Senin, 03 Februari 2014

Penyuluh D.I.Yogyakarta Mengembangkan Kepenyuluhan yang Visioner

Oleh: Yohanes Setiyanto, S.S.[1]
NIP 150 329 888 /  19710314 20030112 00 2

A.      Landasan Berpikir
1)  Hakekat Penyuluh Agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Maka, tugas pokoknya adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan dalam bahasa agama (bdk. SK Menpan No. 54/KEP/MK.WASPAN/9/1999).

2)  Dalam konteks kepenyuluhan agama Katolik, ada ciri khas yang perlu dipahami dengan baik, berkaitan dengan sifat kelembagaan negara dan kelembagaan Gereja. Karena masing-masing mempunyai otonomi dan dasar pijakan yang berbeda, pemahaman mengenai kelembagaan keduanya menghasilkan dwifungsi kepenyuluhan. Di satu sisi, sebagai PNS, penyuluh mengemban tugas mewujudkan amanat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu ”...membentuk suatu Pemerintahan Indonesia...untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa....” Dengan rumusan ini, pemerintah mengemban amanat luhur. Maka, untuk mewujudkan amanat tersebut, ”pemerintah dengan segala upaya membangun Sumber Daya Manusia Indonesia atau rakyat Indonesia dengan melakukan program pemberdayaan secara holistik-menyeluruh” (bdk. Sambutan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI, dalam setiap penerbitan buku). Di lain sisi, sebagai warga Gereja, penyuluh agama katolik mengemban tugas mewujudkan Kerajaan Allah dan menghadirkan Gereja di tengah perjalanan bangsa. Dari perbedaan keadaan ini, sering menelorkan pemahaman yang bermacam-macam. Satu dua pandangan dapat disebut: ketika seorang penyuluh melakukan kegiatan di Gereja, orang dapat berkomentar sebagai aktivis gereja semata dan bukan melakukan tugas negara. Sementara itu, tugas yang dilakukan adalah membina dan membimbing umat katolik.

3)  Agar fungsi kepenyuluhan dapat berjalan dengan baik, penyuluh harus memahami dua kutub ini. Dengan demikian, melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan diperlukan strategi yang jitu, baik menyangkut pelaksanaan dalam struktur organisasi maupun materi yang akan disampaikan untuk bimbingan dan penyuluhan.

B.      Penyuluh Agama Katolik
1)   Tugas Pokok Penyuluh
Tugas pokok Penyuluh adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan. Tugasnya tidak hanya melakukan penyuluhan melainkan juga mengembangkan profesi kepenyuluhan agar makin matang dan bermutu. Namun untuk dapat melaksanakan kegiatan dan pengembangan kegiatan bimbingan dan penyuluhan, seorang penyuluh harus melakukan proses berpikir dan mengadakan tata administrasi. Tugas itu harus dimulai dengan persiapan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengembangan. Masing-masingnya mempunyai pokok-pokok yang harus dilalui agar proses kegiatan bimbingan dan penyuluhan berjalan dengan baik.

2)   Arah kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama Katolik
 Arah kegiatan bimbingan dan penyuluhan harus ditempatkan dalam kerangka arah pembangunan Bimas Katolik. Pada hemat saya, ada dua hal yang harus diperjuangkan oleh Bimas Katolik.  Pertama, mewujudkan signifikansi Internal. Artinya Bimas Katolik harus mempunyai dan menunjukkan kekuatan yang memadai dan ciri khasnya sebagai korps Bimas Katolik. Kedua, relevansi Eksternal. Artinya, Bimas Katolik menegaskan diri, dengan mewujudkan tugas pokok dan fungsi, demi pembangunan kehidupan keagamaan yang makin mendalam dan toleran.
Dalam konteks kepenyuluhan, melakukan dan mengembangkan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan  berarti harus memahami arah kegiatan bimbingan yang antara lain berisi:            
¨      membangun mental, moral dan iman umat katolik
¨      mendorong peningkatan keterlibatan umat dalam berbagai bidang kehidupan.
¨      mendorong peningkatan pembangunan bangsa dengan berinspirasi pada ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang dianut.

3)   Fungsi yang dijalankan
Arah kegiatan bimbingan atau penyuluhan akan menjadi nyata dan terarah bila penyuluh memahami aspek-aspek penyuluhan. Fakta di lapangan, penyuluh itu mempunyai fungsi:
1.  Pemberi Informasi. Penyuluh memberikan informasi yang benar mengenai kebenaran-kebenaran iman dalam Gereja kepada umat katolik. Ia tidak hanya memberikan informasi yang benar melainkan juga ikut menjaga kebenaran iman.
2.  Edukatif. Tugas penyuluh adalah  membina umat / kelompok sasaran agar hidup imannya makin tumbuh subur dalam kebersamaan dan kesatuan dengan seluruh Gereja dan negara. Dalam hal ini, cita-cita Ditjen Bimas Katolik menjadi 100% katolik dan 100% pancasilais mendapatkan wujudnya.
3.   Konsultatif. Penyuluh menyediakan diri untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi umat, masyarakat demi tercapainya tujuan bersama. Di dalamnya, fungsi konsultatif juga mempunyai arti berani dan mau mendengarkan persoalan umat. Sikap belarasa dan sepenanggungan menjadi modal utama dalam mengembangkan diri menjadi manusia yang baik dan mandiri.
4.  Advokatif. Penyuluh memiliki tanggung jawab secara moral dan sosial membela hak-hak dasar hidup manusia agar martabatnya makin terjamin. Tanggung jawab bersama/sosial untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat yang makin bermartabat. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kerjasama dengan semua pihak dan melibatkan diri secara riil dalm kehidupan bersama.

C.      Konteks / Daerah Kerja
1)      Umum
Untuk dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan, penyuluh harus mengenal dengan benar konteks dan kondisi yang dilayani. Hal-hal yang harus dipahami antara lain: jati diri umat katolik; pola pikir, budaya dan masyarakat sekitar; serta cita-cita hidup. Untuk dapat memahami dengan baik apa dialami, dibutuhkan dan dicita-citakan, penyuluh harus mengadakan serangkaian proses:
1.   Mencari data dan situasi. Hasil akhirnya adalah realitas.
2.  Mengolah/analisa data dan situasi. Tujuannya adalah untuk menemukan fakta, potensi, serta keprihatinan yang signifikan dan relevan untuk ditanggapi agar terjadi pengembangan. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi dan klarifikasi data.
3.   Mengadakan refleksi mengenai kebutuhan sasaran dan menentukan sasaran yang akan dicapai. Yang dimaksud sasaran bukanlah pertama-tama orang atau kelompok orang melainkan masalah yang akan ditanggapi sebagai bentuk jawaban atas keprihatinan.
4.    Menentukan indikator keberhasilan dan target.
5.  Menentukan materi yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran.

2)     Ciri khas Propinsi DIY
1.  Merupakan miniaturnya Indonesia. Aneka suku bangsa, bahasa, budaya dan strata sosial ada di Yogyakarta. Sebutan sebagai kota pelajar memberikan warna yang besar bagi keadaan sosial budaya Yogyakarta.
2.  Secara religius, ada beberapa tempat ziarah seperti goa Maria (3), makam Romo, karya-karya romo Mangun, banyak tempat pendidikan seminari / biara. (peluang untuk membangun kerjasama dengan mereka).
3.  kerjasama dengan gereja (Keuskupan dan Kevikepan) berjalan dengan baik terutama dengan komisi-komisi. Penyuluh terlibat dalam komisi dan sekarang ada lahan baru pelatihan Dewan Paroki untuk membuat program kerja (penyuluh juga terlibat).

D.     Materi
Berdasarkan tugas pokok, arah penyuluhan dan konteks kehidupan beragama di DIY, penyuluh DIY merumuskan materi-materi pembinaan / penyuluhan. Pokok-pokok materi disesuaikan dengan keadaan dan kondisi masyarakat katolik di mana mereka berada. Masing-masing tempat mempunyai kekhasan masing-masing.
1.  Pola hidup masyarakat. Dengan berkembangnya arus globalisasi yang melanda semua bidang kehidupan dan segala lapisan masyarakat, materi kepenyuluhan tidak cukup menampilkan ajaran-ajaran melainkan perlu mengajak masyarakat agar makin cerdas menghadapi kenyataan riil. Misalnya, bagaimana umat katolik dapat ambil bagian secara maksimal dalam pemilihan pilkada atau pilihan-pilihan pemimpin lainnya, tanpa harus meninggalkan/ menanggalkan imannya. Ini membutuhkan refleksi yang mendalam.
2.  Kelompok sasaran. Setiap penyuluh pasti mempunyai kelompok sasaran yang bervariasi. Masing-masing kelompok tidak dapat disamakan begitu saja karena mereka mempunyai jati diri, pola hidup dan pola pikir yang berbeda. Idealnya, setiap kelompok sasaran mendapatkan bimbingan atau penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan.
3.   Gerak Gereja / Keuskupan
Setiap Keuskupan mempunyai cita-cita yang berbeda meskipun kesemuanya mengarah pada pembangunan / hadirnya Kerajaan Allah di dunia dan peningkatan kualitas hidup beriman. Pada hemat saya, penyuluh juga harus memahami apa yang menjadi perjuangan Gereja setempat agar kegiatan kepenyuluhan makin berdaya guna.

Untuk itulah, materi kepenyuluhan secara garis besar meliputi:
1.    Pokok-pokok iman
2.    Ajaran moral Kristiani
3.    Ajaran-ajaran sosial Gereja
4.    Pembangunan berbangsa
5.   Tanggapan-tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat. Wujudnya adalah refleksi kehidupan masa kini berdasarkan ajaran iman katolik

E.      Pengalaman menyusun Materi
1)   Selama menjadi penyuluh agama katolik, saya membedakan dua jenis materi. Pertama, materi yang diberikan pada kelompok binaan tetap. Kedua, materi yang diberikan pada pertemuan-pertemuan aksidental (1 atau 2 kali pertemuan).

2)  Materi untuk kelompok binaan tetap membutuhkan pemikiran yang mendalam dan dirancang secara berkelanjutan. Untuk menyusun materi jenis ini dibutuhkan data, fakta, visi dan misi bagi kelompok sasaran yang bersangkutan.  Meskipun demikian, saya sangat terbantu dengan arah yang telah dicanangkan oleh Keuskupan. Tiap tahun Keuskupan Agung Semarang mengeluarkan buku panduan (nota pastoral atau buku pendalaman nota pastoral) sehingga mempermudah dalam pembinaan. Bahkan, penyuluh DIY juga dilibatkan dalam penyusunan buku panduan yang dikeluarkan oleh Keuskupan. Selain itu, saya juga menggunakan kalender liturgi. Meskipun demikian, ada juga kelompok sasaran yang tidak dapat begitu saja diberikan materi yang tersedia. Misalnya, kelompok narapidana. Mereka mempunyai persoalan khusus. Maka materi yang diberikan juga harus disesuaikan dengan keadaan mereka.

3)  Untuk pembinaan aksidental, saya menyesuaikan dengan permintaan kelompok baik mengenai tema maupun metode pembinaan. Untuk memaksimalkan pembinaan, biasanya saya mengadakan rapat dan diskusi dengan penyelenggara untuk mendapatkan pokok-pokok keprihatinan dan materi yang mereka kehendaki.



F.      Contoh Materi Yang pernah diberikan
1)      Masyarakat umum. Isi materi diselaraskan dengan kalender liturgi atau kesepakatan Gereja serta tema yang telah dicanangkan oleh Gereja.
  1.  Januari: Pekan Doa Sedunia
  2.  Februari – Maret: Prapaska
  3.  April: Paska
  4.  Mei: Bulan Katekese Liturgi (sesuai tema)
  5.  Juni: variasi / tema-tema aktual
  6.  Juli: variasi / tema-tema aktual
  7.  Agustus: Ajaran Sosial Gereja (sesuai tema)
  8. September: Bulan Kitab Suci Nasional (sesuai tema)
  9. Oktober: Penghormatan kepada Maria
  10. Nopember: Katekese mengenai Api Pencucian dan Adven
  11. Desember:: Natal


2)     Materi untuk kelompok Napi / Tahanan:
1.  Memahami persoalan yang dihadapi dan merefleksikannya dalam terang Injil
2.  Kedosaan Manusia
3.  Allah yang mahabaik, pemurah dan penyelenggara kehidupan
4.  Latihan Rohani Santo Ignatius terutama mengenai sikap lepas bebas dan memahami gerak Roh dalam diri manusia
5.   Mempersiapkan diri terjun ke masyarakat lagi (pulang kampung)

3)     Kelompok Remaja
1.   Jati diri pribadi dan kristiani
2.   Paham-paham mengenai perwujudan dan pengungkapan iman
3.   Character building
4.  Mempersiapkan masa depan (membuat visi, langkah konkret untuk meningkatkan mutu pribadi).
4)     Metode yang dipakai:
1.  Dialog
2.  Refleksi bersama
3.  Merancang aksi bersama
4.  Ibadat
5. Konsultasi yang berkelanjutan dengan kelompok sasaran untuk mengembangkan penyuluhan yang berdaya guna dan bermutu.

G.     Kendala
  1. Forum pokjaluh belum berjalan dengan baik sehingga kecenderungan masih bekerja sendiri-sendiri. Hanya untuk tema-tema yang sudah dicanangkan oleh Keuskupan, sering diadakan diskusi.
  2. Terbatasnya fasilitas terutama komputer dan LCD. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, pembinaan dengan menggunakan hasil kemajuan teknologi sangat membantu. Selain itu, panduan baku dari pusat juga sangat sedikit.
  3. Forum pokjaluh dalam bekerja juga membutuhkan dana namun hingga sekarang belum ada posnya.
  4. DIY mempunyai 8 penyuluh namum tidak mempunyai Tim penilai dari pihak penyuluh sehingga ada kemungkinan angka kredit yang diusulkan tidak dinilai secara akurat atau benar.


H.         Beberapa Gagasan
  1. Kiranya sudah saatnya, Bimas Pusat mengembangkan kerjasama penyuluhan lintas propinsi.
  2. Mngembangkan budaya tulis nulis dan hoby penyuluh sebagai media untuk membangun kerjasama dengan yang lain.
  3. Mitra kerja dengan keuskupan, mengembangkan program penulisan mengenai kepenyuluhan secara bersama, DIY bersedia memberikan materi pada pertemuan penyuluh nasional untuk berbagi pengalaman.

Yogyakarta 14 April 2010



[1] Penyuluh Ahli Pertama di Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi DIY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar