Jumat, 18 April 2014

RENUNGAN PASKAH: Bangkit di Tengah Keterpurukan (H Datus Lega)

PERISTIWA Paskah alias kebangkitan Yesus dari Nazareth, yang dirayakan umat Kristiani pada Minggu, 20 April, dapat merefleksikan kebangkitan kita sebagai bangsa Indonesia.
Sekurangnya ada dua perspektif yang mengemuka. Pertama, dari sudut pandang paradigma baru kebudayaan. Peristiwa kebangkitan Yesus adalah kebangkitan manusia akan keluhuran martabat hidupnya. Hidup yang sebenarnya tidak berujung pada kematian fisik, tetapi sesungguhnya kekal abadi bersama Sang Khalik!

Kematian biologis semestinya dipandang hanya sebagai sarana untuk memperoleh kembali hidup yang abadi. Hidup bukan lagi "seakan-akan" luhur dalam kesejatiannya, melainkan memang "benar-benar" bermartabat dalam makna kerohaniannya.

 Kedua, dari perspektif perilaku keseharian manusia. Kebangkitan itu mengukir pesan teramat indah, yaitu yang selamanya harus menang hanyalah cinta dan kasih sayang!
Tiada lagi tempat bagi kedengkian dan dendam kesumat karena gelombang cinta yang dipancarluaskan dalam peristiwa Paskah bukan hanya menghalau kegelapan dosa, melainkan juga maut! Maka, lahirlah budaya baru: kasih sayang untuk melakukan kebaikan demi kebaikan!

Metahistoris 
Mencermati penuturan para penginjil, otentisitas peristiwa kebangkitan tidaklah terlalu dipentingkan sesuai fakta kejadiannya. Peristiwa itu harus juga dipandang sebagai "visualisasi pengalaman batin" sehingga bersifat metahistoris, artinya "lebih daripada sekadar catatan sejarah".

 A Heuken SJ menerangkan dalam Ensiklopedi Gereja (2005), peristiwa kebangkitan Yesus tidak disaksikan orang dan memang tidak mungkin disaksikan karena merupakan pengalihan dari dunia fana ke alam akhirat yang tidak terbuka pada pancaindra. Heuken mencatat, "Yang dialami dan disaksikan banyak orang secara sendiri-sendiri maupun bersama selama beberapa waktu adalah: Yesus yang sudah wafat masih mengerjakan sesuatu di dunia yang dialami dan disaksikan. Hal-hal seperti ini hanya mungkin, jika Yesus hidup lagi" (Ensiklopedi Gereja jilid 6, halaman 107).  Sekali  lagi, ciri metahistoris dan visualisasi pengalaman rohani perlu dalam mencermati peristiwa kebangkitan.

Tidaklah mengherankan bahwa peristiwa itu kemudian dipahami sebagai peristiwa iman. Mereka yang mengalami (dan merasakan) penampakan Yesus tidak bisa lain kecuali percaya bahwa Yesus sungguh bangkit! Menurut Heuken, "bukan iman 'menghasilkan' kebangkitan, melainkan  'Yang-telah-bangkit' menumbuhkan iman".

Iman bukan hanya wacana. Apalah artinya iman tanpa perbuatan. Memang beriman selalu aktual, lantaran harus diuji dalam tindakan-tindakan nyata. Sama seperti cinta dan kebaikan tidak bisa ditebar dalam kata- kata kosong nan gombal, beriman pun seharusnya mewujud dalam bentuk-bentuk konkret.

Beriman dengan sendirinya tidak membutuhkan slogan dalam ruang kampanye dengan janji-janji palsu. Iklan kampanye tentu saja bukan pesan iman sehingga sebuah baliho raksasa dengan kalimat "kami memberi bukti, bukan janji' telah dipelesetkan menjadi "kami memberi bukti korupsi, bukan lagi janji".

Mewujudkan iman
 Sungguh tidak mudah mewujudnyatakan pesona iman dalam tindak tanduk terpuji bahwa hanya kebaikanlah yang harus menang dan hanya kebaikan yang mampu mengalahkan kejahatan. Dalam zaman serba complicated dan instant, dengan aneka rupa vested interest, sebagai anak- anak sebuah bangsa, kita tertantang untuk memilih "bangkit" menjadi yang terbaik bagi sesama. Bangkit dalam konotasi "hidup" demi kebaikan sesama. Sudah amat kasatmata bahwa bangsa kita membutuhkan kebangkitan untuk memperbaiki keadaan dalam rasa ada-bersama sebagai makhluk bermartabat.

 Tidak perlu dibentangkan panjang lebar, semua menyadari bahwa ada seribu satu alasan untuk membangkitkan diri dari keterpurukan.  Dalam sosialisasi pemilu legislatif yang baru berlalu, ketika ajakan memilih didengungkan, selalu terdengar refrain "jadilah pemilih cerdas untuk pemilu berkualitas". Namun, kenyataannya adalah belenggu "serangan fajar" dalam money politics yang membodohkan para pemilih emosional.

Visi Indonesia Baru untuk membangun bangsa ini jelas menuntut manusia Indonesia bekerja dengan keunggulan karakter: berdisiplin dan berketerampilan. Namun, kita menyaksikan berita korupsi dan penyalahgunaan wewenang kekuasaan yang seakan tiada habisnya.

Kawula muda negeri ini hampir selalu dicekoki semboyan "kita ini bangsa yang besar" yang sudah tentu melandaskan diri pada peradaban terpuji, dengan tingkat kepekaan sosial yang menjamin hubungan harmonis, dalam jejak perilaku para pemimpin yang dapat diandalkan.

Namun, tengoklah, biar barang sejenak, janji-janji pemilu bukan hanya mengambang, melainkan juga hanya riuh gemuruh yang hilang bersama angin! Apakah cita-cita bangsa ini harus terkubur? Apakah mimpi- mimpi Indonesia Baru harus hilang ditelan bumi?

 Jawabannya tegas: tidak! Tampaknya kita tak pantas berputus asa meski kenyataan hidup tidak sesuai dengan apa yang kita yakini. Selalu masih ada bukan hanya optimisme, melainkan juga harapan orang-orang beriman. Berdasarkan perspektif ini, yakinlah bahwa manusia yang memiliki harapan mesti masih bisa melihat secercah terang di dalam kegelapan.

Lantaran ada seribu satu alasan untuk bangkit dari keterpurukan, barangkali kita perlu juga meyakinkan diri bahwa ada "lebih dari seribu satu" alasan untuk terus berharap akan hadirnya perubahan dan perbaikan dalam hidup berbangsa. Salah satunya terinspirasi dari peristiwa Paskah sebagai kemenangan kehidupan atas kematian.

Manusia Indonesia semestinya tidak melihat kemalangan dan keterpurukan bangsa ini sebagai malapetaka belaka, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk perwujudan kasih sayang antar-sesama.

 Kasih sayang inilah wujud budaya baru dari manusia Indonesia untuk mengembangkan kebaikan lawan kejahatan. Inilah budaya terang melawan kegelapan. Inilah pula akhirnya keluhuran budaya kehidupan melawan kematian.

H Datus Lega, Uskup Manokwari-Sorong sejak 2003; Tinggal di Sorong, Papua

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006082527
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar