentukan waktu interaksi 
Fungsi-fungsi media massa

Harold Laswell mengidentifikasi fungsi media sebagai berikut: 
Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan. 
Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah. 
Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan. 
Fungsi hiburan (entertainment) baik yang positif (fungsi) maupun fungsi negatif (disfungsi). 

Prof. Dr. Pdt. John Titaley, rektor dan guru besar UKSW Salatiga menyatakan bahwa pada dasarnya media, khususnya radio dan TV diciptakan oleh kaum kapitalis untuk meninabobokkan kaum proletar (kaum buruh) supaya tidak protes terhadap situasi hidup yang mereka hadapi. Dengan adanya media massa sebagai hiburan, kaum buruh dan orang-orang miskin tidak lagi berpikir tentang upah mereka yang kecil, tenaga mereka yang terkuras dan ketidakadilan yang mereka alami. Dengan kata lain, media menjadi candu bagi kaum miskin. Sementara kaum kaya dan pemilik modal dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari media massa itu sendiri. Lebih jauh Titaley juga mengatakan bahwa media massa, khususnya TV, menjadi sarana yang ampuh bagi Negara-negara kaya untuk “menjajah” Negara-negara miskin. Sebagai contoh, hampir seluruh stasiun televisi memutar film-film buatan holywood setiap harinya. Kalau, katakanlah ada 10 stasiun televisi saja, berarti ada 10 film holywood dibeli dan diputar setiap harinya. Dalam satu bulan (30 hari) berarti ada 300 film yang dibeli. Kalau setiap film seharga 25 jt. saja bararti tiap bulanya kita setor uang ke holywood 25.000.000 X 300 = 75.000.000.000/bulan. Pertanyaannya, mengapa kita membeli film-film holywood? Karena film-film holywood jauh lebih bagus dan jauh lebih murah dari pada kalau harus membuat atau membeli film dalam negeri. Belum lagi dengan produk-produk luar negeri lain yang ditawarkan oleh Negara-negara maju melalui media massa. Dengan kata lain, kita tetap “dijajah” oleh bangsa lain melalui media massa, tetapi kita tidak merasa dijajah

3. Pengaruh Media Massa dalam Hidup Berkeluarga

Seorang pakar dan guru besar tentang komunikasi massa berkebangsaan Belanda, Denis McQuail, dalam salah satu bukunya menulis tentang pengaruh media dan ciri-ciri utama komunikasi masa. Denis mengatakan menyatakan bahwa media menjangkau lebih banyak orang dibandingkan dengan institusi-institusi lainnya. Dan lebih parah lagi, Mass media sudah sejak dahulu telah “mengambil alih” peranan sekolah, orang tua, agama dan lain-lain. Institusi media sendiri sebenarnya tidaklah memiliki kekuasaan, akan tetapi insitusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara.

Lebih lanjut dia mengatakan tentang ciri utama dari komunikasi masa. Komunikasi masa memiliki ciri yang khas, yaitu : Bahwa hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu arah dan jarang sekali, bukan berarti tidak ada, yang bersifat interaktif. Kalaupun ada, maka itu terselenggara dengan tidak seimbang antara pengirim dan penerima. Pengirim biasanya akan sangat dominan karena berperan sebagai penyelenggara.Yang lebih parah lagi adalah bahwa hubungan tersebut juga bersifat im-personal, bahkan mungkin sekali akan sering bersifat non moral, dalam pengertian bahwa sang pengirim biasanya tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi pada para individu, dalam hal ini pihak penerima.

Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari: 1) Skalanya; skala kecil (individu) dan skala luas (masyarakat), 2) kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi. 

Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi massa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :

Siapa (who) 
Pesannya apa (says what) 
Saluran yang digunakan (in what channel) 
Kepada siapa (to whom) 
Apa dampaknya (with what effect) 

Pengaruh media massa pada pribadi

Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.

Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang pemirsa lihat dari media. 
Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi apa yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, dimana kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan prilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut. 
Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip "gaya rambut lupus", atau menggunakan kacamata a'la "Catatan si Boy". 
Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi "penentu", dimana mereka menentukan arah media populer saat mereka 

Probowatie, seorang pakar komunikasi sosial mengatakan bahwa pengusaha media tayang (televisi, video games, Red.) pandai benar dalam mengemas kepentingan komersialnya. Penyajian menarik, dengan bahasa yang simpel, bahkan memukau sehingga dapat mendorong ketergantungan (addiction) bagi penonton, terlebih anak dan remaja yang jiwanya belum matang.

Di samping berpengaruh positif terhadap perkembangan jiwa anak dan remaja, tentu presensi negatif pun ada. Apresiasi terhadap tayangan media ini tergantung dipandang dari sudut mana dalam memberikan penilaian baik maupun buruknya. Pengaruh buruk yang ditimbulkan televisi, video games maupun media elektronik lainnya, menurut Probowatie adalah pada perkembangan mental anak dan remaja. Dikatakannya bahwa sebuah penelitian yang dilakukan di Australia National University menyatakan, televisi atau video games adalah salah satu penyebab hyperaktivitas pada anak dan remaja. Sebaliknya di daerah lain yang tak ada televisi dan video games kasus anak dan remaja sejak bayi hingga dewasa seperti ini tidak dijumpai.Sifat hyperaktivitas pada anak dan remaja tersebut salah satunya adalah saat menonton, seluruh indera perhatiannya tercurah pada kotak segi empat itu, dengan cepatnya gerakan cahaya akan lewat saraf mata. Hal ini akan merangsang seluruh sistem di otak untuk menyerap dengan cepat khayalan konsumerisme / iklan dan masih banyak lagi sehingga akan mengubah pikiran anak dan remaja ke hal-hal negatif seperti mati dan tertutup untuk hal-hal lain. 

Berikut sepuluh Pengaruh buruk media televisi pada anak dan remaja: 

1. Bagi anak usia 0-3 tahun. Media televisi sabagai salah satu jenis media elektronik dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca verbal maupun pemahaman. Juga dapat menghambat kemampuan anak dalam mengekpresikan pikiran melalui tulisan, rneningkatkan agresifitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. 

2. Mendorong anak menjadi konsumtif. Anak-anak dan remaja menjadi target pengiklan yang utama, sehingga dapat mendorong mereka menjadi konsumtif 

3. Berpengaruh terhadap sikap. Bagi anak dan remaja yang banyak menonton televisi namun belum mempunyai daya kritis yang tinggi, kemungkinan besar akan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Tentu ini akan berpengaruh pada sikap dan prilaku mereka dan dapat terbawa hingga dewasa. 

4. Mengurangi semangat belajar. Bahasa televisi simpel. memikat dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak dan remaja menjadi malas belajar. 

5. Membentuk pola pikir sederhana. Terlalu sering menonton televisi dan tak pernah membaca menyebabkan anak dan remaja akan memelihara pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreatifitas dan perkembangan kognitifnya. 

6. Mengurangi daya konsentrasi. Rentang waktu konsentrasi anak dan remaja hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan yang dapat membatasi daya konsentrasi anak.

7. Mengurangi kreativitas. Televisi membuat anak dan remaja malas bermain, mereka menjadi individualistis dan lebih suka menyendiri, setiap kali merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan sehingga di saat liburan maupun akhir pekan, mereka menghabiskan waktu dengan menonton tv. Anak & remaja seakan tak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan, ini membuat anak dan remaja tidak kreatif 

8. Meningkatkan obesitas ( kegemukan). Penelitian membuktikan, seorang anak dan remaja yang kebanyakan menonton tv, akan lebih banyak ngemil di antara waktu makan. Anak-anak dan remaja yang senang menonton TV, cenderung kurang berolah raga. Mereka terbiasa duduk di depan layar. membuat tubuhnya tidak banyak bergerak dan metabolisme menurun sehingga lemak, bertumpuk karena tidak terbakar, dan akhirnya menimbulkan kegemukan. 

9. Merenggangkan hubungan antara anggota keluarga. Kebanyakan anak dan remaja menonton tv lebih dan 4 jam sehari, sehingga waktu untuk bercengkerama bersama keluarga ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan tv. Sementara 40% keluarga menonton tv sambil menyantap makan malam, waktu yang seharusnya menjadi ajang berbagi cerita antara anggota keluarga. Rata-rata tv dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang memprihatinkan, masing-masing anggota keluarga menonton acara berbeda di ruang berbeda pula. 

10. Lebih cepat matang secara seksual
Tontonan yang dikonsumsi anak dan remaja saat ini, sarat dengan adegan seksual. Baik sinetron, film bahkan kartun sekalipun. Mau tidak mau anak dan remaja akan menyaksikan adegan yang sebenarnya tidak pantas baginya. Gizi yang bagus dan rangsangan tv yang tidak pantas untuk usianya, akan menjadi lebih cepat ‘balig’ atau matang secara seksual dari yang seharusnya diiringi rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan cenderung meniru dan melakukan apa yang mereka lihat. Menurut para ahli, televisi dan tayangannya, serta alat elektronik sekalipun memiliki pengaruh buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak dan remaja. Namun, dalam era sekarang ini tentunya sulit menjauhkan anak dan remaja dan hal di atas. Meski begitu, hendaknya, orang tua memiliki tips atau cara bijaksana untuk hal ini. Tentu masih ada banyak pengaruh positif dan negative dari media massa.

4. Tanggung Jawab Keluarga, masyarakat dan Gereja

Tanggung Jawab Keluarga

Menyeleksi tayangan dan mendampingi anak menonton televisi merupakan tugas yang tidak gampang. Orang tua khususnya ibu dituntut untuk lebih sabar, lebih paham tentang apa yang ditayangkan. Jadi para orang tua mulai sekarang harus lebih pintar dan peka terhadap perkembangan dunia agar kita dapat memberikan jawaban dan penjelasan terbaik bagi putra-putri kita. Berikut ini beberapa trik yang dapat kita aplikasikan dalam upaya menghadang pengaruh buruk media, khususnya televisi:

1. Pahami terlebih dulu manfaatnya
Pahami terlebih dulu manfaat dan piranti canggih yang hendak disodorkan kepada anak dan remaja itu. Ini berlaku untuk semua jenis alat elektronik termasuk televisi, seperti juga ponsel, komputer, musik player, dan game station. Ketika diberikan kepada anak dan remaja, pastikan anak dan remaja juga tahu tujuan kepemilikan barang tersebut.

2. Beri batasan penggunaan
Kapan ia boleh memakai dan saat apa si anak dan remaja harus menyingkirkan peralatan elektronik tadi. Untuk anak yang lebih besar, anda dapat membuat kesepakatan bersama batasan-batasannya untuk anak pra sekolah, waktu menonton cukup satu jam sehari. Yang sudah bersekolah boleh menonton kurang lebih 2 jam. 

3. Jadikan TV sebagai media belajar
Duduklah bersama anak dan remaja dan diskusikan isi tayangan. Agar anak dan remaja tidak menonton sembarangan acara, jangan letakkan tv di dalam kamar anak dan remaja yang masih di bawah umur.

4. Siapkan kegiatan pengganti
Coba siapkanlah kegiatan lain sebagai pengganti, seperti play station atau internet. pastikan kegiatan alternatifnya sama serunya. Misalnya, bermain bersama teman di lingkungannya, tanpa aktifitas pengganti yang menarik, sulit membuat anak dan remaja lepas dan tv.

5. Beri nilai positif.
Agar anak dan remaja percaya din untuk tidak mengikuti arus teman-teman yang menonton tv tanpa batasan, suntikkan nilai-nilai positif padanya. Berikan alasan mengapa ia perlu membatasi jam menonton, dengan begitu si anak dan remaja bisa menangkis ejekan teman seputar ketidaktahuannya tentang acara-acara tv yang memang tak diperuntukkan bagi anak seusianya.

6. Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang.
Dengan disiplin dan kasih sayang, anak dan remaja akan lebih mudah mengerti apa yang patut dan tidak dilakukannya. Jadikan anak dan remaja percaya dir dengan paham dari nilai yang dianut keluarga.

Tanggung Jawab Masyarakat


Permasalahan mengenai dampak negatif dari media massa memang tidak pernah bisa dihentikan. Semua berjalan sebagai sebuah kausalitas. Ada media, maka juga akan ada dampak-dampak yang mengikutinya, termasuk dampak negatif yang dewasa ini mulai menjadi pusat perhatian masyarakat. Konsep mengenai kebutuhan filter bagi masyarakat Indonesia sudah tidak bisa dipandang sebagai hal sepele lagi. Di tengah arus media yang semakin menggila menyebarkan realitas-realitas palsu, harus diimbangi filter yang akan menyeleksi tiap dampak negatif yang mungkin muncul. Di sinilah muncul konsep media literacy yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Ketidakberdayaan masyarakat tidak bisa hanya diselesaikan pada tataran perubahan regulasi media massa. Tetapi juga, harus menyentuh kalangan publik. Hal itu menjadi penting mengingat di jaman yang semakin bebas ini, regulasi tidak akan bisa menyentuh isi media luar negeri ataupun juga menyentuh media internet. Karena itu, publik harus disadarkan bahwa mereka harus memiliki kekuatan sendiri untuk membentengi dirinya dari segala hal yang mungkin muncul. Baru kemudian setelah itu, regulasi media yang sehat akan menjadi tiang kukuh dalam mencegah dampak negatif dari media. 
Solusi yang kemudian muncul untuk mengatasi masalah ini adalah mengenai pembelajaran media literacy (melek media). Konsep yang muncul mengenai melek media adalah sebuah pembelajaran mengenai sebuah usaha agar masyarakat bisa menyaring tiap informasi yang didapatkan dari media massa. 
Pendidikan media itu nantinya juga berkutat masalah bagaimana media bekerja, bagaimana media memengaruhi masyarakat, ataupun mengenai penggunaan media yang sehat. Karena itu, tujuan akhir dari pembelajaran melek media adalah kultur penonton yang kritis.

Tanggung Jawab Gereja.

Pesan Paus Benediktus XVI dalam Memperingati Hari Komunikasi Sosial Se- dunia ke-42

Saudara-Saudari Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).

2. Berkat perkembangan teknologi yang meroket, media telah memiliki kemampuan luar biasa yang serempak membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang. Kita tidak dapat menyangkal sumbangsih yang diberikan oleh media dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi seperti peranannya yang menentukan dalam kampanye pemberantasan buta huruf dan kegiatan sosialisasi, pengembangan demokrasi dan dialog di antara bangsa-bangsa. Tanpa sumbangsih media, akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian di dunia, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa teristimewa bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. Benar bahwa secara keseluruhan media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan bagi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan yang lebih besar bagi dunia. 

Sayangnya betapapun demikian, ia sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud idiologis atau demi reklame agresif produk-produk konsumen. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, agar bisa menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu mempraktikkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil malah memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin. 

3. Umat manusia pada zaman sekarang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berlaku juga untuk media seperti yang telah Saya tandaskan dalam ensiklik Spe Salvi tentang makna ganda kemajuan yang di satu pihak memberikan kemungkinan baru untuk kebaikan tetapi pada pihak lain membuka begitu besar peluang untuk hal-hal yang jahat yang tidak pernah ada sebelumnya (bdk. No.22). Karena itu kita seharusnya bertanya apakah bijaksana membiarkan sarana komunikasi sosial dipakai untuk kemajuan diri sendiri atau membiarkan penggunaannya di tangan mereka yang memanfaatkan untuk memanipulasi kesadaran manusia. Apakah tidak ada suatu prioritas untuk memastikan bahwa media komunikasi itu tetap mengemban misi pelayanan bagi pribadi dan bagi kebaikan bersama dan bahwa media komunikasi membantu mengembangkan ”formasi etis manusia . . . pertumbuhan batin manusia” (ibid.)? Pengaruhnya yang luar biasa dalam kehidupan perorangan maupun dalam masyarakat telah diakui secara luas, tetapi sekalipun demikian, dengan melihat kenyataan sekarang ini, dibutuhkan perubahan peranan media yang radikal dan menyeluruh. 
Pada masa sekarang, kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa. Perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh banyak pemimpin Gereja. Justru karena kita sedang berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) dimana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis, juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu, pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan, yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.

4. Peran yang dimainkan oleh media komunikasi sosial dalam masyarakat mestinya dianggap sebagai persoalan ’antropologis’ yang muncul sebagai tantangan kunci dalam milenium ketiga. Seperti yang kita saksikan dalam kehidupan manusia, dalam hidup perkawinan dan keluarga serta dalam isu-isu besar modern seperti perdamaian, keadilan, perlindungan terhadap mahkluk ciptaan, begitu juga di sektor komunikasi sosial terdapat matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenaran yang berkaitan dengan pribadi manusia. Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari diri dari pengawasan masyarakat maka ia tidak lagi menghiraukan sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap pilihan putusan manusia dan secara definitif menentukan kebebasan dan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang hakikih bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan menghormati martabat manusia secara utuh. Banyak orang berpikir bahwa dalam hal ini, dibutuhkan suatu ’info-etika’ sama halnya bio-etika di bidang kedokteran dan di bidang riset ilmiah yang berkaitan dengan kehidupan. 

5. Media harus menghindarkan diri untuk menjadi juru bicara aliran materialisme ekonomi dan relativisme etika, bencana serius di zaman kita ini. Walaupun demikian ia dapat dan harus memberikan sumbangsihnya agar kebenaran tentang umat manusia dikenal, membelanya melawan segala yang berkeinginan mengabaikan dan memusnahkannya. Bahkan boleh dikatakan bahwa mencari dan menghadirkan kebenaran tentang manusia adalah panggilan terluhur komunikasi sosial. Dengan memanfaatkan berbagai cara yang dimiliki media untuk maksud dan tujuan seperti ini adalah suatu tugas yang mulia yang pada tempat pertama dipercayakan kepada penanggungjawab dan operator di bidang ini. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu, menyangkut kita semua di zaman globalisasi seperti sekarang, semua kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial. Media baru – secara istimewa telekomunikasi dan internet- sedang mengubah wajah komunikasi; dan barangkali ini merupakan peluang emas untuk mendisain, menjadikan wajah komunikasi menjadi lebih tampak yang oleh Pendahulu Saya Yohanes Paulus II, dianggap sebagai unsur-unsur kebenaran hakiki dan tak tergantikan dari pribadi manusia (bdk. Surat Gemba Perkembangan yang Cepat, 10). 

6. Manusia merasa haus akan kebenaran, ia mencari kebenaran; hal ini terbukti melalui minat dan kesuksesan yang dicapai sekian banyak penerbitan, program-program atau film-film bermutu dimana kebenaran, keindahan dan keluhuran manusia termasuk matra keimanan manusia diakui dan ditampilkan secara baik. Yesus mengatakan: ”Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Kebenaran yang memerdekan kita adalah Kristus, karena hanya Ia sendirilah yang dapat memberikan jawaban yang penuh terhadap kehausan akan hidup dan akan kasih yang ada dalam hati manusia. Barangsiapa yang telah menemukan Dia dan dengan senang hati menerima pewartaanNya, ia berkeinginan untuk membagikan dan mengkomunikasikan kebenaran itu. Santu Yohanes menandaskan: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup . . .itulah yang kami wartakan kepada kamu, agar kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-NyaYesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yoh 1:1-4). 

Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar selalu ada para komunikator yang berani dan saksi-saksi kebenaran yang sejati, percaya akan mandat Kristus dan memiliki minat yang besar terhadap warta iman, para komunikator yang ”tahu menerjemahkan kebutuhan budaya modern, memiliki komitmen untuk menghidupi abad komunikasi tanpa merasa asing dan ragu-ragu tetapi sebagi suatu periode berharga untuk mencari kebenaran serta memajukan persekutuan di antara umat manusia dan di antara bangsa-bangsa”

Dengan tulus hati, Saya menyampaikan berkatku kepada kamu sekalian.

6. Kesimpulan dan Penutup

Berkaitan dengan problematika seputar media massa dan pengaruhnya terhadap hidup berkeluarga kita perlu terus-menerus mencari dan mengupayakan upayakan dengan pelbagai macam cara, supaya buah-buah kebaikan, syukur dan penyadaran akan nilai-nilai kehidupan selalu kita sadari dan upayakan. Sayang apabila pelbagai pengalaman dan kebersamaan dalam keluarga berlalu begitu saja. Amat disayangkan juga kalau pelbagai sarana media yang kita miliki dan kita gunakan, tidak membawa kita kepada kemerdekaan hidup, namun justru membelenggu kita. Mari kita berbenah dan bersikap dalam penggunaan media. Dalam hal ini keluarga, Gereja dan masyarakat memiliki peran yang sangat menentukan. 

Mencermati akan hal ini lebih mendalam, kiranya sudah sewajarnyalah, kita perlu menghimbau kepada mereka yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemberitaan dan siaran di media massa di tanah air tercinta ini. Sisihkanlah barang sedikit keuntungan yang diperoleh untuk juga berpartisipasi dalam upaya pemerintah , membangun bangsa ini. Membangun karakter bangsa, terutama sekali membangun karakter para generasi muda bangsa, yang akan menghadapi lebih banyak lagi tantangan yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tantangan yang banyak berkait dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang tidak akan mungkin dapat dibendung tanpa ketahanan diri dan ketahanan bangsa yang berlandaskan pada karakter dan kepribadian yang kuat. Salah satunya adalah menghadapi pengaruh media massa yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam pembentukan jiwa anak bangsa. Semoga.